Malam itu terasa
sangat dingin karena hujan baru saja reda. Kulihat layar ponselku, jam sudah
menunjukkan pukul 23.37. “ah sudah larut ternyata. Ini pasti karena anak-anak
terlalu asik berdebat” tuturku dalam hati. Aku salah satu aktivis kampus yang sering
rapat sampai larut malam seperti ini. Tapi siang tadi aku tidak membawa
kendaraan ke kampus, aku menaiki kendaraan umum. Jadi malam ini aku harus
pulang menaiki kendaraan umum, jika tidak ada ya harus rela berjalan kaki.
“Din!!” kudengar
seseorang meneriaki ku dari kejauhan. Ku lihat ke belakang dan ternyata
seseorang yang tidak ingin kulihat. Aku melengus berjalan tak menghiraukannya.
Aku semakin mempercepat jalanku.
“Din, tunggu!”
ku dengar lagi suara itu. Kampret! Gerutu ku pelan. Kenapa sih harus ada dia. Aku
sudah lama tak ingin melihat wajahnya. Ku
dengar suara sepatu seseorang berlari ke arahku. Dengan berusaha tenang,
aku tetap melanjutkan perjalananku berharap sebuah taksi lewat agar segera
berakhir drama bodoh ini.
“buang saja
gengsimu itu, ayo ku antar pulang.” Dia menarik tanganku, hingga ku rasakan ada
sesuatu yang bergetar hebat di dadaku. Tak terasa kasar, hanya saja aku tak
ingin mengingat tentang ini. “sebentar lagi ada taksi lewat, aku akan naik taksi
jadi tolong lepaskan tanganmu!” ku hempaskan tangan itu hingga terlepas.
Sebenarnya aku
benci mengingat ini. Sudah sejak lama aku berusaha lari, dan setelah aku
berhasil dia malah datang seenak jidatnya memberi pertolongan yang entah apa
maksudnya. “aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudahlah anggap saja ini
permintaan maafku. Hei, berhenti dulu.”
Aku menghentikan langkahku. Seketika darahku naik mendengar ucapan yang seakan
aku adalah pihak yang bersalah.
“apa yang
barusan kamu katakan? Permintaan maaf? Permintaan maaf seperti apa yang kamu
maksudkan? Hei! Dengar ya Dim, kamu pergi ninggalin aku tanpa aku tau salahku
apa sama kamu! Aku pergi ke rumah kamu, dan kulihat kamu masuk ke dalam mobil
bersama seorang gadis yang sangat aku kenal. Lalu setelah itu kamu hilang bagai
ditelan bumi! Dan… dan…” aku menghentikan ucapanku, menarik nafas dalam-dalam
takut air mataku jatuh hanya karena orang yang tidak mengerti arti ketulusan.
“Din, itu sudah
berlalu sangat lama. Aku minta maaf karena aku pergi tanpa pamit. Tapi malam
ini aku hanya ingin menolongmu, ini sudah sangat larut dan kamu itu perempuan,
aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian seperti ini.”
“bukankah dulu
aku sudah sering seperti ini? dan kau sudah sering membiarkan ku pulang
sendiri. Sudahlah, aku sudah memaafkan mu. Sekarang pergi saja seperti kau dulu
menghilang tanpa kabar dan jangan pernah menoleh pada ku lagi.” Aku beranjak
pergi meninggalkan Dimas. Ku hempaskan kakiku menginjak kubangan lumpur sisa
hujan tadi. Aku tak mendengar langkah kakinya mendekat, berarti dia memang
tidak lagi mengejarku. Aku berharap hujan segera turun agar tak ada yang
melihat air mataku luruh karena laki-laki yang tidak pernah menepati janji.
Aku tidak
mengerti jalan pikirannya. Setelah bertahun-tahun dia menghilang, tiba-tiba dia
datang menawarkan bantuan dan meminta
maaf. Berharap semuanya baik-baik saja, memang dia pikir dia siapa. Anak
jendral? Anak presiden? Dasar laki-laki!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar