Pagi ini
cerah. Minggu yang paling cerah setelah 4 tahun aku belum pernah olahraga pagi.
Biasanya Cuma tiduran di kamar sambil dengerin lagu Sheila On 7. Mungkin karena
biasa yang ku pandang adalah langit-langit kamar, tapi hari ini ku pandang
langit biru, juga kamu.
Ga kerasa
ya, 4 tahun sudah ga ketemu, 4 tahun sudah ku hidup dengan kerjaan yang
menumpuk, atau mungkin kerasa. Cuma akunya aja yang memilih cara lain untuk
melupakan kehilangan. Hari ini ingin ku tanya apa kabar kamu? Kok kurusan
sekarang? Tapi ga jadi, soalnya kata orang kalau nanyain itu tandanya belum move on, padahal kan iya.
Aku ini
manusia kuno yang belum menerapkan kesetaraan gender, sama kayak dulu, waktu kamu hilang sebelum sempat kumiliki.
Aku ini masih seperti dulu, temenmu yang masih sering berharap tanpa berucap.
Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu masih seperti yang dulu, dingin dan suka
menghilang. Bodohnya aku, bertanya tanpa bersuara. Cuma berani menulis, yang ku
tau kamu tidak akan pernah membacanya.
Sepanjang
jalan aku hanya berpikir, apa kita akan berjalan dengan berdiam-diaman seperti
ini. Aku yang malu memulai, kamu yang malas memulai, lalu bagaimana?
Dua ratus
meter sudah kita berjalan bersama, tapi belum ada satu suarapun diantara kita.
Memasuki meter ke 300 aku masih diam dengan aneka ragam pertanyaan di kepala
ku. “gimana kerjaan kamu?” katamu memecah kesunyian kita diantara keramaian
orang-orang yang sedang berolahraga. Dengan banyak berdebar aku Cuma bisa
“ha?”. Aku kaget juga senang secara bersamaan.
“kerjaan
kamu yang disini gimana? Lancar?” tanyamu memperjelas.
“oh. Lancar.
Biasa aja aku mah.” Maksudnya seperti biasa.
“kamu sering
kesini?”
“baru
pertama kalinya ini setelah 4 tahun. Kamu ngapain disini?”
“lagi ada
proyek sampe 3 bulan ke depan, sekalian mau nostalgia masa muda” katamu
tersenyum enteng.
“ooohh”. Aku
jadi berpikir apa maksudnya kamu ngomong nostalgia selama 3 bulan? Apa
maksudnya kamu mau aku nemenin kamu selama 3 bulan disini? Apa aku Cuma mau
dijadikan tempat sandaran sementara? Maaf aku selalu berpikir negatif. Ini Cuma
sebagai pertahanan diriku agar tidak luka untuk yang kebanyak kalinya. Ku pikir
kamu mengerti maksudku.
Masih
berjalan bersama, aku memandangi mereka yang berjalan berpasangan, sama seperti
kita, bedanya mungkin mereka pasangan yang punya ikatan, kita adalah pasangan
berstatus teman lama yang baru saja ketemu setelah 4 tahun berpisah. Masih
dalam suasana canggung dan masih dalam rindu yang belum tersalurkan. Iya, aku
kok yang rindu, enggak tau kalo kamu.
Entah karena
jodoh, entah karena sugesti diri ku yang berlebihan, kamu tiba-tiba muncul di
grup chatting yang saat itu aku sedang bersenda gurau dengan teman-teman yang
lain. 2 tahun grup itu terbentuk, aku belum pernah melihatmu lintas, dan
melihat namamu di daftar, entah siapa yang memasukkan namamu seakan sengaja
membuat ku bahagia sekaligus membuka luka lama. Aku yang terlihat kuat dan
sibuk setiap hari adalah aku yang menyembunyikan luka lama yang kadang masih
berdarah setiap kali mengingat kehilangan.
Masih jelas
terakhir kalinya ku lihat punggungmu menjauh dengan baju merah menyala seperti
luka yang menganga di hatiku saat itu. Dengan sadar kamu bilang bahwa kita
tidak berjodoh, aku lebih baik mencari laki-laki yang lebih dewasa. Dan kamu
akan mencari wanita yang lebih mudah mengerti. Lalu kenapa semalam kau menelpon
mengajak ketemu? Apa sekarang jodohmu sudah pergi dan menyuruhmu mencari jodoh
lain? Bodohnya kenapa aku mau-maunya menemui luka?
Ku harap
kamu tau tanpa perlu ku jelaskan, kenapa aku ada disini untuk bertemu kamu setelah
sekian lama kau tinggalkan. Jujur aku senang bertemu kamu lagi, aku senang kamu
masih mengingatku, aku senang diajak olahraga pagi olehmu. Tapi aku juga takut.
Bukan, bukan takut kehilanganmu. Tapi takut jatuh hati lagi padamu, jatuh
sejatuh-jatuhnya seperti tempo hari. Pagi ini saja, aku merasa terlampau
senang, belum apa-apa aku sudah berkhayal bahwa kau esok akan mengajak ku
bersenang-senang, bahwa kau akan membawa ku ke tempat-tempat indah, bahwa kau
akan membahagiakanku. Kita bahkan belum satu jam berjalan berdua. Aku dengan
tidak malunya berkhayal demikian, bahkan dengan keadaan aku tidak tau statusmu,
aku tidak tau kenapa kau tiba-tiba disini, aku tidak tau apa kau akan membuat
luka baru. Aku terlampau lancang merindukanmu hingga lupa diri. Maaf.
Ingin ku
desak mulutmu, berbicaralah sesuatu agar pertanyaan-pertanyaan ini sedikit
hilang di kepala ku!
“duduk
disana yuk, aku capek.” Ajak ku menunjuk tribun yang dekat dengan penjual
jajanan.
“oke”.
Ku harap
dibangku itu aku bisa mendapat jawaban atas pertanyaanku 4 tahun lalu. Semoga.
Aku sudah gak peduli malu, biar saja.
“aku beli
minuman dulu ya, kamu duduk aja” katamu langsung meninggalkan.
Aku
mengangguk tanda iya.
Aku
menunggumu dengan perasaan cemas sekaligus berdebar. Setelah ku tanyakan, aku
ga peduli reaksimu akan seperti apa, biar saja kau akan meninggalkan ku lagi.
Kepalang tanggung, aku sudah terluka. Aku hanya ingin sedikit menyembuhkannya.
“ini” katamu
menyodorkan sebotol susu coklat dingin. “ku harap aku masih benar, kamu masih
suka coklatkan?”
“iya”
jawabku dengan senyum.
“Gis, aku
tau ini mungkin aneh bagi kamu, atau apapun yang ada dipikiran kamu, tapi aku
gabisa boong, aku kangen banget sama kamu”. Kamu memandangku, pandangan yang
selalu saja langsung menancap ke mata ku. Pandangan ini yang selalu membuat ku
tak bisa mengelak, walau sudah 4 tahun berlalu.
“mmmm?” aku
bagai terkejut. Dan aku memang benar-benar terkejut. Apa yang bisa membuatmu mengatakan itu. Dulu,
sulit sekali ku dengar kata itu keluar dari mulutmu, apa sekarang kamu sudah
belajar menghangatkan hatimu untuk seorang perempuan, atau bagaimana?
“kamu kaget
ya? Iya, aku tau ini mungkin terlambat. 4 tahun aku pergi, hari ini aku balik
lagi dengan tiba-tiba. Tapi gak tau kenapa, setelah aku mendapat tugas kesini
yang ku ingat pertama kali Cuma kamu”. Aku merasa ini bukan kamu, kau yang aku
kenal bukan laki-laki yang mudah berkata manis. Aku senang dan bingung, apa 4
tahun bisa mengubah orang menjadi orang lain, kok aku enggak? Apa 4 tahun bisa
melunakkan hati orang lain, kok aku enggak?
“gini, gini.
Apa ya?” aku bagai nanya ke diriku sendiri. Mencoba mencari kata-kata yang pas
untuk ku ucapkan pada teman lamaku ini.
“aku gak tau
ya kamu ini datang dari mana, ada keperluan apa datang lagi kesini, dan
tiba-tiba ngajak ketemuan. Oke, aku senang ketemu lagi, sebagai teman lamamu
atau sebagai orang yang pernah berharap sama kamu dulu. Aku tau, kamu pasti
udah tau kalau aku dulu sayang sama kamu, sayang yang lebih dari temen. Mungkin
kamu Cuma menghargai aku sebagai teman mu, but, It’s OK. Tunggu, tunggu dulu,
kamu jangan ngomong dulu” kataku yang
melihat mulutmu terbuka seperti akan memotong omonganku. “kata-kata kamu
terakhir kali itu, cukup menyakitkan. Sampai sekarang aku berpikir, kalau
memang kamu tau aku ini bukan jodohmu, bukan orang yang bisa mengerti kamu,
lalu untuk apa kamu bersikap berlebihan dari seorang teman ke aku. Jika memang
maumu hanya sebatas teman, katakan sedari awal, jangan pernah melarangku
mendekati laki-laki lain. Kamu tidak mau menjadi pacarku, tapi kamu melarangku
dekat dengan laki-laki lain, kamu selalu memintaku untuk menemanimu main
futsal, menemanimu nongkrong bersama kawan-kawanmu, menemanimu keluar malam
minggu. Untuk apa semua itu?! Maaf hari ini aku banyak bicara, aku sudah
memendamnya cukup lama”. Mungkin pagi itu cuaca cerah, tapi mataku redup,
menahan yang memang harusnya ditahan.
Kamu
tiba-tiba mendekapkan kepala ku di dadamu, tanpa aku bisa menolaknya. Tidak,
aku tidak menangis, mataku hanya berkaca-kaca.
“sudah. Aku
minta maaf ya. Aku salah. Aku terlambat minta maaf.”
Masih mendekap
di dadamu, aku merasa ingin memberontak, tapi tertahan pada perasaan yang entah
apa namanya.
“aku ingin
menebus kesalahan-kesalahan ku Gis.” Sambung mu sambil melepas peluk dan
kembali menghadapkan wajahmu kepadaku.
Aku tidak
bisa berkata apa-apa. Mulutku seakan malas berbicara. Dalam hatiku merengut, “kita
lihat saja, sampai sejauh apa kau membuktikan omongan mu”. Aku ini pendendam
yang handal. Kamu harus tahu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar