Senin, 12 Maret 2018

Berkarirlah!

Pergilah jauh.
Aku tidak apa kau tinggalkan, jangan pedulikan aku. Aku sudah biasa merindu.
Berkarirlah! 
Sampai kau tau mengapa kita berjauhan?
Sekali lagi. Abaikan saja rinduku, ada banyak yang lebih berat dari sekadar rindu, tanggung jawabmu.
Aku mungkin akan menangis saat kau tinggalkan, tapi aku ingin kau segera sukses.
Berkarirlah! 
Karena orang tuamu inginkan itu.
Mereka jauh lebih banyak berkorban dari pada aku.
Aku hanya mampu menyumbangkan semangat untukmu, selain rinduku yang meluap-luap.
Tapi mereka menyumbang semua kebutuhanmu. Bahagiakan dulu mereka.
Setelah itu, datangi rumah aku, bicara pada orang tuaku.
Berkarirlah!
Sampai kau dapat apa yang kau mau. Aku selalu disini untukmu.
Aku mungkin akan merengek karena terlalu rindu, tapi sudahlah abaikan saja. Aku akan mencoba mengerti.
Dan aku saat ini sedang rindu, kau tak harus tau. Biar aku saja.

Kamis, 08 Maret 2018

Pemimpi Masa Depan, Penikmat Masa Lalu (2)

Lagi rajin ngeblog nih, 2 hari berturut-turut update terus. Bukan gak ada kerjaan, sebenarnya banyak. Tapi aku lagi malas, aku masih ingin bercerita tentang kita, aku masih ingin membahas rindu dan masa lalu.

Akhir-akhir ini aku sering berdebat denganmu. Padahal itu tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan. Tapi jujur saja, aku selalu dibuat geli oleh mu ketika kau mulai marah dan mengalah. Aku selalu menikmati perdebatan itu dengan tersenyum, yah walaupun kadang nangis juga sedikit. Aku hanya mencari pembicaraan yang tidak itu-itu saja. Harusnya kau mengerti. Tapi kenapa kau tak mengerti-mengerti?

Terkadang disaat-saat seperti itu aku jadi kepikiran untuk mencari teman yang lebih asyik, chat mantan misalnya?

Kamu tau gak, mantan ku itu suka datang di waktu yang tepat. Maaf ya soal ini aku gak pernah cerita, maaf hihi. Kali ini aku beneran merasa salah. Tapi kamu jangan nyalahin aku doang, mungkin dia rindu dan pengen ngobrol aja sama aku. Aku yakin kamu pasti juga gitu, pasti suka rindu juga ke mantan kamu. Soalnya aku juga gitu. Kadang tiba-tiba aja rindu sama dia, padahal gak lagi ngapa-ngapain. Tiba-tiba aja pengen ngobrol dan becanda sama dia.
Aku udah move on loh ya. Udah dari lama.

Rindu sama mantan yang kita sendiri udah move on itu kayak rindu ke teman lama yang udah lama gak ketemu. Rindu tapi bukan pengen balikan, atau masih ada rasa, ini cuma rindu yang sekedar pengen bertemu, ngobrol lalu bercerita apa-apa yang udah terjadi setelah kita tidak bersama lagi, bernostalgia dengan masa lalu yang kadang masih suka teringat ketika lewat jalan yang pernah dilewatin dulu. Ya gitu aja sih.

Aku kadang kalau lagi rindu mantan itu ya ngayal aja, soalnya kenangan aku sama dia jarang diabadikan lewat foto. Aku ini pemalu, kamu harus tau. Kalau kemana-kemana kamu harus foto aku diam-diam biar hasilnya bagus. Ini serius yang. Etcie yang.

Aku kalau sama kamu suka bilang "yang" walau di depan orang lain. Waktu sama mantan gak pernah, boro-boro bilang "yang", bilang aku sayang kamu secara langsung juga kayakya gak pernah. Aku pemalu, dia pemalu. Aku gengsi, dia lebih gengsi. Sumpah ini perpaduan yang sebenarnya sangat dipaksakan untuk cocok.
Tapi aku bersyukur pernah dikenalkan dengan orang seperti dia. Aku banyak belajar tentang kedewasaan dari dia. Setahun lebih sama dia aku tau gimana sakitnya dikekang, gimana susahnya menjaga jarak dengan teman, bersama dia juga aku banyak belajar kesederhanaan dalam hubungan. Perjuangan aku sama dia bisa diliat di Dear Mantan . Iya emang perjuangan banget.

Makanya aku selalu bersyukur dipertemukan dengan mu. Terima kasih untuk 3 tahun ini. Terima kasih telah bersabar menghadapi ku yang masih kekanak-kanakan ini. Terima kasih.

Pemimpi Masa Depan, Penikmat Masa Lalu

Tadinya aku mau bercerita tentang masa depan, eh lupa kalau masa laluku tidak terlalu buruk juga untuk ku banggakan.

Sekarang adalah tahun ketiga aku menjalani hidup sebagai kekasihmu. Itu bukan waktu yang sebentar. Dan cukuplah untuk membuat ku bosan pada pesan-pesan singkatmu yang membuatku ingin mengabaikannya saja. Namun tak kulakukan, tidak enak saja rasanya mengabaikan. Kita setiap hari membahas hal yang bagiku sangat tidak penting.

Kamu sibuk dengan pekerjaanmu, sedang aku sibuk dengan kuliahku. Sebenarnya tidak, aku hanya mencari alasan.

Bukan aku sudah tidak sayang, bukan rasaku sudah punah, tidak! Kau harus tau bahwa itu tidak benar! Aku masih untukmu. Jangan lagi kau tanyakan, aku malas menjawabnya. Yang ku mau cuma 1. Jadilah asyik. Seperti kau dulu, seperti pertama kau menyapaku di Februai 2015.

Sejak awal aku tau ini akan terjadi. Sama seperti yang lainnya. Makanya aku tak terlalu menaruh harapan ingin dibahagiakan setiap hari olehmu. Jujur saja, dari semua hubungan yang pernah ku jalani, denganmu aku lebih tenang, denganmu aku lebih bisa jujur.

Aku suka bercerita masa lalu ku dengan mu, semata-mata aku ingin tau reaksimu. Terkadang aku juga ingin membanggakan, "dulu, ada loh yang sayang sama aku". Yang lalu diakhiri dengan kita bertengkar.

Aku suka caramu mengalah lalu bilang "maaf ya, yaudah iya aku yang salah", walau aku tau arti dari maafmu itu bukan mengaku salah, kau hanya menyindirku.
Aku suka caramu marah tanpa memaki dan tidak berkata "udahan aja kalo gitu".

Membahasmu membuat ku rindu.
Nanti lagi ku lanjutkan. Aku sedang rindu dan ingin tidur. Sekarang sudah pukul 00.47