Selasa, 05 Mei 2015

Cinta dalam Penantian yang Berjarak



Cinta dalam Penantian yang Berjarak

Getar telpon membangunkan ku, menyadarkan aku dari tidur nyenyakku. Ku buka telpon genggamku dan itu dari kekasihku yang jauh disana. Ucapan selamat pagi dan kata-kata indah yang dirangkainya menjadi sarapanku setiap hari. Dialah kekasihku Rega Ananda Rahman, dia pergi ke Jerman untuk melanjutkan studynya mengambil S1 dokter ahli kanker.
Ini pertama kalinya kami LDR, karena selama kami pacaran kami selalu bersama dan setahun yang lalu dia memutuskan untuk pergi ke Jerman. Aku bisa apa, itu untuk masa depannya dan dia berjanji akan selalu setia untukku, untuk cinta kami. Aku juga berjanji akan menunggunya kembali karena aku sangat menyayanginya.
Aku melanjutkan kuliah di UI baru semester 1. Aku menjalani hari-hari ku di kota yang ramai ini namun terasa sepi karena malam minggu ku selalu di rumah video callan sama Rega, itupun kalo Rega gak sibuk dengan tugasnya. Tapi sebulanan ini Rega terasa sangat jauh mungkin karena dia terlalu sibuk dengan sekolahnya hingga sering lupa membalas pesan singkatku.
“ malam ini ada acara gak?” tanya Sesha padaku saat di kantin.
“ gak ada kayanya, emang kenapa?” jawabku sambil makan.
“ oh, kalo gitu ikut gue aja. Nyantai bareng temen-temennya Arga. Masa lo di rumah terus, emang gak sumpek?” Arga adalah pacarnya Sesha yang juga kuliah di UI.
“ sumpek si, yaudah deh. Ntar jemput aja di rumah.” Aku pun melanjutkan makan ku kembali.
Ketika di rumah aku mengirim pesan untuk Rega. “ aku mau jalan sama Sesha malam ini, kalo udah pulang ntar aku bilang ke kamu, kamu jangan terlalu sibuk dan lupa makan. Aku sayang kamu”. pesanku tidak langsung di Read Rega mungkin dia sibuk dan juga perbedaan waktu disini dan disana. Aku pun bersiap-siap karena sebentar lagi Sesha akan menjemputku. Inginnya malam mingguan sama Rega, jalan, nonton bioskop, diner, sama kaya pasangan lain tapi ya gimana, sabar dalam penantian aja.
Telpon genggam ku berbunyi, tanda sms masuk. Katanya Sesha sudah di depan rumahku. Aku pun menemuinya dan kami segera pergi. Sesampainya di kafe ternyata semua teman-teman Sesha mempunyai pasangan termasuk Sesha kecuali salah seorang cowok yang berada di sampingku. Sepertinya Sesha sengaja mengajakku dan mendudukkan aku di dekat cowok ini. Dia pun memperkenalkan dirinya padaku sambil tersenyum manis.
“ hai, aku Dimas temennya Arga, nama kamu siapa?” tanyanya pertama padaku sambil mengulurkan tangannya.
“ aku Zhea.” Aku menjabat tangannya sambil tersenyum.
“ senang bisa mengenalmu.”
Aku hanya tersenyum dan tak menjawab. Lama-lama Dimas orangnya asyik, kami mempunyai hobi yang sama. Dia ternyata mendalami ilmu perfilman. Senang bisa mengenal Dimas, kami bercerita banyak hal tentang film. Setelah beberapa lama kemudian telpon berbunyi, Rega menelponku.
“ halo?” jawabku.
“ halo, kamu belum pulang Ze?” tanya Rega.
“ belum yang, ini bentar lagi mau pulang”
“ yaudah, cepat pulang ya. Disana kan udah hampir jam 12, aku khawatir kamu kenapa-napa.”
“ iya-iya aku pulang sekarang, nyampai rumah aku kabarin kamu. aku bilang sama Sesha dulu ya.”
“ iya, hati-hati di jalan ya sayang, udah malam”
Aku menutup telponnya. Aku pun pamit sama Sesha untuk pulang duluan. Tiba-tiba Dimas ingin mengantarku, katanya sudah malam, kalo pakai taksi takut ada apa-apa. Sesha pun mendukung Dimas, jadi Dimas mengantarku pulang. Sampai depan rumah Dimas meminta nomor hape ku dengan alasan supaya mudah jika ada proyek yang ingin di kerjakan sama-sama. Karena aku takut Rega kelamaan nungguin aku, jadi aku berikan saja toh Cuma untuk proyek.
Keesokan sorenya ada nomor baru menelponku, dia mengaku namanya Dimas. lama-lama kami sms-an dan bercerita banyak, dia menceritakan mantannya yang tiba-tiba pergi dan aku menceritakan Rega kekasihku yang jauh di Jerman.
Sudah beberapa hari Rega tak memberiku kabar, aku pun sangat cemas dan khawatir. Takut terjadi apa-apa padanya karena disana dia sendirian. Aku menelponnya, tapi tidak pernah di angkat apalagi sms, sama sekali tidak di balas. Aku menceritakan perasaanku pada Dimas saat dia mengajakku makan di luar, betapa aku sangat merindukan Rega dan sangat mengkhawatirkannya.
“ aku kangen banget sama Rega Dim, tapi dia sama sekali tidak mempedulikan aku.” Mataku berkaca-kaca.
“ yaudahlah, jangan sedih gitu. Kan ada aku yang selalu ada buat kamu. Mungkin dia lagi sibuk atau mungkin...” Dimas memegang tanganku.
“ maksud kamu apa Dim?”  aku menjawab dengan nada lantang dan melepaskan tangannya.
“ gak, kamu jangan salah sangka gitu. Yaudah, aku minta maaf. Kamu jangan sedih lagi ya.” Dia berusaha membujukku.
“ aku sayang sama dia Dim, aku gak pengen kehilangan dia.” aku meneteskan air mata.
“ kamu sayang dia? tapi aku sayang kamu Ze. Aku ga bisa liat kamu sedih kaya gini.” Dimas mengusap air mataku.
“ ku kira semua hanya teman, dan kamu bisa tulus menjadi temanku. Percuma cerita sama kamu, aku mau pulang!” aku meninggalkan Dimas.
“ Ze! Ze! Tunggu, biar aku anterin kamu” dia mengejarku dan menarik tanganku.
Dia menjelaskan semuanya dan akhirnya aku mau di antar pulang. Di mobil dia menjelaskan perasaannya padaku. Ku akui Dimas memang selalu ada untukku, dia selalu mendengarkan cerita ku saat Rega tidak memberi kabar. Tapi perasaan ku untuknya hanya sebatas teman, aku hanya menyayangi Rega. Dimas pun mengerti, katanya dia akan membuktikan bahwa dia sanggup menunggu sampai aku juga akan mencintai dia.
Sampai di kamar, aku hanya bisa menangis. Rega sudah tidak bisa dihubungi, aku tidak tau akan bercerita pada siapa lagi. Aku hanya berpikir, apa ini ujian cinta dalam jarak yang sedang aku jalani. Sakit? Iya. Nyesek? Banget. Tapi mau gimana, aku sangat mencintai Rega bahkan aku rela menunggu untuknya.
Lama-kelamaan Dimas semakin berani padaku, dia sering menjemputku di rumah tanpa aku minta dan sering menelponku. Perasaan ku padanya sudah mulai sedikit berbeda mungkin karena intensitas pertemuan kami yang terlampau sering melebihi teman dan Rega yang sudah tidak memberiku kabar sama sekali. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi atau ini hanya sebatas pelampiasan kebosanan, entahlah.
“ Ze? Kita dekat sudah setahun lebih, tapi kamu tidak menjawab perasaanku, sampai kapan aku di gantungin terus sama kamu?” tanya Dimas dengan mata berbinar.
“ maaf Dim, sampai sekarang aku belum bisa melupakan Rega. Kalo kamu sudah tidak sanggup lagi, kamu boleh pergi kok.” Aku tersenyum.
“ oh gitu, gak kok, aku akan tetap nungguin kamu sampai kamu yakin dan lupa sama Rega.”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan ke sekian kalinya dari Dimas. aku mencoba untuk yakin pada Dimas dan akhirnya aku yakin namun aku belum bisa melupakan Rega, entah karena apa, bagi ku Rega takkan terganti walau kami sudah  hampir 3 tahun tidak bertemu.
Beberapa bulan kemudian, saat aku belanja dengan mama ku, aku melihat Dimas dengan cewek lain. Aku pun menelponnya, namun tidak di angkat. Berulang kali aku mencoba menelponnya namun di nonaktifkan. Baiklah, aku mulai berpikir bahwa itu benar-benar Dimas. sesampainya di rumah Dimas menelponku dan bertanya “ada apa?”.
“ kamu tadi di mall ya?” tanyaku pada Dimas.
“ gak kok, aku di rumah.” Jawabnya singkat.
“ aku tadi liat kamu di mall dengan seorang cewek dan kamu menggandegnya.”
“ baiklah, kamu benar. Itu memang aku, aku sudah capek nungguin kamu yang gak tau sampai kapan akan peka dengan perasaan ku. aku capek di gantungin terus.”
“ oh gitu, yaudah. Kan aku udah bilang, kalo kamu udah capek pergi aja, aku gak pernah maksa kamu untuk tetap bertahan kok.” Aku mematikan telponnya.
Tanpa sadar air mataku mengalir deras, entah karena kecewa atau terluka.  Aku tak bisa berbuat apa-apa melihat Dimas, untuk marah pun aku tak berhak, aku hanya seorang teman yang Dimas bilang tidak pernah mempedulikan perasaannya. Sekarang aku merasakan bagaimana menjadi Dimas saat aku bercerita tentang Rega. Dengan kejadian ini, aku belajar arti kesetiaan dan penantian.
Aku belajar melupakan semuanya namun bukan Rega karena aku akan tetap menunggu Rega sampai dia kembali. aku akan melanjutkan kuliahku hingga selesai tanpa mencintai laki-laki lain selain Rega.
Dua tahun berlalu, aku bekerja di salah stasiun televisi swasta. Cita-cita ku telah terwujud dan aku dapat membahagiakan keluarga dengan jerih payahku sendiri.
“ Bu Zhea, ada yang mencari ibu di Lobby?” kata assisten ku.
“ siapa?” tanyaku balik.
“ dia tidak menyebutkan namanya, tapi katanya dia seorang dokter spesialis kanker.”
Duuk! Jantung berdebar seakan terpukul palu godam. Aku segera menemuinya, mungkinkah ia kekasihku. Orang yang aku tunggu selama bertahun-tahun. dan ia menoleh ke arahku.
“ selamat siang Zhea Sadiqa, bidadari kecil yang sekarang menjelma menjadi sang putri.” Dia tersenyum padaku, senyum yang pernah ku lihat beberapa tahun yang lalu. Aku menghampirinya dan memeluknya erat-erat. Air mataku jatuh tanda bahagia, aku merindukannya.
“ kapan kamu pulang?” tanyaku sambil memeluknya dengan derai air mata yang tak berhenti.
“ seminggu yang lalu, sudah jangan nangis. Malu dialiatin karyawan kamu.” dia tertawa kecil.
“ ah kamu jahat, pulang gak ngasi tau aku.” Aku melepaskan pelukanku.
Dia mengajakku makan siang, dan rasanya seperti mimpi. Aku bahkan lupa wajahnya, sekarang dia lebih tampan dan berwibawa. Hari terasa semakin malam, aku melupakan pekerjaanku. Aku tak ingin hari ini segera berlalu. Kami bicara banyak hal walau awalnya aku sempat canggung. Dia membawaku ke tempat pertama kali dia mengatakan cinta saat dia baru lulus SMA, aku ingat momen itu.
“ Ze, kamu tau. Disana tak ku temui wanita seperti mu yang selalu mengingatkan aku ketika aku salah, mengerti aku ketika aku sibuk dan menyemangati aku ketika aku hampir putus asa, ku akui aku sempat dekat dengan seorang wanita namun aku tak menjalin hubungan dengannya. Aku selalu mengingatmu, dan aku rindu pada mu dengan sangat amat rindu.  Bahkan kau selalu muncul dalam mimpiku. Hari ini aku akan katakan sesuatu. Ze, will you marry me?” dia memegang tangan ku dan memberikan sebuah cincin.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa, aku hanya mengangguk tanda setuju. Dia memasangkan cincin itu di tanganku dan dia memelukku dengan erat. Aku merasa seperti kembali saat SMA dulu. Banyak hal yang ku pelajari saat bersama Rega, betapa berartinya kebersamaan, betapa pentingnya memberi kabar dan betapa sulitnya menanti cintamu kembali saat jarak terlampau jauh memisahkan.