Senin, 22 September 2014

di balik amplop berwarna peach ( tugas cerpen bahasa indonesia)


Di Balik Amplop Berwarna Peach

Kumandang adzan telah berbunyi, ku buka mata dan bersiap wudhu. Lalu setelah itu ku lanjutkan sholat subuh. Hal pertama yang ku lakukan setelah sholat subuh adalah mengecek HP ( handphone ) dan membuka twitter. Itu kebiasaan ku dari dulu, walaupun aku tau gak mungkin ada pesan spesial, tapi siapa tau aja hari itu ada. Dan ternyata benar. Gak ada pesan spesial, kecuali pesan dari Avril sahabat dekat ku yang bertanya tentang PR. Hah, gumamku dalam hati.
Aku termasuk orang yang supel dalam pergaulan, tapi gak suka komunitas, apalagi komunitas-komunitas alay. Hari paling melesin sedunia, yaitu hari senin. Hampir semua pelajar gak suka hari ini, terutama yang seperti aku ini, yang gak pinter dan gak bodo-bodo amat. Pagi itu di mulai dengan upacara, kemudian di lanjutkan pelajar paling istimewa sedunia, yaitu fisika.
“ hah! Panas, abis ini sarapan fisika lagi” keluhku pada Avril.
“ bener, malesin banget “ jawab Avril sekenanya.
Hari senin pelajaran fisika 3 jam, gak ke bayang kan seberapa mumet otak kami. Aku dan Avril punya cara sendiri-sendiri kalo lagi bosen belajar dan kebetulan hari itu mood ku sedang gak bagus alias badmood. Kalo si Avril lagi bosen dia suka ngelamun sendiri kayak orang pinter yang ngerti apa yang di jelaskan gurunya, padahal pikirannya entah kemana. Kalo aku sukanya gambar, tapi hari itu lagi males ngapa-ngapain, jadi aku bengong ngeliat keluar jendela karena kami duduknya di pojok di samping jendela.
Lama ku lihat di jendela, ada seseorang yang membuatku terpesona. Dia ganteng, berkumis tipis, seperti Dimas Beck. Ku lihat dia sangat pandai bermain bola. Fix, aku suka dia pada pandangan pertama. Ini udah kayak judul sinetron-sinetron jaman sekarang. Tapi 3 tahun aku sekolah di SMA ini, rasanya baru pertama kali aku melihat dia. Dengan rasa penasaran, aku memperhatikan dia hampir setengah jam pelajaran fisika.
“ Hey! Ngeliat siapa lo? “ kejut Avril yang heran melihatku senyum-senyum sendiri.
“ eh, yang itu siapa namanya? “ ku arahkan telunjukku ke arah laki-laki itu.
“ yang mana? “ tanyanya.
“ itu, yang nomor punggung 22 tu. Liat gak? “ kali ini aku gak nunjuk, Cuma monyong-moyong doang.
“ oh itu, kalo gak salah namanya Dimas Anugerah.” Jawab Avril dengan muka yang berusaha mengingat sesuatu.
“ masak sih namanya Dimas. Udah mukanya kayak Dimas Beck, namanya juga Dimas. Keren keren. “
“ kenapa lo? Suka? “ tanyanya kepo.
Aku hanya senyum-senyum sendiri dan gak menghiraukan pertanyaan Avril. Avril juga pasti sudah tau jawabannya. Sejak itu aku berusaha mencari tau tentang si Dimas Anugerah itu. Dan ternyata hasilnya dia adalah adik kelas ku di kelas sebelah. Hah! Aku terkejut. Ternyata kita tetanggaan, kok aku gak tau ya? Pikirku dalam hati.
Gak terasa udah 4 hari aku suka sama dia, dan 4 hari juga aku gak pernah liat dia nyantai depan kelas apalagi lewat depan kelas ku.
“ Ri, emang bener ya Dimas Anugerah sekelas sama lo?” tanya ku pada Ari cowok tetangga sebelah, yang sekelas sama dia.
“ iya, emang kenapa? “ tanya Ari  pada ku.
“ kok gue gak pernah liat dia nyantai depan kelas atau ke kantin gitu.” Aku terus kepo dengan Ari.
“ emang gak pernah, anaknya pendiem, jarang keluar, paling kalo keluar ke toilet atau ke kantor di suruh guru. “
“ oh gitu ya. Makasih ya Ri, gue cabut dulu.” Jawabku pada Ari dan langsung pergi ke kelas.
Rrreett...rrreet...
HP ku bergetar, tapi aku lagi sibuk ngerjain PR karena malam itu tugasku lagi numppuk banget jadinya gak sempet buka hape. Sampai hampir jam 1 malam aku baru selesai mengerjakan PR, lalu tertidur dan gak sempet buka HP. Lagi pula itu pasti dari Avril yang mau nanya tentang PR.
Jam 4.20 aku bangun sholat subuh, dan seperti biasa setelah sholat aku mengecek hp ku. Ternyata ada pesan masuk. Isinya kayak gini “ ini nomer hapenya kak Delina Putri kan? “. Pesannya gak langsung aku bales. Palingan itu dari adik kelas yang mau nanya tentang ekskul musik, kan aku seniornya di ekskul musik. Saking ngantuknya karena ngerjain tugas sampai tengah malam, aku pun tertidur lagi sampai jam 6.20.
Jam 6.20 aku bergegas bangun langsung mandi, tanpa sarapan langsung pergi sekolah dan aku terlambat. Aku di hukum di suruh nyapu halaman basket. Sambil nyapu aku sambil nyanyi biar gak terlalu stress. Ternyata di belakangku ada Dimas. Waw. Aku exited banget. Yeeyy! Teriak ku dalam hati. Hampir 15 menit nyapu berdua di lapangan dan diem-dieman, akhirnya dengan berani aku menegurnya.
“ hey!” sapaku pada dimas yang sedang menyapu di dekatku.
“ iya? “ jawabnya singkat.
“ he... gak ada apa-apa kok.” Aku sambil cengar cengir.
“ oh.” Jawabnya dengan memalingkan mukanya.
Hah! Gitu doang! Gumamku dalam hati. Ku lanjutkan lagi menyapu halaman sampai selesai. Ternyata emang secuek itu orangnya. Tapi wajar aja sih, dia ganteng jadi kalo dia cuek gak ada masalah.
Malam berikutnya aku gak lagi sibuk ngerjain apa-apa. Pas aku lagi ngegambar di kamar, hp ku berbunyi, kali ini telpon bukan sms.
“ halo? Assalammualaikum. “ jawabku
“ waalaikumsalam, ini kak Delina Putri kan?” tanya seorang laki-laki di seberang sana.
“ iya, ini siapa ya? “ jawabku sekenanya.
“ oh, lewat sms aja ya aku bilangnya. Tuutt..tuuut... “ telponnya mati.
Aneh. Pikirku dalam hati.
Rreeet... rrreeet... hp ku bergetar. Aku tau ini pasti orang tadi. Langsung ku buka pesan itu. Dan waw! Ini ternyata Dimas Anugerah. Aku terkejut banget. Darimana dia dapat nomor hape ku, dan ini nomor yang semalam sms aku yang smsnya gak aku bales.  Langsung ku bales smsnya. Sejak saat itu kami pun sms berkelanjutan sampai berhari-hari berminggu-minggu. Yang dulunya hape di simpen dalam laci sekarang hape udah jadi barang paling penting dan selalu ada di dalam saku.
Sampai sudah lebih dari 2 bulan kami saling kenal, tak ada tanda-tanda bahwa Dimas akan menyatakan cintanya untukku. Dimas itu laki-laki yang perhatian, pinter olahraga, soleh lagi, tapi dia belum pernah pacaran satu kali pun. Dan aku adalah cewek yang pertama dia deketin, kalo yg deketin dia mah banyak tapi gak pernah di respon.
Sampai satu malam, aku masih ingat yaitu malam senin di minggu ketiga bulan maret. Dia mengungkapkan semua perasaannya padaku. Dia datang ke rumahku, dengan alasan mau minjem buku. Di depan rumah kami bercanda bersama, melepas tegang karena ketika di sekolah dia gak mau menegurku alasannya malu di liat banyak orang. Aku mengerti dia. Karena itu adalah pilihannya.
“ Del, sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. “ dengan tiba-tiba dia berkata seperti itu.
“ udah lama? Sejak kapan? “ tanyaku sambil mengejeknya.
“ sebenarnya sejak SMP, sejak pertama aku ketemu kamu waktu MOS SMP dulu, sejak kamu nyuruh aku nyanyi di depan kamu biar dapet tanda tangan kamu. “ ucapnya dengan nada serius.
“ hah! Selama itu? Emang kita satu SMP dulu? “ jawabku terkejut dan terheran-heran mendengar ucapan Dimas.
“ iya, bodoh banget kan aku? Selama itu aku mendam perasaan sama kamu, dan gak berani ngungkapinnya. Dan aku rasa sekarang adalah saat yang tepat untuk ngomong gitu. “
“ kamu gak salah kok. Mungkin karna aku yang gak peka sama kamu. sampai-sampai baru sadar kalo kita satu SMP dan satu SMA lagi.” Aku berusaha meyakinkan dia agar tak menyalahkan dirinya.
“ aku yang terlalu pengecut buat bilang ini ke kamu, padahal aku sering curi-curi pandang ngeliatin kamu waktu kita sholat zuhur berjama’ah di musola sekolah. Hehe.” Dia tersenyum menatapku.
“ ihh, ternyata kamu fans ku. “ aku mengejeknya, padahal dalam hati aku pengen nangis dengar dia ngmong kayak gitu.
“ Del, seminggu lagi aku mau pergi ke Jogja. Aku pindah sekolah disana, suratnya juga udah di urusin sama papa. Maaf ya baru bilang sekarang.” Di mengusap kepalaku.
“ kamu mau pergi. ya udah pergi aja!  Kenapa harus pamit ke aku?” ku jawab dengan mata yang berbinar-binar menahan air mata dan memalingkan muka.
“ aku minta maaf ya baru bisa bilang sekarang. Kamu jangan nagis ya, kalo aku gak nyuruh kamu solat kamu harus tetep solat dengan atau tanpa adanya aku. Kamu harus janji. Nanti kalo aku udah sukses di sana aku bakal datang lagi ke sini.” Dia pergi meninggalkanku.
Tanpa sadar air mataku jatuh berderai membasahi baju coklat dan jilbab peach yang aku kenakan saat itu. Ku pikir malam itu adalah malam terindah setelah dua bulan ku menunggunya mengungkapkan perasaan sayang itu. Ternyata aku salah. Setelah malam itu aku menghindar dari dia, telponnya tak ku angkat, sms nya tak kubalas. Aku kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskan kepindahannya.
Ada satu hal yang paling gak bisa aku lupain dari dia. Dia pernah bilang kayak gini lewat surat bersampul peach.
del, aku sayang sama kamu. ini cara terbaik untuk kita saling menjaga hati biar hati kita gak kotor. Aku tau kamu pasti nunggu aku buat nembak kamu, aku bukannya gak mau pacaran sama kamu. Tapi aku gak mau kita pacaran lalu putus terus diem-dieman kayak dulu. Aku udah lama mendem perasaan sama kamu. dan aku janji akan menjaga perasaan ini buat kamu. saat aku sukses nanti, aku akan datang ke rumah kamu dan melamar kamu untuk jadi pendamping hidup aku. Aku sayang kamu Delina Putri. “
Surat ini adalah saksi tumpahnya air mataku karna di tinggal Dimas. Selama di tinggal Dimas aku berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Sholat lima waktu ku jalani dengan baik, sekolah ku juga berjalan lancar. Aku lulus SMA dengan nilai yang cukup memuaskan.
8 tahun berlalu semenjak kepergian Dimas dari kota kelahiranku, aku menjadi jomblo terhormat seperti yang di ajarkan Dimas dulu pada ku. Sekarang aku sukses menjadi sarjana pertanian dan tugas ku sekarang adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Juga menunggu kabar dari Dimas yang telah lama ku tunggu tapi tak kunjung datang.
“ Assalammualaikum..” terdengar suara seorang pria dari balik pintu.
“ waalaikumsalam..” teriakku dan berjalan membukakan pintu. Ku liat pria dengan rambut rapi memakai pakaian rapi berjas dan berdasi.
“ Delina Putri kan? “ tanyanya sambil tersenyum.
“ iya, anda siapa ya?” tanya ku lagi karena terheran-heran.
“ Saya Abdi Nugraha, saya datang mau mengantarkan surat, dan mohon di baca ini suratnya.” Dia memberikan surat yang bersampulkan amplop berwarna peach, warna kesukaan ku.
“ ini dari siapa? “ sambil membuka surat itu.
“ baca aja. “  Jawabnya sambil tersenyum manis.
Delina Putri, nama yang selalu aku ingat sampai mata ku terpejam, nafasku berhenti berhembus, jantungku tak berdenyut lagi. Aku tau sekarang kamu udah sukses. Walaupun aku jauh dari kamu, tapi aku selalu ngikutin tweet kamu, aku tau apa yang kamu lakukan. Sebenarnya aku pergi bukan untuk pindah sekolah, tapi aku pergi berobat ke singapur biar aku bisa sembuh dari penyakit leukemia yang aku derita sejak SMP dan biar aku bisa jemput melihat kamu saat kamu sukses.
Tapi saat kamu baca surat ini, aku pasti udah gak ada lagi di dunia ini. Aku gak bisa kuat melawan penyakit leukemia yang sudah terlanjur menggerogoti ku. Orang yang mengantarkan surat ini adalah orang yang pantas menggantikan aku untuk membimbingmu ke Jalan-Nya, dia Adikku. Izinkan dia menyayangi kamu sama seperti aku menyayangi kamu. buatlah dia seolah-olah aku. Nanti kita akan bertemu di Surga Delina Putri. “
Surat kedua yang aku terima dengan ada bekas noda darah di dalamya, setelah surat pertama yang membuatku menjatuhkan air mata. Surat kedua kali ini bukan hanya membuatku menjatuhkan air mata, angin pun seakan berhenti berhembus. Aku pingsan seketika itu juga. Semua ini terasa mimpi.
“ dimana aku? “
“ kamu di rumah sakit sayang, sudah jangan terlalu di fikirkan ya. Kamu istirahat dulu.” Jawab mama ku yang terlihat khawatir.
“ ma, boleh tinggal kan aku sebentar dengan pria ini? “ pinta ku pada mama, mama ku pun mengangguk lalu keluar.
“ kamu benar adiknya Dimas? “ mataku meneteskan air mata.
“ iya, saya Abdi Nugraha, adik kandung dari Dimas Anugerah. Sejujurnya saya sudah tau ini sejak lama. Tapi Dimas menyuruh saya merahasiakan ini semua agar kamu tidak sedih mendengar bahwa Dimas menderita leukemia.” Dia menceritakan semua detil tentang Dimas dan kronologi mengapa Dimas pergi meninggalkan ku.
Aku masih tak percaya bahwa Dimas benar-benar telah pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Aku merasa sangat terpukul mendengar kabar yang sangat mengejutkan itu. Tapi aku harus kuat, ini adalah ujian untukku. Kan ku kirimkan do’a untuknya disana agar tetap tenang berada di Sisi Allah SWT.
Aku mencoba melupakan Dimas dan menerima Abdi sebagai calon imam ku. Tapi sayang aku gak bisa melupakan Dimas, namun aku harus tetap menjalani hari-hari ku seperti biasa. Aku berusaha bangkit untuk yang kedua kalinya. Aku akan berusaha menjadi makmum yang baik untuk Abdi, karena ini adalah permintaan terakhir Dimas untuk kami berdua.
Setelah 3 bulan berlalu, Abdi datang ke rumah ku, melamarku tepat pada tanggal tanggal 23 maret. Tanggal yang sama saat Dimas mengungkapkan perasaannya padaku untuk yang pertama kalinya. Aku pun menerima lamaran itu, perasaan bahagia bercampur haru dan duka yang mendalam bersatu padu dalam hati ku. Andai yang datang malam itu adalah Dimas, mungkin aku akan jadi orang paling bahagia di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar