Patah
Hati Terhebat
(Part
II)
Rasanya
rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Gue capek kayak gini terus. Gue
pengen keadaan balik seperti semula, seperti gak ada masalah, dan tidak ada
nenek sihir manapun yang ganggu gue dan Abdi. Sekian minggu udah terlewati,
namun Abdi juga masih bersikap dingin terhadap gue. Ya, mungkin dia memang
benar-benar ingin setia dengan pacarnya. Gue juga menghargai sikap Abdi.
Sepertinya memang gue harus move on.
Gemerincing
hujan menambah kian sepinya hati ku. hanya bisa kutatap lekat di layar
handphone ku wajahnya yang tersenyum manis seperti biasa kulihat setiap hari.
Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunggu luka ini sembuh secara
perlahan. Apakah akan terluka lagi? gumamku dalam hati.
Hujan
masih terasa begitu lebat, menitik diantara pepohonan kecil di depan mata ku
yang sedang duduk di depan kampus. Sore itu terasa sangat dingin, sedingin
kesendirian. Terlihat sosok bayangan mencoba mendekati ku.
“Key!”
seseorang menepuk pundak ku dari belakang.
“Eh,
iya kak.” Jawabku dengan terkejut.
“Sendirian
aja ni. Lagi galau ya?” dia duduk disampingku
“Ah
enggak kok kak. Ni lagi nunggu hujannya brenti, dari tadi makin lama makin
deres aja. Kak Tio kok belum pulang?”
“Iya
emang lagi musim hujan sekarang, musimnya flashback.” Dia tertawa kecil yang
juga ku sambut dengan tertawa kecil. “saya baru aja selesai rapat”.
“Oh
gitu.” Aku hanya mengangguk,
“Pulang
sama siapa Key?”
“Sendiri
aja kak. Kakak sama siapa?”
“sama,
saya juga sendiri. Mau dianterin?”
“gak
usah kak. Aku bawa motor kok”
Kak
Tio hanya membalas dengan anggukan. Setelah hujan sedikit reda gue pun pulang
meninggalkan kak Tio yang masih berteduh di depan kampus. Benar kata kak Tio,
hujan emang bawa kenangan, bikin flashback. Setiap tetes hujan yang turun
membasahi bumi, seakan tiap tetesnya menyebut nama Abdi. Tak satupun
terlewatkan, memori ku tentang Abdi seperti tayangan slide show yang di putar berulang
setiap kali mendengar tetesan hujan.
Teh
panas yang ku teguk di kamar kost pun seakan tak menghangatkan hati ini yang
semakin sepi. Ku tatap layar kaca yang terang di depan ku. ku lihat seyum manis
seorang laki-laki yang ku kagumi. Manis sekali. Besok pagi senyum itu juga
masih dapat ku lihat. Kami begitu dekat, hanya berjarak beberapa bangku dari bangku
ku ke bangkunya, tapi kenapa jarak itu terasa bagai samudera yang memisahkan
dua benua, begitu jauh, hingga aku tak dapat menggapainya.
Rrrrrttttttt....
Getar
hape membuyarkan lamunanku. Entah siapa yang mengirim pesan disaat gue sedang
berpikir keras seperti ini, ketusku dalam hati.
“PING!!!”
Ngapain
kak Tio ngeping gue, pikir gue. Apa ada barang gue yang ketinggalan tadi.
Dengan penasaran gue “PING!!!” balik. Langsung di read sama kak Tio, tapi gak
di bales, Cuma ada tulisan “sedang menulis pesan...”. gue jadi bingung, atau
gue ada salah ngomong tadi ke dia. gue chat lagi, gue tanya ada apa? tapi tetep Cuma di read doang.
Yaudah lah, gue males mikirin itu.
Hari
ini mendung menyelimuti langit yang gue tumpangi. Sialnya gue hari ini gak bawa
motor, karena tadi pagi gue nebeng sama Ulfa ke kampus. Gue memandang ke atas,
dan tetesan kenangan yang disebut hujan itu muncul lagi. Gue liat di sekitar
kampus sudah pada sepi. Temen-temen gue satu kelas sudah pada pulang, termasuk
pujaan hatiku. Gue bergegas ke parkiran, berharap disana ketemu seseorang yang
mau nganterin gue pulang.
Sampai
di parkiran yang gue liat Cuma tinggal beberapa motor yang tersisa. Gue berdiri
disamping motor berwarna merah berharap Tuhan mengirimkan ojek untuk gue. tak
lama kemudian terdengar suara gemercik air yang diinjak dengan cepat, ku lihat
seorang laki-laki berlari menuju ke arah ku sambil menutupi kepalanya dengan
tas.
Ku
sambut ia dengan senyuman.
“Eh
Keyga. Belum pulang Key?” tanya kak Tio sambil mengelap bajunya yang basah karena
kehujanan.
“belum
kak.” Aku menatap keatas berharap hujan segera berhenti. “nyari tebengan nih.”
“kalo
gitu sama saya aja. Saya sendiri kok Key.” Kak Tio sambil mengusap motor merah
yang sedang terparkir di sampingku.
“
Oh ini motor kakak. Gapapa ni kak, kost ku agak jauh soalnya.” Jawabku gak
enak.
“gapapa
kok, emang kost-nya dimana?”
“dari
sini belok kiri kak, lurus aja sih.”
“Oh,
searah dong. Yaudah, kalo ujannya udah gak lebat lagi, saya anterin kamu
pulang.” Dia tersenyum menatapku yang aku balas dengan anggukan.
Ketika
hujan mulai reda kami pun pergi meninggalkan parkiran yang sepi itu. ketika di
jalan hujan tiba-tiba kembali lebat. Aku meminta kak Tio untuk meneruskan
perjalanan, “biar aja hujan kak, aku pengen main hujan hari ini.” Kata ku pada
kak Tio, yang Cuma disambut kak Tio dengan tertawaan. Kami pun tertawa bersama
di tengah derasnya hujan.
Tak
sengaja ku lihat ke arah kiri ku, ada seorang laki-laki yang sedang basah kuyub
di suatu tempat santai. Tempat yang tidak asing bagiku, tempat yang biasa ku
datangi bersama seseorang. Ku lihat Abdi sedang duduk di meja tempat biasa kami
minum bersama, dia menatapku dengan pandangan yang sangat tajam. Tawaku yang
begitu keras, seketika diam melihat dua bola mata yang sedang menatapku. Terasa
tak enak di hatiku. Tapi mau gimana lagi, gue Cuma nebeng.
Sepanjang
jalan yang ada di fikiran gue Cuma Abdi, apa yang kak Tio bicarakan udah gak
gue dengar lagi.
Besoknya
pas nyampe di kelas Abdi tiba-tiba narik gue keluar kelas, ini pertama kalinya
Abdi nyentuh gue setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Deg...deg...deg
suara jantung ku berdegup kencang, tangan ku sejuk dan bergetar hebat.
“Lo
ngapain kemarin hujan-hujanan sama Tio? Ganjen banget.” Abdi membentak ku.
“Emang
kenapa?” gue ngelepas genggaman tangannya. “terserah gue mau jalan sama siapa,
apa urusan lo? Emang lo peduli sama gue?” mata gue berkaca-kaca menatap matanya
yang coklat dan tajam itu.
“tapi
gue gak suka ngeliat lo boncengan sama cowok lain! Lo ngerti gak sih!” dia
memegang tangan gue yang kemudian gue sentak melapasnya.
“Lo
minta gue buat ngerti lo? Emang lo ngerti sama gue, emang lo tau gimana
perasaan gue pas lo tiba-tiba ninggalin gue. emang lo mikirin gue. Enggak!” gue
menyeka air mata yang hampir luruh itu. “Elo Cuma mikirin perasaan elo sendiri.
Lo tu egois!”
“Enggak
key, bukan gitu. Gue bukan ninggalin lo. Gue Cuma... gue Cuma...” Abdi
tergagap-gagap.
“Cuma
apa? Cuma pengen setia. Yaudah, lo setia aja sama Viola. Gue gapapa kok. itu
pilihan lo!”
Kriiiingg...
Tiba-tiba
hape gue berbunyi, ada yang nelpon.
“Iya
halo?” jawab gue sambil tersedu-sedu.
“kamu kenapa Key?” terdengar suara kak
Tio dari seberang sana.
“gak
kok kak” gue meninggalkan Abdi dan masuk ke dalam kelas. “ada apa kak?”
“kantin yuk? Belom masuk kan?”
“belum
kok. aku kesana sekarang. Ketemu di kantin aja ya.” Aku menutup telpon dan
mengambil tas.
Ku
jalani jalan setapak di depan kelasku menuju kantin. Butiran bening jatuh
menitik di sepatu ku. terlihat jelas tatapan mata yang ku tinggalkan tadi. Aku
benar-benar kecewa padanya. Terasa sesak
didada ini mengingat kenangan beberapa minggu yang lalu. Goresan luka
yang diucapkannya ketika ingin mengakhiri hubungan kami masih tertancap begitu
dalam, terlalu dalam, hingga belum ku temukan obatnya.
Sampai
di kantin meja nomor 3, aku pesan Es teh manis. Karena kopi terlalu panas untuk
cuaca hati yang sedang memanas ini. Sambil menunggu Tio Bramantio datang
menemuiku, kulihat sekelilingku. Ku tatap mereka satu persatu, mereka
berpasangan. Aku tertunduk dan tersenyum, tak pantas kah aku merasakan hal yang
sama seperti mereka? salahkah aku jatuh cinta pada kekasih orang lain? Aku
hanya dapat bertanya pada hatiku, masih sanggupkah aku bertahan dengan perasaan
yang sudah hampir terbunuh ini.
“Key?”
sapa seseorang di depanku.
“hem?”
Jawabku sekenanya.
“kamu
kenapa? Cerita aja sama aku.” Kak Tio mengusap pundak ku.
“gak
kok kak.”
Selagi
aku masih sanggup memendam, aku akan memendamnya, aku tak akan menyusah kan kak
Tio. Hanya menghapus air mata aku masih sanggup aku hapus dengan tangan ku
sendiri. Aku masih tegak berdiri.
“yaudah
udah makan es krim yuk. aku lagi pengen makan es krim nih.” Dia mencoba
menghibur ku, karena dia tau aku suka es krim. “mbak! Es krim coklat dua ya!”
teriaknya pada mbak-mbak yang berada beberapa meter dari kami.
Hari
ini aku belajar melupakan seseorang yang telah menyakitiku, dan belajar menghargai
seseorang yang berada bersama ku. Siapapun mungkin bisa berubah, tapi kenangan
tak kan hilang begitu saja. Kata orang, patah hati terhebat hanya ada sekali
dalam seumur hidup, dan ku rasa inilah masanya.
Seiring terlewatnya detik hari ini bersama kak
Tio, dengan habisnya es krim yang makan bersama tegukan air mata yang ku
pendam. Ku harap jangan ada lagi air mata semacam ini di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar