Senin, 27 Juni 2016

Sepenggal Masa Lalu part 2

Setelah aku pulang kemalaman karena rapat di kampus kemarin, aku sedikit kelelahan. Aku tidak sakit. Aku tidak suka sakit. Sejujurnya, semenjak kejadian kemarin malam aku jadi berpikir, apakah setiap laki-laki seperti itu? Dia datang memberi harapan, setelah dia puas bermain-main dia pergi dengan wanita lain tanpa dia tahu kalau yang dia lakukan membuat wanitanya patah hati. Entahlah, apakah itu masih pantas disebut patah hati? Atau lebih parah dari sekedar patah hati.
Aku sudah bosan dengan cerita cinta yang segitu-gitu aja, selalu sama. Berawal dari pendekatan yang membuat seseorang menjadi orang lain, jadian, selingkuh, lalu putus dan menghilang. Aku teringat tentang apa yang diucapkan Dimas kemarin, “”aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudahlah anggap saja ini permintaan maafku…””. Seenak itu dia tiba-tiba datang dan meminta maaf setelah dia pergi begitu saja memutuskan hubungan kami. Sebenarnya aku bisa melupakan Dimas dengan mudah sejak dulu, yang aku tidak bisa lupakan bahwa dia selingkuh dengan Aurel, sahabatku sejak SMP. Tidak ada kecurigaanku terhadap mereka, tiba-tiba saja ku lihat mereka jalan berdua seperti tidak merasa bersalah. Hah! Sudah lah. Aku sudah berjanji untuk tidak mengingat hal ini lagi, teriakku dalam hati. Aku lalu beranjak dari tempat tidur dan langsung mandi.
Hari ini rasanya sangat melelahkan, apalagi cuaca hari ini sangat terik. Hampir saja aku lupa bahwa aku ada janji dengan dosen untuk bimbingan skripsi. Aku bergegas menuju ruang dosen. Sesampainya disana aku tak melihat ada dosen pembimbing ku.
“maaf pak, pak Edi Darmawannya ada?” kata ku pada salah satu dosen yang sedang duduk dihadapanku.
“sepertinya dia sudah pergi, katanya tadi ada seminar.”
“oh begitu. Terima kasih pak.” Sudah beberapa kali pak Edi menelantarkan aku seperti ini. Rasanya ingin cepat-cepat lulus. Mengejar dosen pembimbing itu lebih susah daripada mengejar gebetan.
Aku berjalan menuju kantin yang berada di lantai dasar.
“hai Din!” seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“hai kak.” Aku tersenyum padanya.
“kok lesu gitu? Kenapa?”
“beginilah kak, tadi janjian sama pak Edi mau bimbingan, pas udah nyamperin, eh malah dianya gak ada. Di PHP-in terus sama pak Edi. Oh, ya. Kak Abdi ngapain disini? Gak kerja?” kak Abdi lalu mengusap kepala ku. Senyumnya sangat manis, tapi sayang senyum itu tak pernah bisa meluluhkan hatiku.
“kakak lagi ada kerjaan disini. Besok kan libur ya, gimana kalo kita jalan?”. Aku hanya mengernyitkan dahiku. “ayolah. Daripada kamu suntuk. Gabaik loh nolak rezeki.” Kak Abdi lalu menyenggolku pelan.
“oke deh. Nanti aku kabarin lagi ya kak. Kakak lagi ada kerjaan kan? Yaudah kerja lagi kak, aku mau ke bawah dulu ya, daaa” jawabku sambil berlalu meninggalkan kak Abdi.
Kak Abdi ini orangnya baik banget, tanggung jawab dan sangat dewasa, beda banget sama Dimas. Tapi kebaikan dan tanggung jawab kak Abdi tidak cukup untuk meluluhkan hatiku yang sudah terlanjur tertutup oleh sakit hatiku terhadap masa lalu. Aku sudah malas dengan siklus pacaran yang seperti ini.
Walau kak Abdi sudah beberapa kali menyatakan perasaan sayangnya padaku, tapi aku belum bisa membalasnya. Kak Abdi tidak pernah marah setiap kali mendengar jawabanku, dia hanya berkata “oh, sepertinya kakak kurang keras ya berjuangnya. Ya sudah, lain kali kakak coba lagi.” Lalu tidak lupa dibubuhi dengan senyum manisnya. Banyak yang berkata aku ini bodoh karena menyia-nyiakan lelaki seperti kak Abdi, tapi andai mereka tahu alasanku mengapa aku seperti itu pada kak Abdi, mereka pasti mengerti. Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Dahulu, sebelum kami menjalin cinta, Dimas juga seperti itu. Dia sangat baik, dia selalu menepati janjinya, dia tidak pernah membuat ku kecewa. Dia selalu jadi seperti apa yang aku inginkan, tapi setelah berbulan-bulan kemudian apa yang terjadi? Dia berubah, dia tidak pernah peduli lagi terhadapku. Bahkan, saat kami janjian untuk makan malam merayakan hari ulang tahunku, dia melupakannya. Dia membiarkan aku menunggunya sendirian, pulang sendiri, dan besoknya dia bukannya minta maaf malah dia bersikap seolah-olah aku yang salah.

Aku tidak membenci laki-laki, hanya saja aku benci pada sikap mereka selalu manis di awal tapi berujung pahit di akhir. Bodohnya lagi, wanita selalu saja menangis walau ia sudah pernah merasakan sakit yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar