Cinta dalam Penantian yang Berjarak
Getar telpon membangunkan ku, menyadarkan aku dari tidur
nyenyakku. Ku buka telpon genggamku dan itu dari kekasihku yang jauh disana.
Ucapan selamat pagi dan kata-kata indah yang dirangkainya menjadi sarapanku
setiap hari. Dialah kekasihku Rega Ananda Rahman, dia pergi ke Jerman untuk
melanjutkan studynya mengambil S1 dokter ahli kanker.
Ini pertama kalinya kami LDR, karena selama kami pacaran kami
selalu bersama dan setahun yang lalu dia memutuskan untuk pergi ke Jerman. Aku
bisa apa, itu untuk masa depannya dan dia berjanji akan selalu setia untukku,
untuk cinta kami. Aku juga berjanji akan menunggunya kembali karena aku sangat
menyayanginya.
Aku melanjutkan kuliah di UI baru semester 1. Aku menjalani
hari-hari ku di kota yang ramai ini namun terasa sepi karena malam minggu ku
selalu di rumah video callan sama Rega, itupun kalo Rega gak sibuk dengan
tugasnya. Tapi sebulanan ini Rega terasa sangat jauh mungkin karena dia terlalu
sibuk dengan sekolahnya hingga sering lupa membalas pesan singkatku.
“ malam ini ada acara gak?” tanya Sesha padaku saat di
kantin.
“ gak ada kayanya, emang kenapa?” jawabku sambil makan.
“ oh, kalo gitu ikut gue aja. Nyantai bareng temen-temennya
Arga. Masa lo di rumah terus, emang gak sumpek?” Arga adalah pacarnya Sesha
yang juga kuliah di UI.
“ sumpek si, yaudah deh. Ntar jemput aja di rumah.” Aku pun
melanjutkan makan ku kembali.
Ketika di rumah aku mengirim pesan untuk Rega. “ aku mau
jalan sama Sesha malam ini, kalo udah pulang ntar aku bilang ke kamu, kamu
jangan terlalu sibuk dan lupa makan. Aku sayang kamu”. pesanku tidak langsung
di Read Rega mungkin dia sibuk dan juga perbedaan waktu disini dan disana. Aku
pun bersiap-siap karena sebentar lagi Sesha akan menjemputku. Inginnya malam
mingguan sama Rega, jalan, nonton bioskop, diner, sama kaya pasangan lain tapi
ya gimana, sabar dalam penantian aja.
Telpon genggam ku berbunyi, tanda sms masuk. Katanya Sesha
sudah di depan rumahku. Aku pun menemuinya dan kami segera pergi. Sesampainya
di kafe ternyata semua teman-teman Sesha mempunyai pasangan termasuk Sesha
kecuali salah seorang cowok yang berada di sampingku. Sepertinya Sesha sengaja
mengajakku dan mendudukkan aku di dekat cowok ini. Dia pun memperkenalkan
dirinya padaku sambil tersenyum manis.
“ hai, aku Dimas temennya Arga, nama kamu siapa?” tanyanya
pertama padaku sambil mengulurkan tangannya.
“ aku Zhea.” Aku menjabat tangannya sambil tersenyum.
“ senang bisa mengenalmu.”
Aku hanya tersenyum dan tak menjawab. Lama-lama Dimas
orangnya asyik, kami mempunyai hobi yang sama. Dia ternyata mendalami ilmu
perfilman. Senang bisa mengenal Dimas, kami bercerita banyak hal tentang film.
Setelah beberapa lama kemudian telpon berbunyi, Rega menelponku.
“ halo?” jawabku.
“ halo, kamu belum pulang Ze?” tanya Rega.
“ belum yang, ini bentar lagi mau pulang”
“ yaudah, cepat pulang ya. Disana kan udah hampir jam 12, aku
khawatir kamu kenapa-napa.”
“ iya-iya aku pulang sekarang, nyampai rumah aku kabarin
kamu. aku bilang sama Sesha dulu ya.”
“ iya, hati-hati di jalan ya sayang, udah malam”
Aku menutup telponnya. Aku pun pamit sama Sesha untuk pulang
duluan. Tiba-tiba Dimas ingin mengantarku, katanya sudah malam, kalo pakai
taksi takut ada apa-apa. Sesha pun mendukung Dimas, jadi Dimas mengantarku
pulang. Sampai depan rumah Dimas meminta nomor hape ku dengan alasan supaya mudah
jika ada proyek yang ingin di kerjakan sama-sama. Karena aku takut Rega
kelamaan nungguin aku, jadi aku berikan saja toh Cuma untuk proyek.
Keesokan sorenya ada nomor baru menelponku, dia mengaku
namanya Dimas. lama-lama kami sms-an dan bercerita banyak, dia menceritakan
mantannya yang tiba-tiba pergi dan aku menceritakan Rega kekasihku yang jauh di
Jerman.
Sudah beberapa hari Rega tak memberiku kabar, aku pun sangat
cemas dan khawatir. Takut terjadi apa-apa padanya karena disana dia sendirian.
Aku menelponnya, tapi tidak pernah di angkat apalagi sms, sama sekali tidak di
balas. Aku menceritakan perasaanku pada Dimas saat dia mengajakku makan di
luar, betapa aku sangat merindukan Rega dan sangat mengkhawatirkannya.
“ aku kangen banget sama Rega Dim, tapi dia sama sekali tidak
mempedulikan aku.” Mataku berkaca-kaca.
“ yaudahlah, jangan sedih gitu. Kan ada aku yang selalu ada
buat kamu. Mungkin dia lagi sibuk atau mungkin...” Dimas memegang tanganku.
“ maksud kamu apa Dim?”
aku menjawab dengan nada lantang dan melepaskan tangannya.
“ gak, kamu jangan salah sangka gitu. Yaudah, aku minta maaf.
Kamu jangan sedih lagi ya.” Dia berusaha membujukku.
“ aku sayang sama dia Dim, aku gak pengen kehilangan dia.”
aku meneteskan air mata.
“ kamu sayang dia? tapi aku sayang kamu Ze. Aku ga bisa liat
kamu sedih kaya gini.” Dimas mengusap air mataku.
“ ku kira semua hanya teman, dan kamu bisa tulus menjadi
temanku. Percuma cerita sama kamu, aku mau pulang!” aku meninggalkan Dimas.
“ Ze! Ze! Tunggu, biar aku anterin kamu” dia mengejarku dan
menarik tanganku.
Dia menjelaskan semuanya dan akhirnya aku mau di antar
pulang. Di mobil dia menjelaskan perasaannya padaku. Ku akui Dimas memang
selalu ada untukku, dia selalu mendengarkan cerita ku saat Rega tidak memberi
kabar. Tapi perasaan ku untuknya hanya sebatas teman, aku hanya menyayangi Rega.
Dimas pun mengerti, katanya dia akan membuktikan bahwa dia sanggup menunggu
sampai aku juga akan mencintai dia.
Sampai di kamar, aku hanya bisa menangis. Rega sudah tidak
bisa dihubungi, aku tidak tau akan bercerita pada siapa lagi. Aku hanya
berpikir, apa ini ujian cinta dalam jarak yang sedang aku jalani. Sakit? Iya.
Nyesek? Banget. Tapi mau gimana, aku sangat mencintai Rega bahkan aku rela
menunggu untuknya.
Lama-kelamaan Dimas semakin berani padaku, dia sering
menjemputku di rumah tanpa aku minta dan sering menelponku. Perasaan ku padanya
sudah mulai sedikit berbeda mungkin karena intensitas pertemuan kami yang
terlampau sering melebihi teman dan Rega yang sudah tidak memberiku kabar sama
sekali. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi atau ini hanya sebatas pelampiasan
kebosanan, entahlah.
“ Ze? Kita dekat sudah setahun lebih, tapi kamu tidak
menjawab perasaanku, sampai kapan aku di gantungin terus sama kamu?” tanya
Dimas dengan mata berbinar.
“ maaf Dim, sampai sekarang aku belum bisa melupakan Rega.
Kalo kamu sudah tidak sanggup lagi, kamu boleh pergi kok.” Aku tersenyum.
“ oh gitu, gak kok, aku akan tetap nungguin kamu sampai kamu
yakin dan lupa sama Rega.”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan ke sekian kalinya dari
Dimas. aku mencoba untuk yakin pada Dimas dan akhirnya aku yakin namun aku
belum bisa melupakan Rega, entah karena apa, bagi ku Rega takkan terganti walau
kami sudah hampir 3 tahun tidak bertemu.
Beberapa bulan kemudian, saat aku belanja dengan mama ku, aku
melihat Dimas dengan cewek lain. Aku pun menelponnya, namun tidak di angkat.
Berulang kali aku mencoba menelponnya namun di nonaktifkan. Baiklah, aku mulai
berpikir bahwa itu benar-benar Dimas. sesampainya di rumah Dimas menelponku dan
bertanya “ada apa?”.
“ kamu tadi di mall ya?” tanyaku pada Dimas.
“ gak kok, aku di rumah.” Jawabnya singkat.
“ aku tadi liat kamu di mall dengan seorang cewek dan kamu
menggandegnya.”
“ baiklah, kamu benar. Itu memang aku, aku sudah capek
nungguin kamu yang gak tau sampai kapan akan peka dengan perasaan ku. aku capek
di gantungin terus.”
“ oh gitu, yaudah. Kan aku udah bilang, kalo kamu udah capek
pergi aja, aku gak pernah maksa kamu untuk tetap bertahan kok.” Aku mematikan
telponnya.
Tanpa sadar air mataku mengalir deras, entah karena kecewa
atau terluka. Aku tak bisa berbuat
apa-apa melihat Dimas, untuk marah pun aku tak berhak, aku hanya seorang teman
yang Dimas bilang tidak pernah mempedulikan perasaannya. Sekarang aku merasakan
bagaimana menjadi Dimas saat aku bercerita tentang Rega. Dengan kejadian ini,
aku belajar arti kesetiaan dan penantian.
Aku belajar melupakan semuanya namun bukan Rega karena aku
akan tetap menunggu Rega sampai dia kembali. aku akan melanjutkan kuliahku
hingga selesai tanpa mencintai laki-laki lain selain Rega.
Dua tahun berlalu, aku bekerja di salah stasiun televisi
swasta. Cita-cita ku telah terwujud dan aku dapat membahagiakan keluarga dengan
jerih payahku sendiri.
“ Bu Zhea, ada yang mencari ibu di Lobby?” kata assisten ku.
“ siapa?” tanyaku balik.
“ dia tidak menyebutkan namanya, tapi katanya dia seorang
dokter spesialis kanker.”
Duuk! Jantung berdebar seakan terpukul palu godam. Aku segera
menemuinya, mungkinkah ia kekasihku. Orang yang aku tunggu selama
bertahun-tahun. dan ia menoleh ke arahku.
“ selamat siang Zhea Sadiqa, bidadari kecil yang sekarang
menjelma menjadi sang putri.” Dia tersenyum padaku, senyum yang pernah ku lihat
beberapa tahun yang lalu. Aku menghampirinya dan memeluknya erat-erat. Air
mataku jatuh tanda bahagia, aku merindukannya.
“ kapan kamu pulang?” tanyaku sambil memeluknya dengan derai
air mata yang tak berhenti.
“ seminggu yang lalu, sudah jangan nangis. Malu dialiatin
karyawan kamu.” dia tertawa kecil.
“ ah kamu jahat, pulang gak ngasi tau aku.” Aku melepaskan
pelukanku.
Dia mengajakku makan siang, dan rasanya seperti mimpi. Aku
bahkan lupa wajahnya, sekarang dia lebih tampan dan berwibawa. Hari terasa
semakin malam, aku melupakan pekerjaanku. Aku tak ingin hari ini segera
berlalu. Kami bicara banyak hal walau awalnya aku sempat canggung. Dia
membawaku ke tempat pertama kali dia mengatakan cinta saat dia baru lulus SMA,
aku ingat momen itu.
“ Ze, kamu tau. Disana tak ku temui wanita seperti mu yang
selalu mengingatkan aku ketika aku salah, mengerti aku ketika aku sibuk dan
menyemangati aku ketika aku hampir putus asa, ku akui aku sempat dekat dengan
seorang wanita namun aku tak menjalin hubungan dengannya. Aku selalu
mengingatmu, dan aku rindu pada mu dengan sangat amat rindu. Bahkan kau selalu muncul dalam mimpiku. Hari
ini aku akan katakan sesuatu. Ze, will you marry me?” dia memegang tangan ku
dan memberikan sebuah cincin.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa, aku hanya mengangguk tanda
setuju. Dia memasangkan cincin itu di tanganku dan dia memelukku dengan erat.
Aku merasa seperti kembali saat SMA dulu. Banyak hal yang ku pelajari saat
bersama Rega, betapa berartinya kebersamaan, betapa pentingnya memberi kabar
dan betapa sulitnya menanti cintamu kembali saat jarak terlampau jauh
memisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar