Senin, 27 Juni 2016

Sepenggal Masa Lalu Part 1

Malam itu terasa sangat dingin karena hujan baru saja reda. Kulihat layar ponselku, jam sudah menunjukkan pukul 23.37. “ah sudah larut ternyata. Ini pasti karena anak-anak terlalu asik berdebat” tuturku dalam hati. Aku salah satu aktivis kampus yang sering rapat sampai larut malam seperti ini. Tapi siang tadi aku tidak membawa kendaraan ke kampus, aku menaiki kendaraan umum. Jadi malam ini aku harus pulang menaiki kendaraan umum, jika tidak ada ya harus rela berjalan kaki.
“Din!!” kudengar seseorang meneriaki ku dari kejauhan. Ku lihat ke belakang dan ternyata seseorang yang tidak ingin kulihat. Aku melengus berjalan tak menghiraukannya. Aku semakin mempercepat jalanku.
“Din, tunggu!” ku dengar lagi suara itu. Kampret! Gerutu ku pelan. Kenapa sih harus ada dia. Aku sudah lama tak ingin melihat wajahnya. Ku  dengar suara sepatu seseorang berlari ke arahku. Dengan berusaha tenang, aku tetap melanjutkan perjalananku berharap sebuah taksi lewat agar segera berakhir drama bodoh ini.
“buang saja gengsimu itu, ayo ku antar pulang.” Dia menarik tanganku, hingga ku rasakan ada sesuatu yang bergetar hebat di dadaku. Tak terasa kasar, hanya saja aku tak ingin mengingat tentang ini. “sebentar lagi ada taksi lewat, aku akan naik taksi jadi tolong lepaskan tanganmu!” ku hempaskan tangan itu hingga terlepas.
Sebenarnya aku benci mengingat ini. Sudah sejak lama aku berusaha lari, dan setelah aku berhasil dia malah datang seenak jidatnya memberi pertolongan yang entah apa maksudnya. “aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudahlah anggap saja ini permintaan maafku. Hei,  berhenti dulu.” Aku menghentikan langkahku. Seketika darahku naik mendengar ucapan yang seakan aku adalah pihak yang bersalah.
“apa yang barusan kamu katakan? Permintaan maaf? Permintaan maaf seperti apa yang kamu maksudkan? Hei! Dengar ya Dim, kamu pergi ninggalin aku tanpa aku tau salahku apa sama kamu! Aku pergi ke rumah kamu, dan kulihat kamu masuk ke dalam mobil bersama seorang gadis yang sangat aku kenal. Lalu setelah itu kamu hilang bagai ditelan bumi! Dan… dan…” aku menghentikan ucapanku, menarik nafas dalam-dalam takut air mataku jatuh hanya karena orang yang tidak mengerti arti ketulusan.
“Din, itu sudah berlalu sangat lama. Aku minta maaf karena aku pergi tanpa pamit. Tapi malam ini aku hanya ingin menolongmu, ini sudah sangat larut dan kamu itu perempuan, aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian seperti ini.”
“bukankah dulu aku sudah sering seperti ini? dan kau sudah sering membiarkan ku pulang sendiri. Sudahlah, aku sudah memaafkan mu. Sekarang pergi saja seperti kau dulu menghilang tanpa kabar dan jangan pernah menoleh pada ku lagi.” Aku beranjak pergi meninggalkan Dimas. Ku hempaskan kakiku menginjak kubangan lumpur sisa hujan tadi. Aku tak mendengar langkah kakinya mendekat, berarti dia memang tidak lagi mengejarku. Aku berharap hujan segera turun agar tak ada yang melihat air mataku luruh karena laki-laki yang tidak pernah menepati janji.

Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Setelah bertahun-tahun dia menghilang, tiba-tiba dia datang menawarkan bantuan  dan meminta maaf. Berharap semuanya baik-baik saja, memang dia pikir dia siapa. Anak jendral? Anak presiden? Dasar laki-laki!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar