Sabtu, 02 Januari 2016

Sehangat Coklat Sore

Belum rampung benar. tapi coba di post deh, nanti di perbaiki lagi.



Sehangat Coklat Sore

Disinilah aku berdiri, di tempat yang tak asing lagi. Di jalan setapak yang indah. Aku berjalan tanpa ragu. Ku lihat tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Langkahku terhenti di sebuah cafe kecil yang masih berdiri kokoh dihadapan ku. Bangunannya sudah tampak tua dan kusam. Susunan bangku di dalamnya tidak ada yang berubah sedikit pun. Ku lihat kakek tua sedang membuat secangkir coklat panas di pojok sebelah kanan. Pemandangan serupa pernah ku lihat lima tahun lalu. Ya, aku benar-benar ingat.
Ku seruput secangkir coklat hangat sambil mendengarkan celotehan seorang laki-laki di depanku. Sore itu, kami bercerita tentang pagi tadi, tentang cerita kami. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Aku dan dia tertawa bersama, kadang ngambek, kadang bertengkar, kadang cerita hal-hal seru. Disinilah kami, dua orang yang memakai seragam sekolah duduk di meja yang sama setiap hari. Tempat ini adalah tempat kami pertama bertemu, disinilah cinta kami bersatu, dan di tempat ini pula pertemuan terakhir kami terjadi, tepat lima tahun yang lalu. Namanya Gio, Gio Lesmana.
“Nik, besok minggu kan? Besok nonton yuk?” ajak Gio pada ku.
“kenapa harus nunggu besok kalau nanti malam juga bisa?” pintaku padanya.
“nanti malam aku ada futsal sama temen-temen”
“yaudah. Main futsal aja, gak usah nonton.”
“kok kamu gitu. Kamu kan tau, malam minggu itu jadwal aku main futsal sama temen-temen.” Dia berusaha meyakinkan ku.
“terus? Tiap malam minggu aku harus di rumah, nungguin kamu pulang main futsal, gitu?” aku memalingkan muka ku. “kenapa sih? Sekali aja ninggalin futsal buat aku. Sekali aja.”
“sayang. Bukannya gitu.” Gio memegang tanganku, “kamu kan tau aku suka banget main futsal. Kamu ngerti dong.”
“kapan sih aku gak ngerti kamu. bukannya kamu yang selalu gak ngerti aku.”
“loh. Kok makin dipanjangin, aku udah minta baik-baik ya. Kamu jangan mulai” jawabnya mulai marah.
Seperti itulah kebiasan kami setiap hari. Tapi aku selalu sabar menghadapi sikap dia yang tiap hari gak pernah bisa berubah yang suka cepet marah, lebih mentingin temennya, tapi dia selalu setia. Tiga tahun kita jalan sama-sama, hampir semua hal selama tiga tahun kita jalanin bareng-bareng. Semua indah dengan tertawaan dan tangisan yang kita lewati sama-sama. Tapi semua berubah ketika hampir menjelang Ujian SMA. Gio berubah.
Perubahan demi perubahan Gio tunjukan setiap hari. Biasanya tiap istirahat Gio selalu nyempetin buat nganterin makanan atau minuman ke kelas. Tapi beberapa hari terakhir Gio jadi susah di jumpain. Katanya dia sibuk nyiapin acara prome night dan acara turnament futsal. Yaudah, gue ngertiin dia. biasanya tiap pulang sekolah kita selalu nyempetin waktu buat mampir ke cafe tempat kita biasa santai. Tapi sekarang, sampai hampir malam pun aku nungguin dia, dia gak dateng-dateng. Katanya sibuk ini, sibuk itu, pokonya sibuklah.
“Gi, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Aku salah apa sama kamu?” kataku sambil menatap matanya lekat.
“gak papa kok. aku Cuma lagi sibuk aja nyiapain acara. Maafin aku ya.” Katanya sambil memegang tanganku.
“jujur ya gi. Kamu tuh udah beda, kamu udah gak kaya biasanya.” Aku memandanginya. “apa udah ada orang lain?” mata ku berkaca-kaca.
“gak ada Nik, gak ada orang lain. Cuma ada kamu.” dia menyeka air mataku yang hampir jatuh. “aku Cuma lagi sibuk aja, maafin aku ya sayang. Maafin aku.”
“aku tuh kesepian gak ada kamu disini. Aku gak biasa kemana-mana sendiri. Aku gak mau kehilangan kamu. aku takut ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu Gi.” Tangis ku semakin menjadi-jadi.
“sabar ya. Aku bentar lagi selesai kok. aku janji, selesai ujian dan selesai semua acara ini, nanti kita ketemu di cafe biasa. Tenang ya, aku ada kok buat kamu. aku sayang sama kamu, gak akan ada orang lain di hati aku Nik.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menghapus air mata yang sudah terlanjur membanjiri pipiku.
Aku tetap sabar untuk mengerti Gio dan kesibukannya. Hampir sebulan berlalu setelah kejadian itu, Ujian selesai, prome night selesai, dan turnament juga selesai. Gio mengajak ku ketemuan di cafe biasa.
Seperti biasa, kami duduk di bangku biasa dan pesan coklat panas seperti biasa. Perbincangan kami dimulai dengan percakapan tentang prome night, lalu merambah hingga kuliah. “Aku nanti mau kuliah di UI ah, mau kuliah sastra, kayanya seru tuh.” Aku berkata sambil tersenyum. Namun Gio terdiam. “kalo kamu mau kuliah dimana? Perasaan dari dulu kita gak pernah bicarain tentang kuliah ya?” Gio tetap diam. Tapi tiba-tiba Gio megang tanganku dan matanya berkaca-kaca. Aku lantas bertanya “kenapa?”
“Kamu sayang gak sama aku?” Gio bertanya dengan tatapan kosong.
“sayang lah Gi. Kenapa sih tiba-tiba nanya kaya gitu?” aku keheranan.
“apa suatu saat akan ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu ya?”
“kenapa sih Gi?” aku mengguncang tangannya, “Gi, denger ya. Gak akan ada orang lain yang bisa gantiin kamu di hati aku. Bagi aku, kamu itu teman hidupku. Kamu itu sandaran buat aku.”
“ aku juga. Aku sayang sama kamu. sayang banget malah.” Matanya menjatuhkan butir bening, yang kemudian ia melihat ke atas untuk menghalau air matanya agar tidak jatuh ke meja. “tapi aku harus pergi Nik.”
“Loh pergi kemana? Kamu mau ninggalin aku?”
“aku mau kuliah di Adelaide, Australia. Aku ngambil Finance disana. Mama aku udah ngurus semua surat kepindahanku. Aku bakal take off lima hari lagi. Sambil nunggu kelulusan kita, aku bakal cari apartment dulu disana. Maafin aku Nik, maafin aku.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menatap mataku dengan mata yang berbinar-binar.
“jadi kamu bakalan ninggalin aku?”
“aku gak akan ninggalin kamu, kamu juga gak bakalan hilang dari sini.” Dia menunjukkan hatinya. “kamu akan selalu disini Nik. Gak akan ada yang ninggalin kamu.”
“Aku gak bakalan rela kamu ninggalin aku. Aku akan datang kesini lima hari lagi, kalo aku datang dan kamu gak ada. Aku anggap kamu memang udah pergi ninggalin aku, dan kita udah selesai.” aku melepaskan tangan Gio dan mengambil tas yang berada di samping ku, lalu beranjak pergi.
Lima hari berlalu, aku datang ke cafe yang sama. Aku menunggu kedatangan Gio. Aku berharap dia benar-benar datang. Hingga hari mulai gelap, bayangan Gio tak kunjung sampai. Gerimis malam itu mengingatkan aku tentang kenangan kami. Suara tawanya terasa begitu jelas, senyum dibibirnya terasa begitu nyata, hanya saja raganya tak dapat ku lihat lagi.
Bertahun-tahun berlalu, kenangan itu seperti slide show yang diputar berulang-ulang. Kenangan kami disini, di tempat ini terasa masih sangat jelas, walau dinding di tembok ini sudah tak secerah dulu, dan bangku yang aku duduki ini sudah tak sekokoh dulu. tapi perasaan ku masih kokoh berdiri. Lima tahun tak bertemu, lima tahun tak saling menyapa, akhirnya hari ini ku temui dia yang pernah hilang. Dia mengirimi ku pesan singkat di akun media sosial pribadi ku tadi pagi.
Disinilah, aku menjemput cinta ku lagi. Sudah sangat lama rasanya penantian ku bertahan dalam ruang yang sepi. Lima tahun aku bertahan, tak seorang lelaki pun yang mampu membuat ku tertawa begitu keras selain Gio. Hanya Gio.
Dia duduk di bangku yang sama, memesan secangkir coklat panas seperti biasa. Dia mempersilakan ku duduk di depannya. Aku tak menyangka ini terjadi juga.
“Nik. Masih ingat tempat ini?” dia melirik ke atas dan sekeliling cafe,
“ingat lah.” Jawabku tersenyum.
“gak berubah ya. Lima tahun aku gak kesini, tapi semuanya masih sama seperti waktu kita masih SMA.”
“iyalah. Aku sering kok kesini.”
“aku tau, tadi aku nanya kakek-kakek itu.”
“masa sih? Jangan GR ya?” aku tersenyum malu.
“Nik, aku tau kok. perasaan itu masih ada. Sama, aku juga, bahkan masih utuh.” Gio tersenyum manis, senyum yang masih aku ingat hingga sekarang. “aku mau mulai dari awal lagi sama kamu. aku minta maaf, karena aku udah ninggalin kamu. lima tahun aku di Australi, lima tahun juga aku menyimpan cinta untuk kamu yang suatu saat akan aku berikan lagi untuk mu, dan sekarang saat itu.”
“Aku juga Gi, tidak ku temukan lagi cinta yang lain selain kamu. Cuma kamu.” kata ku sambil tersenyum.
Gio mengambil tangan ku, dan menciumnya. aku bahagia karena penantian ku tidak sia-sia.
Cinta sejati tau kemana ia harus pulang. Walau sejauh apapun ia pergi, tapi cinta akan membawanya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar