semua berlalu tanpa ada yang tersisa sedikit pun. kau pergi dengan semua asa yang pernah aku miliki dulu. tak ada lagi kehangatan rindu yang dulu aku rasakan dari ucapan mu. tapi ya sudah lah. sudah ku ikhlas kan kau pergi bersama siapa pun.
ku mohon jaga hatinya, jangan buat ia menangis sama seperti aku menangisi kepergian mu. jangan buat dia pergi meninggalkan mu. buatlah ia nyaman saat berada di sisi mu.
ku yakin semua akan baik-baik saja dan kembali normal seperti kita belum mengenal cinta kita.
Karena apa yang kita miliki jauh lebih indah dari apa yang kita inginkan. Tuhan itu Maha Adil
Senin, 22 September 2014
di balik amplop berwarna peach ( tugas cerpen bahasa indonesia)
Di Balik Amplop Berwarna Peach
Kumandang adzan telah berbunyi, ku buka mata dan bersiap
wudhu. Lalu setelah itu ku lanjutkan sholat subuh. Hal pertama yang ku lakukan
setelah sholat subuh adalah mengecek HP ( handphone ) dan membuka twitter. Itu kebiasaan
ku dari dulu, walaupun aku tau gak mungkin ada pesan spesial, tapi siapa tau
aja hari itu ada. Dan ternyata benar. Gak ada pesan spesial, kecuali pesan dari
Avril sahabat dekat ku yang bertanya tentang PR. Hah, gumamku dalam hati.
Aku termasuk orang yang supel dalam pergaulan, tapi gak suka
komunitas, apalagi komunitas-komunitas alay. Hari paling melesin sedunia, yaitu hari senin. Hampir semua pelajar gak suka
hari ini, terutama yang seperti aku ini, yang gak pinter dan gak bodo-bodo amat. Pagi itu di mulai dengan upacara,
kemudian di lanjutkan pelajar paling istimewa sedunia, yaitu fisika.
“ hah! Panas, abis ini sarapan fisika lagi” keluhku pada
Avril.
“ bener, malesin
banget “ jawab Avril sekenanya.
Hari senin pelajaran fisika 3 jam, gak ke bayang kan seberapa
mumet otak kami. Aku dan Avril punya cara sendiri-sendiri kalo lagi bosen
belajar dan kebetulan hari itu mood ku sedang gak bagus alias badmood. Kalo si
Avril lagi bosen dia suka ngelamun sendiri kayak orang pinter yang ngerti apa
yang di jelaskan gurunya, padahal pikirannya entah kemana. Kalo aku sukanya
gambar, tapi hari itu lagi males ngapa-ngapain, jadi aku bengong ngeliat keluar
jendela karena kami duduknya di pojok di samping jendela.
Lama ku lihat di jendela, ada seseorang yang membuatku
terpesona. Dia ganteng, berkumis tipis, seperti Dimas Beck. Ku lihat dia sangat
pandai bermain bola. Fix, aku suka dia pada pandangan pertama. Ini udah kayak
judul sinetron-sinetron jaman sekarang. Tapi 3 tahun aku sekolah di SMA ini,
rasanya baru pertama kali aku melihat dia. Dengan rasa penasaran, aku
memperhatikan dia hampir setengah jam pelajaran fisika.
“ Hey! Ngeliat siapa lo? “ kejut Avril yang heran melihatku
senyum-senyum sendiri.
“ eh, yang itu siapa namanya? “ ku arahkan telunjukku ke arah
laki-laki itu.
“ yang mana? “ tanyanya.
“ itu, yang nomor punggung 22 tu. Liat gak? “ kali ini aku
gak nunjuk, Cuma monyong-moyong doang.
“ oh itu, kalo gak salah namanya Dimas Anugerah.” Jawab Avril
dengan muka yang berusaha mengingat sesuatu.
“ masak sih namanya Dimas. Udah mukanya kayak Dimas Beck,
namanya juga Dimas. Keren keren. “
“ kenapa lo? Suka? “ tanyanya kepo.
Aku hanya senyum-senyum sendiri dan gak menghiraukan
pertanyaan Avril. Avril juga pasti sudah tau jawabannya. Sejak itu aku berusaha
mencari tau tentang si Dimas Anugerah itu. Dan ternyata hasilnya dia adalah
adik kelas ku di kelas sebelah. Hah! Aku terkejut. Ternyata kita tetanggaan,
kok aku gak tau ya? Pikirku dalam hati.
Gak terasa udah 4 hari aku suka sama dia, dan 4 hari juga aku
gak pernah liat dia nyantai depan kelas apalagi lewat depan kelas ku.
“ Ri, emang bener ya Dimas Anugerah sekelas sama lo?” tanya
ku pada Ari cowok tetangga sebelah, yang sekelas sama dia.
“ iya, emang kenapa? “ tanya Ari pada ku.
“ kok gue gak pernah liat dia nyantai depan kelas atau ke
kantin gitu.” Aku terus kepo dengan Ari.
“ emang gak pernah, anaknya pendiem, jarang keluar, paling
kalo keluar ke toilet atau ke kantor di suruh guru. “
“ oh gitu ya. Makasih ya Ri, gue cabut dulu.” Jawabku pada
Ari dan langsung pergi ke kelas.
Rrreett...rrreet...
HP ku bergetar, tapi aku lagi sibuk ngerjain PR karena malam
itu tugasku lagi numppuk banget jadinya gak sempet buka hape. Sampai hampir jam
1 malam aku baru selesai mengerjakan PR, lalu tertidur dan gak sempet buka HP. Lagi
pula itu pasti dari Avril yang mau nanya tentang PR.
Jam 4.20 aku bangun sholat subuh, dan seperti biasa setelah
sholat aku mengecek hp ku. Ternyata ada pesan masuk. Isinya kayak gini “ ini
nomer hapenya kak Delina Putri kan? “. Pesannya gak langsung aku bales.
Palingan itu dari adik kelas yang mau nanya tentang ekskul musik, kan aku
seniornya di ekskul musik. Saking ngantuknya karena ngerjain tugas sampai
tengah malam, aku pun tertidur lagi sampai jam 6.20.
Jam 6.20 aku bergegas bangun langsung mandi, tanpa sarapan
langsung pergi sekolah dan aku terlambat. Aku di hukum di suruh nyapu halaman
basket. Sambil nyapu aku sambil nyanyi biar gak terlalu stress. Ternyata di
belakangku ada Dimas. Waw. Aku exited banget. Yeeyy! Teriak ku dalam hati.
Hampir 15 menit nyapu berdua di lapangan dan diem-dieman, akhirnya dengan
berani aku menegurnya.
“ hey!” sapaku pada dimas yang sedang menyapu di dekatku.
“ iya? “ jawabnya singkat.
“ he... gak ada apa-apa kok.” Aku sambil cengar cengir.
“ oh.” Jawabnya dengan memalingkan mukanya.
Hah! Gitu doang! Gumamku dalam hati. Ku lanjutkan lagi
menyapu halaman sampai selesai. Ternyata emang secuek itu orangnya. Tapi wajar
aja sih, dia ganteng jadi kalo dia cuek gak ada masalah.
Malam berikutnya aku gak lagi sibuk ngerjain apa-apa. Pas aku
lagi ngegambar di kamar, hp ku berbunyi, kali ini telpon bukan sms.
“ halo? Assalammualaikum. “ jawabku
“ waalaikumsalam, ini kak Delina Putri kan?” tanya seorang
laki-laki di seberang sana.
“ iya, ini siapa ya? “ jawabku sekenanya.
“ oh, lewat sms aja ya aku bilangnya. Tuutt..tuuut... “
telponnya mati.
Aneh. Pikirku dalam hati.
Rreeet... rrreeet... hp ku bergetar. Aku tau ini pasti orang
tadi. Langsung ku buka pesan itu. Dan waw! Ini ternyata Dimas Anugerah. Aku
terkejut banget. Darimana dia dapat nomor hape ku, dan ini nomor yang semalam
sms aku yang smsnya gak aku bales.
Langsung ku bales smsnya. Sejak saat itu kami pun sms berkelanjutan
sampai berhari-hari berminggu-minggu. Yang dulunya hape di simpen dalam laci
sekarang hape udah jadi barang paling penting dan selalu ada di dalam saku.
Sampai sudah lebih dari 2 bulan kami saling kenal, tak ada
tanda-tanda bahwa Dimas akan menyatakan cintanya untukku. Dimas itu laki-laki
yang perhatian, pinter olahraga, soleh lagi, tapi dia belum pernah pacaran satu
kali pun. Dan aku adalah cewek yang pertama dia deketin, kalo yg deketin dia
mah banyak tapi gak pernah di respon.
Sampai satu malam, aku masih ingat yaitu malam senin di
minggu ketiga bulan maret. Dia mengungkapkan semua perasaannya padaku. Dia
datang ke rumahku, dengan alasan mau minjem buku. Di depan rumah kami bercanda
bersama, melepas tegang karena ketika di sekolah dia gak mau menegurku
alasannya malu di liat banyak orang. Aku mengerti dia. Karena itu adalah
pilihannya.
“ Del, sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. “ dengan
tiba-tiba dia berkata seperti itu.
“ udah lama? Sejak kapan? “ tanyaku sambil mengejeknya.
“ sebenarnya sejak SMP, sejak pertama aku ketemu kamu waktu
MOS SMP dulu, sejak kamu nyuruh aku nyanyi di depan kamu biar dapet tanda
tangan kamu. “ ucapnya dengan nada serius.
“ hah! Selama itu? Emang kita satu SMP dulu? “ jawabku
terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan Dimas.
“ iya, bodoh banget kan aku? Selama itu aku mendam perasaan
sama kamu, dan gak berani ngungkapinnya. Dan aku rasa sekarang adalah saat yang
tepat untuk ngomong gitu. “
“ kamu gak salah kok. Mungkin karna aku yang gak peka sama
kamu. sampai-sampai baru sadar kalo kita satu SMP dan satu SMA lagi.” Aku
berusaha meyakinkan dia agar tak menyalahkan dirinya.
“ aku yang terlalu pengecut buat bilang ini ke kamu, padahal
aku sering curi-curi pandang ngeliatin kamu waktu kita sholat zuhur berjama’ah
di musola sekolah. Hehe.” Dia tersenyum menatapku.
“ ihh, ternyata kamu fans ku. “ aku mengejeknya, padahal
dalam hati aku pengen nangis dengar dia ngmong kayak gitu.
“ Del, seminggu lagi aku mau pergi ke Jogja. Aku pindah
sekolah disana, suratnya juga udah di urusin sama papa. Maaf ya baru bilang
sekarang.” Di mengusap kepalaku.
“ kamu mau pergi. ya udah pergi aja! Kenapa harus pamit ke aku?” ku jawab dengan
mata yang berbinar-binar menahan air mata dan memalingkan muka.
“ aku minta maaf ya baru bisa bilang sekarang. Kamu jangan
nagis ya, kalo aku gak nyuruh kamu solat kamu harus tetep solat dengan atau
tanpa adanya aku. Kamu harus janji. Nanti kalo aku udah sukses di sana aku
bakal datang lagi ke sini.” Dia pergi meninggalkanku.
Tanpa sadar air mataku jatuh berderai membasahi baju coklat
dan jilbab peach yang aku kenakan saat itu. Ku pikir malam itu adalah malam terindah
setelah dua bulan ku menunggunya mengungkapkan perasaan sayang itu. Ternyata
aku salah. Setelah malam itu aku menghindar dari dia, telponnya tak ku angkat,
sms nya tak kubalas. Aku kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Aku gak bisa
berbuat apa-apa selain mengikhlaskan kepindahannya.
Ada satu hal yang paling gak bisa aku lupain dari dia. Dia pernah
bilang kayak gini lewat surat bersampul peach.
“ del, aku sayang sama
kamu. ini cara terbaik untuk kita saling menjaga hati biar hati kita gak kotor.
Aku tau kamu pasti nunggu aku buat nembak kamu, aku bukannya gak mau pacaran
sama kamu. Tapi aku gak mau kita pacaran lalu putus terus diem-dieman kayak
dulu. Aku udah lama mendem perasaan sama kamu. dan aku janji akan menjaga
perasaan ini buat kamu. saat aku sukses nanti, aku akan datang ke rumah kamu
dan melamar kamu untuk jadi pendamping hidup aku. Aku sayang kamu Delina Putri.
“
Surat ini adalah saksi tumpahnya air mataku karna di tinggal
Dimas. Selama di tinggal Dimas aku berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi.
Sholat lima waktu ku jalani dengan baik, sekolah ku juga berjalan lancar. Aku
lulus SMA dengan nilai yang cukup memuaskan.
8 tahun berlalu semenjak kepergian Dimas dari kota
kelahiranku, aku menjadi jomblo terhormat seperti yang di ajarkan Dimas dulu
pada ku. Sekarang aku sukses menjadi sarjana pertanian dan tugas ku sekarang
adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Juga menunggu kabar dari Dimas yang
telah lama ku tunggu tapi tak kunjung datang.
“ Assalammualaikum..” terdengar suara seorang pria dari balik
pintu.
“ waalaikumsalam..” teriakku dan berjalan membukakan pintu.
Ku liat pria dengan rambut rapi memakai pakaian rapi berjas dan berdasi.
“ Delina Putri kan? “ tanyanya sambil tersenyum.
“ iya, anda siapa ya?” tanya ku lagi karena terheran-heran.
“ Saya Abdi Nugraha, saya datang mau mengantarkan surat, dan
mohon di baca ini suratnya.” Dia memberikan surat yang bersampulkan amplop
berwarna peach, warna kesukaan ku.
“ ini dari siapa? “ sambil membuka surat itu.
“ baca aja. “ Jawabnya
sambil tersenyum manis.
“ Delina Putri, nama
yang selalu aku ingat sampai mata ku terpejam, nafasku berhenti berhembus,
jantungku tak berdenyut lagi. Aku tau sekarang kamu udah sukses. Walaupun aku
jauh dari kamu, tapi aku selalu ngikutin tweet kamu, aku tau apa yang kamu
lakukan. Sebenarnya aku pergi bukan untuk pindah sekolah, tapi aku pergi
berobat ke singapur biar aku bisa sembuh dari penyakit leukemia yang aku derita
sejak SMP dan biar aku bisa jemput melihat kamu saat kamu sukses.
Tapi saat kamu baca
surat ini, aku pasti udah gak ada lagi di dunia ini. Aku gak bisa kuat melawan
penyakit leukemia yang sudah terlanjur menggerogoti ku. Orang yang mengantarkan
surat ini adalah orang yang pantas menggantikan aku untuk membimbingmu ke
Jalan-Nya, dia Adikku. Izinkan dia menyayangi kamu sama seperti aku menyayangi
kamu. buatlah dia seolah-olah aku. Nanti kita akan bertemu di Surga Delina
Putri. “
Surat kedua yang aku terima dengan ada bekas noda darah di
dalamya, setelah surat pertama yang membuatku menjatuhkan air mata. Surat kedua
kali ini bukan hanya membuatku menjatuhkan air mata, angin pun seakan berhenti
berhembus. Aku pingsan seketika itu juga. Semua ini terasa mimpi.
“ dimana aku? “
“ kamu di rumah sakit sayang, sudah jangan terlalu di
fikirkan ya. Kamu istirahat dulu.” Jawab mama ku yang terlihat khawatir.
“ ma, boleh tinggal kan aku sebentar dengan pria ini? “ pinta
ku pada mama, mama ku pun mengangguk lalu keluar.
“ kamu benar adiknya Dimas? “ mataku meneteskan air mata.
“ iya, saya Abdi Nugraha, adik kandung dari Dimas Anugerah.
Sejujurnya saya sudah tau ini sejak lama. Tapi Dimas menyuruh saya merahasiakan
ini semua agar kamu tidak sedih mendengar bahwa Dimas menderita leukemia.” Dia
menceritakan semua detil tentang Dimas dan kronologi mengapa Dimas pergi
meninggalkan ku.
Aku masih tak percaya bahwa Dimas benar-benar telah pergi
meninggalkan ku untuk selamanya. Aku merasa sangat terpukul mendengar kabar
yang sangat mengejutkan itu. Tapi aku harus kuat, ini adalah ujian untukku. Kan
ku kirimkan do’a untuknya disana agar tetap tenang berada di Sisi Allah SWT.
Aku mencoba melupakan Dimas dan menerima Abdi sebagai calon
imam ku. Tapi sayang aku gak bisa melupakan Dimas, namun aku harus tetap
menjalani hari-hari ku seperti biasa. Aku berusaha bangkit untuk yang kedua kalinya.
Aku akan berusaha menjadi makmum yang baik untuk Abdi, karena ini adalah
permintaan terakhir Dimas untuk kami berdua.
Setelah 3 bulan berlalu, Abdi datang ke rumah ku, melamarku
tepat pada tanggal tanggal 23 maret. Tanggal yang sama saat Dimas mengungkapkan
perasaannya padaku untuk yang pertama kalinya. Aku pun menerima lamaran itu,
perasaan bahagia bercampur haru dan duka yang mendalam bersatu padu dalam hati
ku. Andai yang datang malam itu adalah Dimas, mungkin aku akan jadi orang
paling bahagia di dunia.
Minggu, 07 September 2014
dear mantan terindah
Masih teringat
jelas di benakku, ingatan saat pertama
kali bertemu dengan mu. Ku akui saat-saat lucu itu tak dapat ku lupakan. Ku
jatuh di hadapan mu, dan ku lihat tawa indah mu untuk yang pertama kalinya.
Terasa sangat jelas ingatan itu, seperti baru terjadi kemarin. Tapi semua sudah
berlalu dan biarkan angin menghapusnya.
Ku tau kini hati
mu tlah ada yang memiliki. Satu pinta ku, jaga dia tan. Mungkin dia lebih
pantas. Jangan sakiti dia, jangan ulangi kesalahan mu yang telah menyia-nyiakan wanita yang
menyayangi mu. Semua orang pasti punya kekurangan masing-masing, aku tau banyak
kekurangan ku dan itu yang membuat mu jenuh.
Begitu juga dia tan, yang belum
kamu tau.
Kalau kamu mencari
wanita yang sempurna, pencarian mu itu sia-sia. Wanita sempurna itu Cuma ada di
dongeng-dongeng waktu aku kecil dulu
tan. Di dunia nyata gak ada wanita sempurna, gak akan pernah ada.
Jaga dia ya tan,
kamu kan pernah bilang, kalo jodoh kita akan di satukan lagi. Ngulang semunya
dari NOL.
teringat mantan
Banyak hal yang membuat ku kagum padamu. Hanya kamu yang
mampu membuat ku meneteskan air mana haru saat di dekat dengan mu. Cara mu
mendekati ku, cara mu menjaga ku, dan cara mu menatap ku itu terasa berbeda. Ku
tau, cinta itu masih ada, hanya kau tak ingin mengungkapkannya. Bukan karena
gengsi tapi itu lah caramu menjaga ku.
Kau berubah, menjadi tak seperti dulu. Yang selalu memberi ku
kabar setiap waktu. Tapi aku menghargai perubahanmu bahkan aku menyukai
perubahan itu. Karena aku yang menginginkan kau berubah, menjadi orang yang
rajin beribadah tanpa aku minta sekali pun. Ternyata kau mendengar ku, dan Tuhan
pun meridoi itu. Aku bersyukur hingga saat ini aku masih di beri kesempatan
dekat dengan mu. Walau terkadang aku mencari-cari keberadaan mu saat kau
menghilang tanpa ada kabar.
4 tahun kau memperjuangkan rasa mu untuk ku, namun mengapa
baru saat ini ku sadari kau lah yang terbaik. Dalam 4 tahun itu pula kau
menjaga perasaan itu, sekarang aku ingin ikut berjuang menjaga perasaan kita,
penantian kita hampir sampai. Ku harap kau adalah persinggahan terakhir hati ku
yang telah Allah titip kan, karena aku berharap dengan sungguh kau akan menjadi
pendamping ku.
Terima kasih ya Allah telah mengenalkan dia pada ku, telah
menjaga perasaannya untuk ku hingga saat ini. Ya Allah ku sayang dia, ku cinta
dia, jaga dia untuk masa depan ku. Jaga hati kami ya Allah, jadikan dia imam
untuk ku dan untuk keturunan ku kelak. Jika dia lebih baik dari ku, maka
baikkanlah aku ya Allah. Namun jika aku lebih baik darinya, jadikan ia yang
terbaik ya Allah.
Tak pernah sebelumnya ku temukan seorang laki-laki yang
menangis di hadapan ku, langsung di depan ku. Saat itu aku sadar kau memang
yang terbaik. Kau lah Anugerah. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur pada Mu
ya Allah.
1 kalimat istimewa dari mu, yang tak bisa ku lupakan. Ucapan
selamat tidur mu itu.
“ Da.... malam ca “ hanya itu, tapi bagi ku itu penuh makna.
Makna yang dalam, yang tak dapat orang lain simpulkan. Tanpa ada emoticon cium atau peluk. Mungkin
bagi mereka kata-kata itu adalah sesuatu hal yang biasa tak ada yang spesial,
tapi menurutku itu bukti bahwa kau sangat menjaga hati mu dan hati ku. Aku tau
itu.
Tuhan, jaga perasaan ku untuknya. Untuk dia yang selalu
menunggu ku walau terkadang aku menyakitinya. Jaga shalatnya, jaga hati nya dan
lindungi dia. Ku mohon.
Langganan:
Postingan (Atom)