Selasa, 13 November 2018

Hilang yang Ditemukan




Pagi ini cerah. Minggu yang paling cerah setelah 4 tahun aku belum pernah olahraga pagi. Biasanya Cuma tiduran di kamar sambil dengerin lagu Sheila On 7. Mungkin karena biasa yang ku pandang adalah langit-langit kamar, tapi hari ini ku pandang langit biru, juga kamu.
Ga kerasa ya, 4 tahun sudah ga ketemu, 4 tahun sudah ku hidup dengan kerjaan yang menumpuk, atau mungkin kerasa. Cuma akunya aja yang memilih cara lain untuk melupakan kehilangan. Hari ini ingin ku tanya apa kabar kamu? Kok kurusan sekarang? Tapi ga jadi, soalnya kata orang kalau nanyain itu tandanya belum move on, padahal kan iya.
Aku ini manusia kuno yang belum menerapkan kesetaraan gender, sama kayak dulu, waktu kamu hilang sebelum sempat kumiliki. Aku ini masih seperti dulu, temenmu yang masih sering berharap tanpa berucap. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu masih seperti yang dulu, dingin dan suka menghilang. Bodohnya aku, bertanya tanpa bersuara. Cuma berani menulis, yang ku tau kamu tidak akan pernah membacanya.
Sepanjang jalan aku hanya berpikir, apa kita akan berjalan dengan berdiam-diaman seperti ini. Aku yang malu memulai, kamu yang malas memulai, lalu bagaimana?
Dua ratus meter sudah kita berjalan bersama, tapi belum ada satu suarapun diantara kita. Memasuki meter ke 300 aku masih diam dengan aneka ragam pertanyaan di kepala ku. “gimana kerjaan kamu?” katamu memecah kesunyian kita diantara keramaian orang-orang yang sedang berolahraga. Dengan banyak berdebar aku Cuma bisa “ha?”. Aku kaget juga senang secara bersamaan.
“kerjaan kamu yang disini gimana? Lancar?” tanyamu memperjelas.
“oh. Lancar. Biasa aja aku mah.” Maksudnya seperti biasa.
“kamu sering kesini?”
“baru pertama kalinya ini setelah 4 tahun. Kamu ngapain disini?”
“lagi ada proyek sampe 3 bulan ke depan, sekalian mau nostalgia masa muda” katamu tersenyum enteng.
“ooohh”. Aku jadi berpikir apa maksudnya kamu ngomong nostalgia selama 3 bulan? Apa maksudnya kamu mau aku nemenin kamu selama 3 bulan disini? Apa aku Cuma mau dijadikan tempat sandaran sementara? Maaf aku selalu berpikir negatif. Ini Cuma sebagai pertahanan diriku agar tidak luka untuk yang kebanyak kalinya. Ku pikir kamu mengerti maksudku.
Masih berjalan bersama, aku memandangi mereka yang berjalan berpasangan, sama seperti kita, bedanya mungkin mereka pasangan yang punya ikatan, kita adalah pasangan berstatus teman lama yang baru saja ketemu setelah 4 tahun berpisah. Masih dalam suasana canggung dan masih dalam rindu yang belum tersalurkan. Iya, aku kok yang rindu, enggak tau kalo kamu.
Entah karena jodoh, entah karena sugesti diri ku yang berlebihan, kamu tiba-tiba muncul di grup chatting yang saat itu aku sedang bersenda gurau dengan teman-teman yang lain. 2 tahun grup itu terbentuk, aku belum pernah melihatmu lintas, dan melihat namamu di daftar, entah siapa yang memasukkan namamu seakan sengaja membuat ku bahagia sekaligus membuka luka lama. Aku yang terlihat kuat dan sibuk setiap hari adalah aku yang menyembunyikan luka lama yang kadang masih berdarah setiap kali mengingat kehilangan.
Masih jelas terakhir kalinya ku lihat punggungmu menjauh dengan baju merah menyala seperti luka yang menganga di hatiku saat itu. Dengan sadar kamu bilang bahwa kita tidak berjodoh, aku lebih baik mencari laki-laki yang lebih dewasa. Dan kamu akan mencari wanita yang lebih mudah mengerti. Lalu kenapa semalam kau menelpon mengajak ketemu? Apa sekarang jodohmu sudah pergi dan menyuruhmu mencari jodoh lain? Bodohnya kenapa aku mau-maunya menemui luka?
Ku harap kamu tau tanpa perlu ku jelaskan, kenapa aku ada disini untuk bertemu kamu setelah sekian lama kau tinggalkan. Jujur aku senang bertemu kamu lagi, aku senang kamu masih mengingatku, aku senang diajak olahraga pagi olehmu. Tapi aku juga takut. Bukan, bukan takut kehilanganmu. Tapi takut jatuh hati lagi padamu, jatuh sejatuh-jatuhnya seperti tempo hari. Pagi ini saja, aku merasa terlampau senang, belum apa-apa aku sudah berkhayal bahwa kau esok akan mengajak ku bersenang-senang, bahwa kau akan membawa ku ke tempat-tempat indah, bahwa kau akan membahagiakanku. Kita bahkan belum satu jam berjalan berdua. Aku dengan tidak malunya berkhayal demikian, bahkan dengan keadaan aku tidak tau statusmu, aku tidak tau kenapa kau tiba-tiba disini, aku tidak tau apa kau akan membuat luka baru. Aku terlampau lancang merindukanmu hingga lupa diri. Maaf.
Ingin ku desak mulutmu, berbicaralah sesuatu agar pertanyaan-pertanyaan ini sedikit hilang di kepala ku!
“duduk disana yuk, aku capek.” Ajak ku menunjuk tribun yang dekat dengan penjual jajanan.
“oke”.
Ku harap dibangku itu aku bisa mendapat jawaban atas pertanyaanku 4 tahun lalu. Semoga. Aku sudah gak peduli malu, biar saja.
“aku beli minuman dulu ya, kamu duduk aja” katamu langsung meninggalkan.
Aku mengangguk tanda iya.
Aku menunggumu dengan perasaan cemas sekaligus berdebar. Setelah ku tanyakan, aku ga peduli reaksimu akan seperti apa, biar saja kau akan meninggalkan ku lagi. Kepalang tanggung, aku sudah terluka. Aku hanya ingin sedikit menyembuhkannya.
“ini” katamu menyodorkan sebotol susu coklat dingin. “ku harap aku masih benar, kamu masih suka coklatkan?”
“iya” jawabku dengan senyum.
“Gis, aku tau ini mungkin aneh bagi kamu, atau apapun yang ada dipikiran kamu, tapi aku gabisa boong, aku kangen banget sama kamu”. Kamu memandangku, pandangan yang selalu saja langsung menancap ke mata ku. Pandangan ini yang selalu membuat ku tak bisa mengelak, walau sudah 4 tahun berlalu.
“mmmm?” aku bagai terkejut. Dan aku memang benar-benar terkejut.  Apa yang bisa membuatmu mengatakan itu. Dulu, sulit sekali ku dengar kata itu keluar dari mulutmu, apa sekarang kamu sudah belajar menghangatkan hatimu untuk seorang perempuan, atau bagaimana?
“kamu kaget ya? Iya, aku tau ini mungkin terlambat. 4 tahun aku pergi, hari ini aku balik lagi dengan tiba-tiba. Tapi gak tau kenapa, setelah aku mendapat tugas kesini yang ku ingat pertama kali Cuma kamu”. Aku merasa ini bukan kamu, kau yang aku kenal bukan laki-laki yang mudah berkata manis. Aku senang dan bingung, apa 4 tahun bisa mengubah orang menjadi orang lain, kok aku enggak? Apa 4 tahun bisa melunakkan hati orang lain, kok aku enggak?
“gini, gini. Apa ya?” aku bagai nanya ke diriku sendiri. Mencoba mencari kata-kata yang pas untuk ku ucapkan pada teman lamaku ini.
“aku gak tau ya kamu ini datang dari mana, ada keperluan apa datang lagi kesini, dan tiba-tiba ngajak ketemuan. Oke, aku senang ketemu lagi, sebagai teman lamamu atau sebagai orang yang pernah berharap sama kamu dulu. Aku tau, kamu pasti udah tau kalau aku dulu sayang sama kamu, sayang yang lebih dari temen. Mungkin kamu Cuma menghargai aku sebagai teman mu, but, It’s OK. Tunggu, tunggu dulu, kamu jangan ngomong dulu”  kataku yang melihat mulutmu terbuka seperti akan memotong omonganku. “kata-kata kamu terakhir kali itu, cukup menyakitkan. Sampai sekarang aku berpikir, kalau memang kamu tau aku ini bukan jodohmu, bukan orang yang bisa mengerti kamu, lalu untuk apa kamu bersikap berlebihan dari seorang teman ke aku. Jika memang maumu hanya sebatas teman, katakan sedari awal, jangan pernah melarangku mendekati laki-laki lain. Kamu tidak mau menjadi pacarku, tapi kamu melarangku dekat dengan laki-laki lain, kamu selalu memintaku untuk menemanimu main futsal, menemanimu nongkrong bersama kawan-kawanmu, menemanimu keluar malam minggu. Untuk apa semua itu?! Maaf hari ini aku banyak bicara, aku sudah memendamnya cukup lama”. Mungkin pagi itu cuaca cerah, tapi mataku redup, menahan yang memang harusnya ditahan.
Kamu tiba-tiba mendekapkan kepala ku di dadamu, tanpa aku bisa menolaknya. Tidak, aku tidak menangis, mataku hanya berkaca-kaca.
“sudah. Aku minta maaf ya. Aku salah. Aku terlambat minta maaf.”
Masih mendekap di dadamu, aku merasa ingin memberontak, tapi tertahan pada perasaan yang entah apa namanya.
“aku ingin menebus kesalahan-kesalahan ku Gis.” Sambung mu sambil melepas peluk dan kembali menghadapkan wajahmu kepadaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mulutku seakan malas berbicara. Dalam hatiku merengut, “kita lihat saja, sampai sejauh apa kau membuktikan omongan mu”. Aku ini pendendam yang handal. Kamu harus tahu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar