Dear Inisial
IM..
Terima kasih
pernah datang, memberi harapan, lalu pergi. Terima kasih sudah menggoreskan
sedikit luka di hatiku. Dan terima kasih telah memberiku pengalaman baru.
Kamu datang
di saat yang tepat, saat aku terluka dengan orang di masa laluku, saat aku
merindukan seseorang yang selalu mengabaikanku. Awalnya aku memang tidak yakin,
bahkan tidak pernah yakin. Tapi kamu dengan kesabaranmu, perlahan membuatku
cair, perlahan mulai mengerti aku yang terluka karena masa laluku.
Perjalanan
belum kita mulai, tapi aku sudah mulai menumbuhkan harapan. Namun saat harapan
itu tumbuh, kamu berubah. Memasuki minggu kelima perkenalan kita, aku merasakan
kamu sangat berbeda. Aku yang sudah mulai yakin merasakan ragu. Dan tibalah
hari itu, dengan alasan kamu tak ingin membuatku sakit lagi kamu memintaku
untuk menjauhimu. Dengan sangat yakin aku mengiyakannya.
Perdebatan
demi perdebatan, dan argumen demi argumen bermunculan, kau memang sangat pandai
dalam hal bersilat lidah. Ku kira alasan yang kau berikan memang benar adanya,
ternyata dugaan awal ku benar. Yang berinisial M yang kamu maksud bukan aku,
melainkan wanita lain. Saat aku tau, aku hanya tertawa. Bagiku hal semacam ini
sudah biasa, walaupun ini pertama kalinya aku gagal jadian karena orang ketiga.
Aku Cuma mau
bilang, jangankan kamu yang baru dekat sebulan, aku yang udah pacaran dua tahun
bisa move on. Bagiku satu bulan hanya setetes air dalam gelas. Melihatmu
memakai Display Picture pake foto dia aku biasa aja. Jadi biasakan dirimu ya,
aku orangnya santai kok. Dari awal aku juga tidak terlalu berharap lebih.
Terima kasih saja sudah pernah menumpang dalam hidupku.
:)))
BalasHapus