Sabtu, 02 Januari 2016

Patah Hati Terhebat (Part II)



Patah Hati Terhebat
(Part II)

Rasanya rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Gue capek kayak gini terus. Gue pengen keadaan balik seperti semula, seperti gak ada masalah, dan tidak ada nenek sihir manapun yang ganggu gue dan Abdi. Sekian minggu udah terlewati, namun Abdi juga masih bersikap dingin terhadap gue. Ya, mungkin dia memang benar-benar ingin setia dengan pacarnya. Gue juga menghargai sikap Abdi. Sepertinya memang gue harus move on.
Gemerincing hujan menambah kian sepinya hati ku. hanya bisa kutatap lekat di layar handphone ku wajahnya yang tersenyum manis seperti biasa kulihat setiap hari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunggu luka ini sembuh secara perlahan. Apakah akan terluka lagi? gumamku dalam hati.
Hujan masih terasa begitu lebat, menitik diantara pepohonan kecil di depan mata ku yang sedang duduk di depan kampus. Sore itu terasa sangat dingin, sedingin kesendirian. Terlihat sosok bayangan mencoba mendekati ku.
“Key!” seseorang menepuk pundak ku dari belakang.
“Eh, iya kak.” Jawabku dengan terkejut.
“Sendirian aja ni. Lagi galau ya?” dia duduk disampingku
“Ah enggak kok kak. Ni lagi nunggu hujannya brenti, dari tadi makin lama makin deres aja. Kak Tio kok belum pulang?”
“Iya emang lagi musim hujan sekarang, musimnya flashback.” Dia tertawa kecil yang juga ku sambut dengan tertawa kecil. “saya baru aja selesai rapat”.
“Oh gitu.” Aku hanya mengangguk,
“Pulang sama siapa Key?”
“Sendiri aja kak. Kakak sama siapa?”
“sama, saya juga sendiri. Mau dianterin?”
“gak usah kak. Aku bawa motor kok”
Kak Tio hanya membalas dengan anggukan. Setelah hujan sedikit reda gue pun pulang meninggalkan kak Tio yang masih berteduh di depan kampus. Benar kata kak Tio, hujan emang bawa kenangan, bikin flashback. Setiap tetes hujan yang turun membasahi bumi, seakan tiap tetesnya menyebut nama Abdi. Tak satupun terlewatkan, memori ku tentang Abdi seperti tayangan slide show yang di putar berulang setiap kali mendengar tetesan hujan.
Teh panas yang ku teguk di kamar kost pun seakan tak menghangatkan hati ini yang semakin sepi. Ku tatap layar kaca yang terang di depan ku. ku lihat seyum manis seorang laki-laki yang ku kagumi. Manis sekali. Besok pagi senyum itu juga masih dapat ku lihat. Kami begitu dekat, hanya berjarak beberapa bangku dari bangku ku ke bangkunya, tapi kenapa jarak itu terasa bagai samudera yang memisahkan dua benua, begitu jauh, hingga aku tak dapat menggapainya.
Rrrrrttttttt....
Getar hape membuyarkan lamunanku. Entah siapa yang mengirim pesan disaat gue sedang berpikir keras seperti ini, ketusku dalam hati.
“PING!!!”
Ngapain kak Tio ngeping gue, pikir gue. Apa ada barang gue yang ketinggalan tadi. Dengan penasaran gue “PING!!!” balik. Langsung di read sama kak Tio, tapi gak di bales, Cuma ada tulisan “sedang menulis pesan...”. gue jadi bingung, atau gue ada salah ngomong tadi ke dia. gue chat lagi, gue tanya  ada apa? tapi tetep Cuma di read doang. Yaudah lah, gue males mikirin itu.
Hari ini mendung menyelimuti langit yang gue tumpangi. Sialnya gue hari ini gak bawa motor, karena tadi pagi gue nebeng sama Ulfa ke kampus. Gue memandang ke atas, dan tetesan kenangan yang disebut hujan itu muncul lagi. Gue liat di sekitar kampus sudah pada sepi. Temen-temen gue satu kelas sudah pada pulang, termasuk pujaan hatiku. Gue bergegas ke parkiran, berharap disana ketemu seseorang yang mau nganterin gue pulang.
Sampai di parkiran yang gue liat Cuma tinggal beberapa motor yang tersisa. Gue berdiri disamping motor berwarna merah berharap Tuhan mengirimkan ojek untuk gue. tak lama kemudian terdengar suara gemercik air yang diinjak dengan cepat, ku lihat seorang laki-laki berlari menuju ke arah ku sambil menutupi kepalanya dengan tas.
Ku sambut ia dengan senyuman.
“Eh Keyga. Belum pulang Key?” tanya kak Tio sambil mengelap bajunya yang basah karena kehujanan.
“belum kak.” Aku menatap keatas berharap hujan segera berhenti. “nyari tebengan nih.”
“kalo gitu sama saya aja. Saya sendiri kok Key.” Kak Tio sambil mengusap motor merah yang sedang terparkir di sampingku.
“ Oh ini motor kakak. Gapapa ni kak, kost ku agak jauh soalnya.” Jawabku gak enak.
“gapapa kok, emang kost-nya dimana?”
“dari sini belok kiri kak, lurus aja sih.”
“Oh, searah dong. Yaudah, kalo ujannya udah gak lebat lagi, saya anterin kamu pulang.” Dia tersenyum menatapku yang aku balas dengan anggukan.
Ketika hujan mulai reda kami pun pergi meninggalkan parkiran yang sepi itu. ketika di jalan hujan tiba-tiba kembali lebat. Aku meminta kak Tio untuk meneruskan perjalanan, “biar aja hujan kak, aku pengen main hujan hari ini.” Kata ku pada kak Tio, yang Cuma disambut kak Tio dengan tertawaan. Kami pun tertawa bersama di tengah derasnya hujan.
Tak sengaja ku lihat ke arah kiri ku, ada seorang laki-laki yang sedang basah kuyub di suatu tempat santai. Tempat yang tidak asing bagiku, tempat yang biasa ku datangi bersama seseorang. Ku lihat Abdi sedang duduk di meja tempat biasa kami minum bersama, dia menatapku dengan pandangan yang sangat tajam. Tawaku yang begitu keras, seketika diam melihat dua bola mata yang sedang menatapku. Terasa tak enak di hatiku. Tapi mau gimana lagi, gue Cuma nebeng.
Sepanjang jalan yang ada di fikiran gue Cuma Abdi, apa yang kak Tio bicarakan udah gak gue dengar lagi.
Besoknya pas nyampe di kelas Abdi tiba-tiba narik gue keluar kelas, ini pertama kalinya Abdi nyentuh gue setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Deg...deg...deg suara jantung ku berdegup kencang, tangan ku sejuk dan bergetar hebat.
“Lo ngapain kemarin hujan-hujanan sama Tio? Ganjen banget.” Abdi membentak ku.
“Emang kenapa?” gue ngelepas genggaman tangannya. “terserah gue mau jalan sama siapa, apa urusan lo? Emang lo peduli sama gue?” mata gue berkaca-kaca menatap matanya yang coklat dan tajam itu.
“tapi gue gak suka ngeliat lo boncengan sama cowok lain! Lo ngerti gak sih!” dia memegang tangan gue yang kemudian gue sentak melapasnya.
“Lo minta gue buat ngerti lo? Emang lo ngerti sama gue, emang lo tau gimana perasaan gue pas lo tiba-tiba ninggalin gue. emang lo mikirin gue. Enggak!” gue menyeka air mata yang hampir luruh itu. “Elo Cuma mikirin perasaan elo sendiri. Lo tu egois!”
“Enggak key, bukan gitu. Gue bukan ninggalin lo. Gue Cuma... gue Cuma...” Abdi tergagap-gagap.
“Cuma apa? Cuma pengen setia. Yaudah, lo setia aja sama Viola. Gue gapapa kok. itu pilihan lo!”
Kriiiingg...
Tiba-tiba hape gue berbunyi, ada yang nelpon.
“Iya halo?” jawab gue sambil tersedu-sedu.
kamu kenapa Key?” terdengar suara kak Tio dari seberang sana.
“gak kok kak” gue meninggalkan Abdi dan masuk ke dalam kelas. “ada apa kak?”
kantin yuk? Belom masuk kan?
“belum kok. aku kesana sekarang. Ketemu di kantin aja ya.” Aku menutup telpon dan mengambil tas.
Ku jalani jalan setapak di depan kelasku menuju kantin. Butiran bening jatuh menitik di sepatu ku. terlihat jelas tatapan mata yang ku tinggalkan tadi. Aku benar-benar kecewa padanya. Terasa sesak  didada ini mengingat kenangan beberapa minggu yang lalu. Goresan luka yang diucapkannya ketika ingin mengakhiri hubungan kami masih tertancap begitu dalam, terlalu dalam, hingga belum ku temukan obatnya.
Sampai di kantin meja nomor 3, aku pesan Es teh manis. Karena kopi terlalu panas untuk cuaca hati yang sedang memanas ini. Sambil menunggu Tio Bramantio datang menemuiku, kulihat sekelilingku. Ku tatap mereka satu persatu, mereka berpasangan. Aku tertunduk dan tersenyum, tak pantas kah aku merasakan hal yang sama seperti mereka? salahkah aku jatuh cinta pada kekasih orang lain? Aku hanya dapat bertanya pada hatiku, masih sanggupkah aku bertahan dengan perasaan yang sudah hampir terbunuh ini.
“Key?” sapa seseorang di depanku.
“hem?” Jawabku sekenanya.
“kamu kenapa? Cerita aja sama aku.” Kak Tio mengusap pundak ku.
“gak kok kak.”
Selagi aku masih sanggup memendam, aku akan memendamnya, aku tak akan menyusah kan kak Tio. Hanya menghapus air mata aku masih sanggup aku hapus dengan tangan ku sendiri. Aku masih tegak berdiri.
“yaudah udah makan es krim yuk. aku lagi pengen makan es krim nih.” Dia mencoba menghibur ku, karena dia tau aku suka es krim. “mbak! Es krim coklat dua ya!” teriaknya pada mbak-mbak yang berada beberapa meter dari kami.
Hari ini aku belajar melupakan seseorang yang telah menyakitiku, dan belajar menghargai seseorang yang berada bersama ku. Siapapun mungkin bisa berubah, tapi kenangan tak kan hilang begitu saja. Kata orang, patah hati terhebat hanya ada sekali dalam seumur hidup, dan ku rasa inilah masanya.
 Seiring terlewatnya detik hari ini bersama kak Tio, dengan habisnya es krim yang makan bersama tegukan air mata yang ku pendam. Ku harap jangan ada lagi air mata semacam ini di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar