Minggu, 24 Juli 2016

Sepenggal Masa Lalu part 3

Malam ini hujan turun lagi dan aku masih di halte menunggu bus yang lewat, tapi sudah lama menunggu satu pun tidak ada, mungkin karena hujan. Ku lihat ada sebuah motor yang mendekat ke arah ku, sepertinya ia juga berteduh disini. Dari kejauhan ku lihat ia sudah basah kuyup. Ia berhenti tepat di depanku.
“oh hey Din.” sapanya.
Ternyata itu kak Abdi. Mau apa dia disini, tanyaku dalam hati.
“eh iya kak, kirain siapa.”
“iya nih, abis pulang kerja tadi eh kehujanan, yaudah berteduh disini dulu, taunya ketemu bidadari”
“apaan sih kakak. Gombal aja.”
“emang bener kok, kamu cantiknya melebihi bidadari Din. Oh iya, jadi gimana keputusannya? Mau jalan bareng kakak besok?”
Dipikir-pikir aku memang kurang jalan-jalan, sibuk ngurusin skripsi mulu, kalau gak skripsi ya urusan organisasi. “yaudah deh, aku mau kak.” Ucapku ku pada kak Abdi.
“nah gitu dong, aku jemput di rumah ya besok?” bibirnya sedikit bergetar tanda kedinginan, aku hanya mengangguk tanda setuju. “kamu kedinginan ya? Nih pakai jaket kakak aja, belum dipake kok, nih.” Dia memberikan jaket yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Aku kasian, kak Abdi sampai segitunya padahal dia sendiri kedinginan.
“gak usah kak, aku gak kedinginan kok, kan kakak yang basah-basahan tuh.”
“aku mah sakit juga gak apa-apa, kamu tuh kalo sakit nanti malah gak selesai skripsinya. Nih pake aja.” Dia memakaikan jaketnya ke aku.
“eh, makasih kak. Kakak kok ngomongnya gitu, lagian aku suka hujan kok, mungkin kalo aku gak bawa laptop ini aku udah pulang sambil ujan-ujanan.” Sambil menunjukkan tas kecilku tempat menyimpan laptop.
“kalo gitu ayo kita pulang sambil ujan-ujanan, tas kakak anti air kok.” Jawabnya antusias.
“ayo kak, nih laptopnya masukin dulu.”
Kak Abdi langsung menghidupkan motornya dan kami pulang dengan kondisi hujan deras. Rasanya lega banget. Kami bercanda sambil ketawa-ketawa, padahal kak Abdi sudah bergetar kedinginan tapi dia masih saja mencoba mengajakku bercanda dan aku hanya meledeknya. Aku baru sadar, selama ini kak Abdi sudah sangat peduli dengan ku. Setiap kesepian dia selalu ada, tapi aku selalu mengabaikan dia. Bodohnya aku , hanya karena masa lalu, aku membunuh hatiku dan menguburnya dalam-dalam, tak menyisakan hati lain untuk menyembuhkannya.
Malam ini ku rasakan sangat indah, hati ku tenang. Semua beban, lelah hati dan fikiran terasa hilang. Momen ini tidak mungkin kudapatkan dua kali. Sesekali aku berfikir bahwa jika aku menerima kak Abdi, aku takut dia akan seperti Dimas. Aku terlalu takut menerima risiko kalau suatu saat kak Abdi meninggalkanku disaat aku sedang sayang-sayangnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar