Senin, 04 Januari 2016

Late Post ( 17/08/2015 )



Entah kenapa udah dua hari ini rasanya uring-uringan. Pengen nangis terus, tapi gak tau nangisin apa. Rasanya kangen banget, tapi kangen sama hal apa. Kayaknya lagi kangen sama masa lalu. Iya, masa lalu. Kangen sama rumah lama, temen-temen dan sahabat-sahabat gue, sekolah juga, kelas juga, dan tak terkecuali mereka. iya, mereka itu maksudnya mantan-mantan gue. gue kangen sama semua hal yang dulu gue jalanin, gue kangen di bilang jones karena gue kelamaan jomblo, gue kangen digangguin temen-temen gue waktu lagi makan, gue kangen ributnya suasana kelas waktu lagi gak ada guru, dan gue kangen sama semua hal yang dulu gue gak suka dan sekarang malah gue cari-cari.
Gue pengen balik ke tempat gue di besarkan, tempat gue bermain waktu kecil, tempat gue dimarahin gara-gara gue bolos waktu masih SD, tempat gue dimarahin sama nyokap gara-gara gue males mandi kalo hari libur. Gue seneng disana walau pun kadang di sana banyak orang-orang aneh, banyak orang yang  bicaranya kasar, tapi gak ada tempat yang lebih indah di bandingkan tempat gue di lahirkan dan dibesarkan. Lo pasti bakal ngerasain apa yang gue rasain kalo lo udah pindah.
Awalnya gue berpikir, pindah ke tempat yang baru bisa bikin gue nyaman, bisa bikin gue tenang, pokoknya gitu-gitu deh. Tapi lama-lama malah jadi susah ngapa-ngapain, kesepian tiap hari. Sama juga kayak pacaran, lo pasti bahagia kalo punya pacar baru. kayaknya dia itu segalanya dan jauh lebih baik dari mantan lo, lo bilang gitu karena dia baru, lama-kelamaan semua bakal jadi sama aja. Sifat mereka akan jadi sama, hal yang dulu lo banggain dari dia malah jadi biasa aja. Semua hal akan terlihat biasa aja kalo kita udah sering melihat dan udah mengenalnya.
Tapi, satu hal yang harus lo tau. Setelah semua jadi biasa aja, lo gak harus cari yang lain, lo harus mempertahankan apa yang lo miliki. Kadang apa yang kita punya jauh lebih baik dari pada apa yang kita inginkan. Ih, gila, ternyata gue bijak juga ya.

Sabtu, 02 Januari 2016

Untukmu Kekasih Ku

Okay. this is last post on today. see ya...



Untukmu Kekasih Ku

Engkau yang kini menetap di hatiku, ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu lebih dari yang kau tau. Saat ini aku sangat bahagia karena mu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, aku tak tau harus mengucap apalagi  selain terima kasih. Cinta ini membuatku semakin dewasa, dan kau yang mengajariku kedewasaan itu. ku harap kau juga bahagia bersama dengan ku.
Terima kasih telah mewujudkan keinginanku untuk bisa menjadi makmummu walau hanya sekali. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk belajar sendiri-sendiri, dan sekarang belajarlah bersama ku, lengkapi jalan hidupku.
Untukmu kekasihku, berjanjilah bahwa kau akan tetap menjaga hatimu walau kita terpisahkan oleh jarak. Walau raga kita tak terlalu sering bertemu, ingatlah bahwa aku tetap menunggu kedatanganmu.
Aku tak ingin kisah indah kita akan berakhir, aku tak ingin cerita cinta kita dirusak oleh masa lalumu atau masa laluku. Seburuk apapun engkau dimasa lalu, aku tetap menerimamu, walau diluar sana banyak orang yang mungkin mentertawakan kisah kita, berjanjilah kau akau akan selalu setia bersama ku.

Benci Untuk Setia



Benci Untuk Setia

Kalian tau setia?
Gue rasa semua orang pasti tau setia. Dan semua orang pengen setia. Tapi ada beberapa hal yang membuat kesetian jadi terhambat. Misalnya, tiba-tiba mantan lo datang dan ngajak balikan, ato tiba-tiba ketemu orang yang pernah lo suka dulu dan sekarang dia jomblo, ato dalam kasus yang lebih sulit, lo ketemu orang baru dan dia bisa bikin lo nyaman.
Bicara tentang setia, gue rasa gue setia kok. buktinya gue masih bertahan sampe sekarang walaupum gue udah beberapa kali dibikin nangis, beberapa kali dibentak-bentak. Capek si iya, tapi ya gimana. Namanya juga sayang, ya gue berkorban perasaan lah biar hubungan ini bisa terus berjalan.
Kenapa kali ini gue bahas tentang setia. Karena beberapa minggu yang lalu hubungan gue sedang berada di ujung tanduk, sempet putus juga seminggu. Gara-garanya gue terlalu deket sama temen sekelas gue. yaiyalah, dia temen sekelas gitu, deket, sedangkan pacar gue nun jauh disana. Dia juga perhatian, baik, pokonya semua yang dia lakuin ke gue perfect lah, meski begitu dia selalu gue bentak-bentak,selalu gue salahin, selalu gue sakitin, tapi gak pernah tuh dia ngeluh. Malah dia berusaha yakinin gue kalo sayang nya dia gak bakal habis. Tapi gue lebih milih setia. Entah kenapa, rasa nyaman aja tuh gak cukup. Gue juga baru kenal. Jadi gue mutusin untuk jauhin dia dan bertahan sama pacar gue.
Awal-awal ngejauh sih emang feel something strange gitu. Tapi yaudahlah, harus tetep kuat. sekarang suasana masih tetep canggung, tapi gak secanggung waktu awal-awal. Yang jadi masalah sekarang adalah pacar gue jadi posesif banget, semua hal yang gue lakukan harus laporan dulu sama dia, harus punya alasan yang logis menurut dia kalo pengen ngejelasin sesuatu. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya, sekarang dia jadi monster posesif.
Pacar yang posesif itu lebih horor daripada pocong vs kuntilanak. Gak percaya, coba kalo mo cari pacar, cari yang posesif, rasanya sesuatu banget...

Sambas, 30 Desember 2015   18:41

Sehangat Coklat Sore

Belum rampung benar. tapi coba di post deh, nanti di perbaiki lagi.



Sehangat Coklat Sore

Disinilah aku berdiri, di tempat yang tak asing lagi. Di jalan setapak yang indah. Aku berjalan tanpa ragu. Ku lihat tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Langkahku terhenti di sebuah cafe kecil yang masih berdiri kokoh dihadapan ku. Bangunannya sudah tampak tua dan kusam. Susunan bangku di dalamnya tidak ada yang berubah sedikit pun. Ku lihat kakek tua sedang membuat secangkir coklat panas di pojok sebelah kanan. Pemandangan serupa pernah ku lihat lima tahun lalu. Ya, aku benar-benar ingat.
Ku seruput secangkir coklat hangat sambil mendengarkan celotehan seorang laki-laki di depanku. Sore itu, kami bercerita tentang pagi tadi, tentang cerita kami. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Aku dan dia tertawa bersama, kadang ngambek, kadang bertengkar, kadang cerita hal-hal seru. Disinilah kami, dua orang yang memakai seragam sekolah duduk di meja yang sama setiap hari. Tempat ini adalah tempat kami pertama bertemu, disinilah cinta kami bersatu, dan di tempat ini pula pertemuan terakhir kami terjadi, tepat lima tahun yang lalu. Namanya Gio, Gio Lesmana.
“Nik, besok minggu kan? Besok nonton yuk?” ajak Gio pada ku.
“kenapa harus nunggu besok kalau nanti malam juga bisa?” pintaku padanya.
“nanti malam aku ada futsal sama temen-temen”
“yaudah. Main futsal aja, gak usah nonton.”
“kok kamu gitu. Kamu kan tau, malam minggu itu jadwal aku main futsal sama temen-temen.” Dia berusaha meyakinkan ku.
“terus? Tiap malam minggu aku harus di rumah, nungguin kamu pulang main futsal, gitu?” aku memalingkan muka ku. “kenapa sih? Sekali aja ninggalin futsal buat aku. Sekali aja.”
“sayang. Bukannya gitu.” Gio memegang tanganku, “kamu kan tau aku suka banget main futsal. Kamu ngerti dong.”
“kapan sih aku gak ngerti kamu. bukannya kamu yang selalu gak ngerti aku.”
“loh. Kok makin dipanjangin, aku udah minta baik-baik ya. Kamu jangan mulai” jawabnya mulai marah.
Seperti itulah kebiasan kami setiap hari. Tapi aku selalu sabar menghadapi sikap dia yang tiap hari gak pernah bisa berubah yang suka cepet marah, lebih mentingin temennya, tapi dia selalu setia. Tiga tahun kita jalan sama-sama, hampir semua hal selama tiga tahun kita jalanin bareng-bareng. Semua indah dengan tertawaan dan tangisan yang kita lewati sama-sama. Tapi semua berubah ketika hampir menjelang Ujian SMA. Gio berubah.
Perubahan demi perubahan Gio tunjukan setiap hari. Biasanya tiap istirahat Gio selalu nyempetin buat nganterin makanan atau minuman ke kelas. Tapi beberapa hari terakhir Gio jadi susah di jumpain. Katanya dia sibuk nyiapin acara prome night dan acara turnament futsal. Yaudah, gue ngertiin dia. biasanya tiap pulang sekolah kita selalu nyempetin waktu buat mampir ke cafe tempat kita biasa santai. Tapi sekarang, sampai hampir malam pun aku nungguin dia, dia gak dateng-dateng. Katanya sibuk ini, sibuk itu, pokonya sibuklah.
“Gi, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Aku salah apa sama kamu?” kataku sambil menatap matanya lekat.
“gak papa kok. aku Cuma lagi sibuk aja nyiapain acara. Maafin aku ya.” Katanya sambil memegang tanganku.
“jujur ya gi. Kamu tuh udah beda, kamu udah gak kaya biasanya.” Aku memandanginya. “apa udah ada orang lain?” mata ku berkaca-kaca.
“gak ada Nik, gak ada orang lain. Cuma ada kamu.” dia menyeka air mataku yang hampir jatuh. “aku Cuma lagi sibuk aja, maafin aku ya sayang. Maafin aku.”
“aku tuh kesepian gak ada kamu disini. Aku gak biasa kemana-mana sendiri. Aku gak mau kehilangan kamu. aku takut ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu Gi.” Tangis ku semakin menjadi-jadi.
“sabar ya. Aku bentar lagi selesai kok. aku janji, selesai ujian dan selesai semua acara ini, nanti kita ketemu di cafe biasa. Tenang ya, aku ada kok buat kamu. aku sayang sama kamu, gak akan ada orang lain di hati aku Nik.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menghapus air mata yang sudah terlanjur membanjiri pipiku.
Aku tetap sabar untuk mengerti Gio dan kesibukannya. Hampir sebulan berlalu setelah kejadian itu, Ujian selesai, prome night selesai, dan turnament juga selesai. Gio mengajak ku ketemuan di cafe biasa.
Seperti biasa, kami duduk di bangku biasa dan pesan coklat panas seperti biasa. Perbincangan kami dimulai dengan percakapan tentang prome night, lalu merambah hingga kuliah. “Aku nanti mau kuliah di UI ah, mau kuliah sastra, kayanya seru tuh.” Aku berkata sambil tersenyum. Namun Gio terdiam. “kalo kamu mau kuliah dimana? Perasaan dari dulu kita gak pernah bicarain tentang kuliah ya?” Gio tetap diam. Tapi tiba-tiba Gio megang tanganku dan matanya berkaca-kaca. Aku lantas bertanya “kenapa?”
“Kamu sayang gak sama aku?” Gio bertanya dengan tatapan kosong.
“sayang lah Gi. Kenapa sih tiba-tiba nanya kaya gitu?” aku keheranan.
“apa suatu saat akan ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu ya?”
“kenapa sih Gi?” aku mengguncang tangannya, “Gi, denger ya. Gak akan ada orang lain yang bisa gantiin kamu di hati aku. Bagi aku, kamu itu teman hidupku. Kamu itu sandaran buat aku.”
“ aku juga. Aku sayang sama kamu. sayang banget malah.” Matanya menjatuhkan butir bening, yang kemudian ia melihat ke atas untuk menghalau air matanya agar tidak jatuh ke meja. “tapi aku harus pergi Nik.”
“Loh pergi kemana? Kamu mau ninggalin aku?”
“aku mau kuliah di Adelaide, Australia. Aku ngambil Finance disana. Mama aku udah ngurus semua surat kepindahanku. Aku bakal take off lima hari lagi. Sambil nunggu kelulusan kita, aku bakal cari apartment dulu disana. Maafin aku Nik, maafin aku.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menatap mataku dengan mata yang berbinar-binar.
“jadi kamu bakalan ninggalin aku?”
“aku gak akan ninggalin kamu, kamu juga gak bakalan hilang dari sini.” Dia menunjukkan hatinya. “kamu akan selalu disini Nik. Gak akan ada yang ninggalin kamu.”
“Aku gak bakalan rela kamu ninggalin aku. Aku akan datang kesini lima hari lagi, kalo aku datang dan kamu gak ada. Aku anggap kamu memang udah pergi ninggalin aku, dan kita udah selesai.” aku melepaskan tangan Gio dan mengambil tas yang berada di samping ku, lalu beranjak pergi.
Lima hari berlalu, aku datang ke cafe yang sama. Aku menunggu kedatangan Gio. Aku berharap dia benar-benar datang. Hingga hari mulai gelap, bayangan Gio tak kunjung sampai. Gerimis malam itu mengingatkan aku tentang kenangan kami. Suara tawanya terasa begitu jelas, senyum dibibirnya terasa begitu nyata, hanya saja raganya tak dapat ku lihat lagi.
Bertahun-tahun berlalu, kenangan itu seperti slide show yang diputar berulang-ulang. Kenangan kami disini, di tempat ini terasa masih sangat jelas, walau dinding di tembok ini sudah tak secerah dulu, dan bangku yang aku duduki ini sudah tak sekokoh dulu. tapi perasaan ku masih kokoh berdiri. Lima tahun tak bertemu, lima tahun tak saling menyapa, akhirnya hari ini ku temui dia yang pernah hilang. Dia mengirimi ku pesan singkat di akun media sosial pribadi ku tadi pagi.
Disinilah, aku menjemput cinta ku lagi. Sudah sangat lama rasanya penantian ku bertahan dalam ruang yang sepi. Lima tahun aku bertahan, tak seorang lelaki pun yang mampu membuat ku tertawa begitu keras selain Gio. Hanya Gio.
Dia duduk di bangku yang sama, memesan secangkir coklat panas seperti biasa. Dia mempersilakan ku duduk di depannya. Aku tak menyangka ini terjadi juga.
“Nik. Masih ingat tempat ini?” dia melirik ke atas dan sekeliling cafe,
“ingat lah.” Jawabku tersenyum.
“gak berubah ya. Lima tahun aku gak kesini, tapi semuanya masih sama seperti waktu kita masih SMA.”
“iyalah. Aku sering kok kesini.”
“aku tau, tadi aku nanya kakek-kakek itu.”
“masa sih? Jangan GR ya?” aku tersenyum malu.
“Nik, aku tau kok. perasaan itu masih ada. Sama, aku juga, bahkan masih utuh.” Gio tersenyum manis, senyum yang masih aku ingat hingga sekarang. “aku mau mulai dari awal lagi sama kamu. aku minta maaf, karena aku udah ninggalin kamu. lima tahun aku di Australi, lima tahun juga aku menyimpan cinta untuk kamu yang suatu saat akan aku berikan lagi untuk mu, dan sekarang saat itu.”
“Aku juga Gi, tidak ku temukan lagi cinta yang lain selain kamu. Cuma kamu.” kata ku sambil tersenyum.
Gio mengambil tangan ku, dan menciumnya. aku bahagia karena penantian ku tidak sia-sia.
Cinta sejati tau kemana ia harus pulang. Walau sejauh apapun ia pergi, tapi cinta akan membawanya kembali.

Patah Hati Terhebat (Part II)



Patah Hati Terhebat
(Part II)

Rasanya rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Gue capek kayak gini terus. Gue pengen keadaan balik seperti semula, seperti gak ada masalah, dan tidak ada nenek sihir manapun yang ganggu gue dan Abdi. Sekian minggu udah terlewati, namun Abdi juga masih bersikap dingin terhadap gue. Ya, mungkin dia memang benar-benar ingin setia dengan pacarnya. Gue juga menghargai sikap Abdi. Sepertinya memang gue harus move on.
Gemerincing hujan menambah kian sepinya hati ku. hanya bisa kutatap lekat di layar handphone ku wajahnya yang tersenyum manis seperti biasa kulihat setiap hari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunggu luka ini sembuh secara perlahan. Apakah akan terluka lagi? gumamku dalam hati.
Hujan masih terasa begitu lebat, menitik diantara pepohonan kecil di depan mata ku yang sedang duduk di depan kampus. Sore itu terasa sangat dingin, sedingin kesendirian. Terlihat sosok bayangan mencoba mendekati ku.
“Key!” seseorang menepuk pundak ku dari belakang.
“Eh, iya kak.” Jawabku dengan terkejut.
“Sendirian aja ni. Lagi galau ya?” dia duduk disampingku
“Ah enggak kok kak. Ni lagi nunggu hujannya brenti, dari tadi makin lama makin deres aja. Kak Tio kok belum pulang?”
“Iya emang lagi musim hujan sekarang, musimnya flashback.” Dia tertawa kecil yang juga ku sambut dengan tertawa kecil. “saya baru aja selesai rapat”.
“Oh gitu.” Aku hanya mengangguk,
“Pulang sama siapa Key?”
“Sendiri aja kak. Kakak sama siapa?”
“sama, saya juga sendiri. Mau dianterin?”
“gak usah kak. Aku bawa motor kok”
Kak Tio hanya membalas dengan anggukan. Setelah hujan sedikit reda gue pun pulang meninggalkan kak Tio yang masih berteduh di depan kampus. Benar kata kak Tio, hujan emang bawa kenangan, bikin flashback. Setiap tetes hujan yang turun membasahi bumi, seakan tiap tetesnya menyebut nama Abdi. Tak satupun terlewatkan, memori ku tentang Abdi seperti tayangan slide show yang di putar berulang setiap kali mendengar tetesan hujan.
Teh panas yang ku teguk di kamar kost pun seakan tak menghangatkan hati ini yang semakin sepi. Ku tatap layar kaca yang terang di depan ku. ku lihat seyum manis seorang laki-laki yang ku kagumi. Manis sekali. Besok pagi senyum itu juga masih dapat ku lihat. Kami begitu dekat, hanya berjarak beberapa bangku dari bangku ku ke bangkunya, tapi kenapa jarak itu terasa bagai samudera yang memisahkan dua benua, begitu jauh, hingga aku tak dapat menggapainya.
Rrrrrttttttt....
Getar hape membuyarkan lamunanku. Entah siapa yang mengirim pesan disaat gue sedang berpikir keras seperti ini, ketusku dalam hati.
“PING!!!”
Ngapain kak Tio ngeping gue, pikir gue. Apa ada barang gue yang ketinggalan tadi. Dengan penasaran gue “PING!!!” balik. Langsung di read sama kak Tio, tapi gak di bales, Cuma ada tulisan “sedang menulis pesan...”. gue jadi bingung, atau gue ada salah ngomong tadi ke dia. gue chat lagi, gue tanya  ada apa? tapi tetep Cuma di read doang. Yaudah lah, gue males mikirin itu.
Hari ini mendung menyelimuti langit yang gue tumpangi. Sialnya gue hari ini gak bawa motor, karena tadi pagi gue nebeng sama Ulfa ke kampus. Gue memandang ke atas, dan tetesan kenangan yang disebut hujan itu muncul lagi. Gue liat di sekitar kampus sudah pada sepi. Temen-temen gue satu kelas sudah pada pulang, termasuk pujaan hatiku. Gue bergegas ke parkiran, berharap disana ketemu seseorang yang mau nganterin gue pulang.
Sampai di parkiran yang gue liat Cuma tinggal beberapa motor yang tersisa. Gue berdiri disamping motor berwarna merah berharap Tuhan mengirimkan ojek untuk gue. tak lama kemudian terdengar suara gemercik air yang diinjak dengan cepat, ku lihat seorang laki-laki berlari menuju ke arah ku sambil menutupi kepalanya dengan tas.
Ku sambut ia dengan senyuman.
“Eh Keyga. Belum pulang Key?” tanya kak Tio sambil mengelap bajunya yang basah karena kehujanan.
“belum kak.” Aku menatap keatas berharap hujan segera berhenti. “nyari tebengan nih.”
“kalo gitu sama saya aja. Saya sendiri kok Key.” Kak Tio sambil mengusap motor merah yang sedang terparkir di sampingku.
“ Oh ini motor kakak. Gapapa ni kak, kost ku agak jauh soalnya.” Jawabku gak enak.
“gapapa kok, emang kost-nya dimana?”
“dari sini belok kiri kak, lurus aja sih.”
“Oh, searah dong. Yaudah, kalo ujannya udah gak lebat lagi, saya anterin kamu pulang.” Dia tersenyum menatapku yang aku balas dengan anggukan.
Ketika hujan mulai reda kami pun pergi meninggalkan parkiran yang sepi itu. ketika di jalan hujan tiba-tiba kembali lebat. Aku meminta kak Tio untuk meneruskan perjalanan, “biar aja hujan kak, aku pengen main hujan hari ini.” Kata ku pada kak Tio, yang Cuma disambut kak Tio dengan tertawaan. Kami pun tertawa bersama di tengah derasnya hujan.
Tak sengaja ku lihat ke arah kiri ku, ada seorang laki-laki yang sedang basah kuyub di suatu tempat santai. Tempat yang tidak asing bagiku, tempat yang biasa ku datangi bersama seseorang. Ku lihat Abdi sedang duduk di meja tempat biasa kami minum bersama, dia menatapku dengan pandangan yang sangat tajam. Tawaku yang begitu keras, seketika diam melihat dua bola mata yang sedang menatapku. Terasa tak enak di hatiku. Tapi mau gimana lagi, gue Cuma nebeng.
Sepanjang jalan yang ada di fikiran gue Cuma Abdi, apa yang kak Tio bicarakan udah gak gue dengar lagi.
Besoknya pas nyampe di kelas Abdi tiba-tiba narik gue keluar kelas, ini pertama kalinya Abdi nyentuh gue setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Deg...deg...deg suara jantung ku berdegup kencang, tangan ku sejuk dan bergetar hebat.
“Lo ngapain kemarin hujan-hujanan sama Tio? Ganjen banget.” Abdi membentak ku.
“Emang kenapa?” gue ngelepas genggaman tangannya. “terserah gue mau jalan sama siapa, apa urusan lo? Emang lo peduli sama gue?” mata gue berkaca-kaca menatap matanya yang coklat dan tajam itu.
“tapi gue gak suka ngeliat lo boncengan sama cowok lain! Lo ngerti gak sih!” dia memegang tangan gue yang kemudian gue sentak melapasnya.
“Lo minta gue buat ngerti lo? Emang lo ngerti sama gue, emang lo tau gimana perasaan gue pas lo tiba-tiba ninggalin gue. emang lo mikirin gue. Enggak!” gue menyeka air mata yang hampir luruh itu. “Elo Cuma mikirin perasaan elo sendiri. Lo tu egois!”
“Enggak key, bukan gitu. Gue bukan ninggalin lo. Gue Cuma... gue Cuma...” Abdi tergagap-gagap.
“Cuma apa? Cuma pengen setia. Yaudah, lo setia aja sama Viola. Gue gapapa kok. itu pilihan lo!”
Kriiiingg...
Tiba-tiba hape gue berbunyi, ada yang nelpon.
“Iya halo?” jawab gue sambil tersedu-sedu.
kamu kenapa Key?” terdengar suara kak Tio dari seberang sana.
“gak kok kak” gue meninggalkan Abdi dan masuk ke dalam kelas. “ada apa kak?”
kantin yuk? Belom masuk kan?
“belum kok. aku kesana sekarang. Ketemu di kantin aja ya.” Aku menutup telpon dan mengambil tas.
Ku jalani jalan setapak di depan kelasku menuju kantin. Butiran bening jatuh menitik di sepatu ku. terlihat jelas tatapan mata yang ku tinggalkan tadi. Aku benar-benar kecewa padanya. Terasa sesak  didada ini mengingat kenangan beberapa minggu yang lalu. Goresan luka yang diucapkannya ketika ingin mengakhiri hubungan kami masih tertancap begitu dalam, terlalu dalam, hingga belum ku temukan obatnya.
Sampai di kantin meja nomor 3, aku pesan Es teh manis. Karena kopi terlalu panas untuk cuaca hati yang sedang memanas ini. Sambil menunggu Tio Bramantio datang menemuiku, kulihat sekelilingku. Ku tatap mereka satu persatu, mereka berpasangan. Aku tertunduk dan tersenyum, tak pantas kah aku merasakan hal yang sama seperti mereka? salahkah aku jatuh cinta pada kekasih orang lain? Aku hanya dapat bertanya pada hatiku, masih sanggupkah aku bertahan dengan perasaan yang sudah hampir terbunuh ini.
“Key?” sapa seseorang di depanku.
“hem?” Jawabku sekenanya.
“kamu kenapa? Cerita aja sama aku.” Kak Tio mengusap pundak ku.
“gak kok kak.”
Selagi aku masih sanggup memendam, aku akan memendamnya, aku tak akan menyusah kan kak Tio. Hanya menghapus air mata aku masih sanggup aku hapus dengan tangan ku sendiri. Aku masih tegak berdiri.
“yaudah udah makan es krim yuk. aku lagi pengen makan es krim nih.” Dia mencoba menghibur ku, karena dia tau aku suka es krim. “mbak! Es krim coklat dua ya!” teriaknya pada mbak-mbak yang berada beberapa meter dari kami.
Hari ini aku belajar melupakan seseorang yang telah menyakitiku, dan belajar menghargai seseorang yang berada bersama ku. Siapapun mungkin bisa berubah, tapi kenangan tak kan hilang begitu saja. Kata orang, patah hati terhebat hanya ada sekali dalam seumur hidup, dan ku rasa inilah masanya.
 Seiring terlewatnya detik hari ini bersama kak Tio, dengan habisnya es krim yang makan bersama tegukan air mata yang ku pendam. Ku harap jangan ada lagi air mata semacam ini di kemudian hari.