Sabtu, 02 Januari 2016

Patah Hati Terhebat (Part II)



Patah Hati Terhebat
(Part II)

Rasanya rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Gue capek kayak gini terus. Gue pengen keadaan balik seperti semula, seperti gak ada masalah, dan tidak ada nenek sihir manapun yang ganggu gue dan Abdi. Sekian minggu udah terlewati, namun Abdi juga masih bersikap dingin terhadap gue. Ya, mungkin dia memang benar-benar ingin setia dengan pacarnya. Gue juga menghargai sikap Abdi. Sepertinya memang gue harus move on.
Gemerincing hujan menambah kian sepinya hati ku. hanya bisa kutatap lekat di layar handphone ku wajahnya yang tersenyum manis seperti biasa kulihat setiap hari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunggu luka ini sembuh secara perlahan. Apakah akan terluka lagi? gumamku dalam hati.
Hujan masih terasa begitu lebat, menitik diantara pepohonan kecil di depan mata ku yang sedang duduk di depan kampus. Sore itu terasa sangat dingin, sedingin kesendirian. Terlihat sosok bayangan mencoba mendekati ku.
“Key!” seseorang menepuk pundak ku dari belakang.
“Eh, iya kak.” Jawabku dengan terkejut.
“Sendirian aja ni. Lagi galau ya?” dia duduk disampingku
“Ah enggak kok kak. Ni lagi nunggu hujannya brenti, dari tadi makin lama makin deres aja. Kak Tio kok belum pulang?”
“Iya emang lagi musim hujan sekarang, musimnya flashback.” Dia tertawa kecil yang juga ku sambut dengan tertawa kecil. “saya baru aja selesai rapat”.
“Oh gitu.” Aku hanya mengangguk,
“Pulang sama siapa Key?”
“Sendiri aja kak. Kakak sama siapa?”
“sama, saya juga sendiri. Mau dianterin?”
“gak usah kak. Aku bawa motor kok”
Kak Tio hanya membalas dengan anggukan. Setelah hujan sedikit reda gue pun pulang meninggalkan kak Tio yang masih berteduh di depan kampus. Benar kata kak Tio, hujan emang bawa kenangan, bikin flashback. Setiap tetes hujan yang turun membasahi bumi, seakan tiap tetesnya menyebut nama Abdi. Tak satupun terlewatkan, memori ku tentang Abdi seperti tayangan slide show yang di putar berulang setiap kali mendengar tetesan hujan.
Teh panas yang ku teguk di kamar kost pun seakan tak menghangatkan hati ini yang semakin sepi. Ku tatap layar kaca yang terang di depan ku. ku lihat seyum manis seorang laki-laki yang ku kagumi. Manis sekali. Besok pagi senyum itu juga masih dapat ku lihat. Kami begitu dekat, hanya berjarak beberapa bangku dari bangku ku ke bangkunya, tapi kenapa jarak itu terasa bagai samudera yang memisahkan dua benua, begitu jauh, hingga aku tak dapat menggapainya.
Rrrrrttttttt....
Getar hape membuyarkan lamunanku. Entah siapa yang mengirim pesan disaat gue sedang berpikir keras seperti ini, ketusku dalam hati.
“PING!!!”
Ngapain kak Tio ngeping gue, pikir gue. Apa ada barang gue yang ketinggalan tadi. Dengan penasaran gue “PING!!!” balik. Langsung di read sama kak Tio, tapi gak di bales, Cuma ada tulisan “sedang menulis pesan...”. gue jadi bingung, atau gue ada salah ngomong tadi ke dia. gue chat lagi, gue tanya  ada apa? tapi tetep Cuma di read doang. Yaudah lah, gue males mikirin itu.
Hari ini mendung menyelimuti langit yang gue tumpangi. Sialnya gue hari ini gak bawa motor, karena tadi pagi gue nebeng sama Ulfa ke kampus. Gue memandang ke atas, dan tetesan kenangan yang disebut hujan itu muncul lagi. Gue liat di sekitar kampus sudah pada sepi. Temen-temen gue satu kelas sudah pada pulang, termasuk pujaan hatiku. Gue bergegas ke parkiran, berharap disana ketemu seseorang yang mau nganterin gue pulang.
Sampai di parkiran yang gue liat Cuma tinggal beberapa motor yang tersisa. Gue berdiri disamping motor berwarna merah berharap Tuhan mengirimkan ojek untuk gue. tak lama kemudian terdengar suara gemercik air yang diinjak dengan cepat, ku lihat seorang laki-laki berlari menuju ke arah ku sambil menutupi kepalanya dengan tas.
Ku sambut ia dengan senyuman.
“Eh Keyga. Belum pulang Key?” tanya kak Tio sambil mengelap bajunya yang basah karena kehujanan.
“belum kak.” Aku menatap keatas berharap hujan segera berhenti. “nyari tebengan nih.”
“kalo gitu sama saya aja. Saya sendiri kok Key.” Kak Tio sambil mengusap motor merah yang sedang terparkir di sampingku.
“ Oh ini motor kakak. Gapapa ni kak, kost ku agak jauh soalnya.” Jawabku gak enak.
“gapapa kok, emang kost-nya dimana?”
“dari sini belok kiri kak, lurus aja sih.”
“Oh, searah dong. Yaudah, kalo ujannya udah gak lebat lagi, saya anterin kamu pulang.” Dia tersenyum menatapku yang aku balas dengan anggukan.
Ketika hujan mulai reda kami pun pergi meninggalkan parkiran yang sepi itu. ketika di jalan hujan tiba-tiba kembali lebat. Aku meminta kak Tio untuk meneruskan perjalanan, “biar aja hujan kak, aku pengen main hujan hari ini.” Kata ku pada kak Tio, yang Cuma disambut kak Tio dengan tertawaan. Kami pun tertawa bersama di tengah derasnya hujan.
Tak sengaja ku lihat ke arah kiri ku, ada seorang laki-laki yang sedang basah kuyub di suatu tempat santai. Tempat yang tidak asing bagiku, tempat yang biasa ku datangi bersama seseorang. Ku lihat Abdi sedang duduk di meja tempat biasa kami minum bersama, dia menatapku dengan pandangan yang sangat tajam. Tawaku yang begitu keras, seketika diam melihat dua bola mata yang sedang menatapku. Terasa tak enak di hatiku. Tapi mau gimana lagi, gue Cuma nebeng.
Sepanjang jalan yang ada di fikiran gue Cuma Abdi, apa yang kak Tio bicarakan udah gak gue dengar lagi.
Besoknya pas nyampe di kelas Abdi tiba-tiba narik gue keluar kelas, ini pertama kalinya Abdi nyentuh gue setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Deg...deg...deg suara jantung ku berdegup kencang, tangan ku sejuk dan bergetar hebat.
“Lo ngapain kemarin hujan-hujanan sama Tio? Ganjen banget.” Abdi membentak ku.
“Emang kenapa?” gue ngelepas genggaman tangannya. “terserah gue mau jalan sama siapa, apa urusan lo? Emang lo peduli sama gue?” mata gue berkaca-kaca menatap matanya yang coklat dan tajam itu.
“tapi gue gak suka ngeliat lo boncengan sama cowok lain! Lo ngerti gak sih!” dia memegang tangan gue yang kemudian gue sentak melapasnya.
“Lo minta gue buat ngerti lo? Emang lo ngerti sama gue, emang lo tau gimana perasaan gue pas lo tiba-tiba ninggalin gue. emang lo mikirin gue. Enggak!” gue menyeka air mata yang hampir luruh itu. “Elo Cuma mikirin perasaan elo sendiri. Lo tu egois!”
“Enggak key, bukan gitu. Gue bukan ninggalin lo. Gue Cuma... gue Cuma...” Abdi tergagap-gagap.
“Cuma apa? Cuma pengen setia. Yaudah, lo setia aja sama Viola. Gue gapapa kok. itu pilihan lo!”
Kriiiingg...
Tiba-tiba hape gue berbunyi, ada yang nelpon.
“Iya halo?” jawab gue sambil tersedu-sedu.
kamu kenapa Key?” terdengar suara kak Tio dari seberang sana.
“gak kok kak” gue meninggalkan Abdi dan masuk ke dalam kelas. “ada apa kak?”
kantin yuk? Belom masuk kan?
“belum kok. aku kesana sekarang. Ketemu di kantin aja ya.” Aku menutup telpon dan mengambil tas.
Ku jalani jalan setapak di depan kelasku menuju kantin. Butiran bening jatuh menitik di sepatu ku. terlihat jelas tatapan mata yang ku tinggalkan tadi. Aku benar-benar kecewa padanya. Terasa sesak  didada ini mengingat kenangan beberapa minggu yang lalu. Goresan luka yang diucapkannya ketika ingin mengakhiri hubungan kami masih tertancap begitu dalam, terlalu dalam, hingga belum ku temukan obatnya.
Sampai di kantin meja nomor 3, aku pesan Es teh manis. Karena kopi terlalu panas untuk cuaca hati yang sedang memanas ini. Sambil menunggu Tio Bramantio datang menemuiku, kulihat sekelilingku. Ku tatap mereka satu persatu, mereka berpasangan. Aku tertunduk dan tersenyum, tak pantas kah aku merasakan hal yang sama seperti mereka? salahkah aku jatuh cinta pada kekasih orang lain? Aku hanya dapat bertanya pada hatiku, masih sanggupkah aku bertahan dengan perasaan yang sudah hampir terbunuh ini.
“Key?” sapa seseorang di depanku.
“hem?” Jawabku sekenanya.
“kamu kenapa? Cerita aja sama aku.” Kak Tio mengusap pundak ku.
“gak kok kak.”
Selagi aku masih sanggup memendam, aku akan memendamnya, aku tak akan menyusah kan kak Tio. Hanya menghapus air mata aku masih sanggup aku hapus dengan tangan ku sendiri. Aku masih tegak berdiri.
“yaudah udah makan es krim yuk. aku lagi pengen makan es krim nih.” Dia mencoba menghibur ku, karena dia tau aku suka es krim. “mbak! Es krim coklat dua ya!” teriaknya pada mbak-mbak yang berada beberapa meter dari kami.
Hari ini aku belajar melupakan seseorang yang telah menyakitiku, dan belajar menghargai seseorang yang berada bersama ku. Siapapun mungkin bisa berubah, tapi kenangan tak kan hilang begitu saja. Kata orang, patah hati terhebat hanya ada sekali dalam seumur hidup, dan ku rasa inilah masanya.
 Seiring terlewatnya detik hari ini bersama kak Tio, dengan habisnya es krim yang makan bersama tegukan air mata yang ku pendam. Ku harap jangan ada lagi air mata semacam ini di kemudian hari.

Feel Something Strage



Feel Something Strage

Feel something strange itu ketika hari-hari lo yang ceria berubah jadi garing. Aneh. Kesepian? Iya sih kayanya. Biasanya ada yang nemenin, ada yang nganterin, ada yang becandain. Sekarang udah gak ada. Kangen? Kayanya juga iya. Kangen pengen ke tempat yang biasa bikin gue ngakak sampe ngejengkang gak bisa brenti, kangen banget ngetawain hal-hal yang sebenarnya biasa aja, tapi karena kekonyolan mereka jadinya kocak. Kangen.
Pengen ngeliat dia ketawa lagi kaya biasanya. Pengen liat dia kaya dulu, gak kaya sekarang, diem, main hape, terus ngerokok. Pengen ngeliat dia punya pacar, tapi... kalo ngeliat dia bbm-an terus ketawa sendiri kok kayak feel something strange. Jelous? Hmmmm maybe...
Cuma bisa ngeliat dari foto aja sih. Selebihnya sok-sok biasa aja. Kalo ngeliat foto dia lagi ketawa lepas, rasa bersalah gue sedikit berkurang. Pengen kaya dulu, bisa ketawa lepas sama-sama, jalan sama-sama, pokonya bisa ngumpul lagi kaya dulu. jujur, gue gak suka suasana canggung kaya gini. Gue bukan tipe orang yang seneng diem-dieman kaya gini. Kaya ada pembatas. Tapi yaudah lah, demi janji. Gue udah janji dan gak bakalan gue ingkarin lagi. Kasian sama yang jauh, udah nunggu lama.

Patah Hati Terhebat (Part I)



Patah Hati Terhebat
(Part I)

Sedih itu ketika lo udah deket, banget, tapi gak punya status apa-apa, ditambah lagi dia udah punya pacar dan lo harus ngejauhin dia. iya, gue ngalamin hal bodoh semacam itu. gue udah berpengalaman patah hati, tapi kali ini patah hati terhebat gue. gue gak tau kenapa gue bisa sesayang ini sama dia. hari-hari gue jadi lebih menyeramkan daripada seorang jomblo karena gue satu kelas sama dia. gue tiap hari ngeliat dia, gue tiap hari ketemu, gue tiap hari liat senyumnya, tapi gue gak bisa lagi ngobrol sama dia, itu melebihi patah hati kronis.
Semua berawal dari siang itu. waktu jam istirahat selesai makan, gue nyantai sama temen gue, tiba-tiba dia datang nyamperin kita, terus cerita-cerita sambil ketawa-ketawa bersama. sebelumnya, selama kuliah dan satu kelas dia gak pernah ngomong sama gue, bahkan kalo ketemu acuh banget. Gue yang udah lama merhatiin dan pengen kenalan juga langsung minta nomor hapenya. Langsung dikasih sama dia.
Gue liat keseharian dia di kelas, dia orangnya baik, tertarik dengan humor, dan dia menarik gue buat kenalan lebih jauh. Gue tau namanya Abdi Nugraha tapi gue pengen tau hidup dia dan kalo bisa gue pengen hadir dihidupnya.
“Di. Minta nomor hape lo dong?” gue langsung nyamber pas dia keluar kelas yang gue lagi duduk di luar kelas.
“oh. Tunggu ya, gue gak hapal.” Jawabnya sambil ngecek hape. “Nih.”  Dia melihatkan hapenya.
“Itu nomor gue.” gue langsung nelpon nomor dia dan nge-save nomorya.
“oke, gue masuk dulu.”
Dengan ini, maka pendekatan kami pun bermula. Gue yang emang udah suka dari awal mencoba untuk dekat. Gue pengen sms duluan takut gak di bales. Pengen nanya-nanya takut dibilang sok akrab. Pengen nanya tentang tugas, tapi lagi gak ada tugas. Gue bingung gimana mau ngehubungin dia. akhinya setelah nyali gue terkumpul dan udah larut malam juga, gue mencoba untuk nelpon dia.
Ketika gue telpon gue pikir dia udah tidur dan gak bakal diangkat. Tapi ternyata diangkat. Gue gak tau ngomong apa, gue gugup banget. Mentoknya gue cuma nanya “kok belum tidur?” yang kemudian dia jawab sambil tertawa kecil “males ah tidur jam segini”. Lalu gue becandain dia. seperti biasa dia tertawa dan membalas becandaan gue. saat itu gue gak bisa berhenti tersenyum. Tapi semua berubah ketika telponnya mati. Dan gue telpon lagi.
“kenapa Di?” tanya gue.
hape gue lowbatt, udahan dulu ya. Gue ngantuk.” Jawab dia.
“tadi katanya males tidur. Yaudah deh.” Dia langsung menutup telponnya.
Malam itu gue berharap pagi segera datang biar gue bisa secepatnya liat dia. gue bahkan berharap bisa hadir dimimpinya. Iya. Gue emang baper banget orangya.
Seperti pagi-pagi biasanya, dia datang duluan di kampus. Dia tidak menghiraukan kedatangan gue. padahal gue berharap ditegur atau disapa sama dia. tapi yaudahlah ya. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, gue pun menyapa dia yang keliatannya lagi pengen makan, untungnya dia gak makan orang.
“kemana Di?” tanya gue yang sedang berdebar hebat.
“tuh, pengen ke depan.” Abdi sambil memanyunkan bibirnya.
“Oh gitu.”
“yaudah ya. Gue duluan.”
Gue hanya membalas dengan senyum yang juga dia bales dengan senyuman. Saat itu gue masih belum tau kalo dia udah punya pacar. Dengan bersemangat gue makan sambil terseyum kegirangan kaya orang gila yang kehabisan obat, nyengir-nyengir gak karuan. Gue berharap jam 1 segera tiba biar waktu istirahat segera berlalu dan gue bisa secepatnya ngeliat dia.
Akhirnya dengan makanan gue habis dan gue udah sempet becanda sama temen-temen gue, Abdi pun tiba dengan rombongannya. Dia nyamperin gue yang lagi duduk sama temen-temen. Ngajakin gue main kuis-kuisan di gadget. Waktu itu dia lagi nyalain musik di hapenya, terus gue pinjem. Niatnya pengen nyetel musik yang lain. Pas selesai dengan lancangnya gue ngeliat foto-foto dia. ada foto cewek yang bikin gue terkejut, dan foto cewek itu sama Abdi mesra banget.
“ini Viola kan?” gue sambil ngeliatin foto itu ke Abdi.
“Iya, emang Viola. Kenapa?”
“ oh, Viola kan pacarnya Irfan kan?” jawab gue memastikan kalo cewek ini bukan pacarnya Abdi.
“ haha. Iya sih, dulu.” sambil tertawa kecil “sekarang pacar gue” sangkalnya.
“Oh gitu.”
Dooorr! Hati gue kayak dipukul dan tombak. Hancur berkeping-keping, pecah tak terarah. Gue Cuma bisa senyum. Tapi gue masih biasa aja. Berarti gue gak bisa deketin dia, pikir gue dalam hati.
Malamnya dia nanya tentang tugas ke gue. dan gue jawab seadanya. Tapi kok hati gue bilang pengen sms-an lebih ya, kebetulan juga emang gue lagi kesepian. Abdi ngejawab sms gue dengan cuek tapi seru bisa dijadiin bahan becandaan. Sms-an semacam ini berlanjut berhari-hari. Gue seneng bisa kenal dia, walau gue tau dia udah punya pacar.
Di kelas dia juga sering deketin gue. niat gue yang semula pengen mundur, makin lama makin gak pengen mundur. Gue tau kok gue salah udah jadi orang ketiga dalam hubungan orang, tapi ya gimana. Emang kita bisa ngatur kita mau jatuh cinta sama siapa. Kalo gitu mah, orang jelek didunia ini gak bakalan punya pasangan.
Malam itu, entah malam keberapa setelah gue kenal dia. dia nelpon gue. gue gak tau kenapa dia nelpon gue tiba-tiba. Tapi gue seneng banget, hati gue berbunga-bunga, kalo bunga yang dihati gue bisa gue makan mungkin gue bakalan gemuk, saking gregetnya.
“ iya halo Di?” jawab gue sambil senyum-senyum.
iya.” Jawab Abdi singkat.
“ Ada apa? ga biasanya nelpon?”
gapapa kok. Emang ga boleh ya?”
“loh kok nanya gue. kan situ yang punya pacar.” Gue mencoba menggodanya.
pacar gue mah sibuk terus.” Katanya lalu terdiam sebentar, “ sibuk sama temennya.”
“ loh kok gitu?”
ya emang gitu. Yaudah lah, ngapain bahas dia. mending bahas kita.” Dia tertawa kecil.
Walau pun mungkin bagi dia itu Cuma sekedar lelucon, tapi bagi gue itu kode kalau gue masih punya kesempatan buat deket sama dia. Gue tau kok kalo dia kesepian. Iya kesepian, karena pacarnya sering sibuk sendiri, lagi pun mereka LDR. Yaudah, gue rela kok kalau dia harus bagi waktu buat gue dan pacarnya.
Setiap hari dihidup gue jadi manis banget semenjak kehadirannya. Gue yang tiap hari kesepian dan berteman game online, semenjak ia datang hidup gue jauh lebih berwarna. Gue jadi semangat jalanin kuliah. Tugas apapun dari dosen bagi gue kesempatan buat gue dekat sama dia, dan tugas adalah jembatan untuk hubungan gue dan Abdi. Hampir semua hal gue lakukan sama dia. gue seneng aja dia mau nurutin apa kata gue, dan keliatannya dia juga seneng bisa nemenin gue. semuanya indah banget sebelum si nenek sihir itu menyihir Abdi buat ngejauh dari gue. Kampret!
Rrrrrrtttt.....
Hape gue bergetar tanda panggilan masuk. Gue pandangin hape gue, “nomer siapa ni?” pikir gue.
“iya halo.” Jawab gue.
Lo Keyga kan?” tanya seorang cewek bersuara lantang di seberang sana.
“iya, gue Keyga. Ini siapa?” tanya gue bingung.
Gue ingetin elo ya. Kalo mau nyari cowok tu cari yang single, jangan cari yang udah taken! Jangan lagi lo gangguin Abdi! Dia itu pacar gue!” ucapnya dengan nada lantang.
“lo ngancem gue?”
gue gak ngancem lo. Gue minta lo baik-baik. Jauhin Abdi, jangan lagi lo deket-deket sama Abdi. Ngerti lo!.”
Dia langsung mematikan telponnya. Gue gak tau apa yang harus gue lakukan saat itu. gue Cuma bisa mendem, nangis pun rasanya percuma. Tapi gue gak akan nyerah, karena hati gue udah terlanjur terpaut sama Abdi. Gue harus kuat dengan ini.
Besoknya nyampe di kelas Abdi gak nyapa gue dan dia lebih banyak diam dari biasanya. Dengan rasa penasaran gue pun memulai obrolan yang menusuk itu.
“Di, apa kata Viola?” kata gue yang duduk di samping Abdi.
“Viola mau gue jauhin lo.” Dia berhenti, lalu dengan menarik nafas panjang dia berkata “udah ya. Udah cukup”.
“udah cukup? Apanya yang udah cukup?” kata gue bingung
“kitanya. Gue tau ini bakal sakit, kita juga udah terlalu jauh. Gue sayang sama dia, gue juga gak bisa jauh dari lo sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, gue udah punya pacar, dan lo masih bisa kok nemuin orang lain yang jauh lebih dari gue.”
“gitu? Tapi gue udah terlanjur tergantung sama lo. Mungkin lo bisa ngejauh dari gue, tapi gue?” gue menyeka setes air mata yang hampir luruh “kayanya gue gak bisa. Maafin gue”
“kita masih bisa ngobrol kok, kita masih bisa ketemu, kita masih bisa becanda, gak ada yang berubah, Cuma akan ada yang beda aja. Kita gak bisa sms-an lagi, gue juga gak bisa lagi nelpon lo, gue juga gak bisa jemput lo. Gak akan ada yang berubah dari kita. Lo ngerti kan maksud gue.”
“gue ngerti kok. Gue gak akan ganggu lo sama Viola. Tapi jangan pernah paksa gue buat ngilangin rasa ini. Karena gue gak bisa.”
Abdi terdiam. Gue pun langsung pergi ke luar dan meninggalkan Abdi yang duduk di kelas. Sebenarnya gue gak pengen ngejauh dari Abdi, gue gak takut sama Viola. Tapi Abdi yang minta gue jauhin dia, ya gue bisa apa? percayalah, diminta buat ngejauhin orang yang kita sayang oleh orang itu sendiri rasanya mungkin mirip sama dilindes truk gandeng. Gue tau kok, Abdi sebenarnya berat ngomong gitu ke gue, tapi karena tu nenek sihir Abdi jadi gitu ke gue. gue bener-bener gak tau mesti ngapain, apa yang dosen jelasin bener-bener mantul di otak gue. gue gak konsen, gue down banget.
Malam itu kayak ada yang beda. Abdi yang tiap malam nelpon, sekarang udah gak pernah lagi nelpon, bahkan gue gak berani sms dia lagi. Hari-hari gue jadi kesepian banget. Kuliah pun rasanya gak semangat. Biasanya kuliah diantar jemput sama Abdi, lunch juga sama Abdi, pokoknya semua sama Abdi. Giliran sekarang, semuanya serba sendiri. Beneran deh, gue mendingan diledekin  jones dari pada patah hati kayak gini. Sakitnya dimana-mana.
Tapi walau gimana pun sikap Abdi ke gue sekarang, perasaan gue gak bakal berubah sekalipun dia udah milik orang lain. Gue bakal terus perjuangin perasaan gue walau dalam diam. Gue gak peduli apa kata orang, mau mereka bilang gue bodoh, gila, stress atau apapun gak akan merubah niat gue untuk bertahan dengan perasaan ini.

Rabu, 30 Desember 2015

may be it's last post in 2015

Bentar lagi tahun baru nih gaes...
gimana? semangat udah baru belom? teman udah baru? sahabat udah baru? atau pacar udah baru?
semoga tahun depan kita semua jadi yang lebih baik lagi.
oh ya, bicara tahun baru, gue udah punya rencana nih, pengen ke pantai liat sunset terakhir di tahun 2015 dan sunrise pertama di tahun 2016. tentunya bersama orang yang spesial dung.
tentang orang spesial, akhir-akhir ini ada yang kehilang orang spesial *gueh*.
kehilangan sahabat sekaligus teman spesial, iya termasuk spesial karena dulunya selalu bisa bikin ketawa walau sekarang udah beda, beda banget.
udah kayak orang gak kenal. jangankan ketawa bersama, sekedar say "hello" aja udah canggung banget rasanya.
aneh sih, yang dulunya paling tau, sekarang jadi gak tau apa-apa.
yang dulunya sering bersama, sekarang malah gak pernah sama-sama.
capek tau drama terus..
cielah udah kaya film radio galau. hahaha
see ya next post gaes,

Rabu, 18 November 2015

LDR'ers edisi dilema dan kangen



Hai gaes. Hai juga para perindu...
Bagaimana yang LDR? Masih bertahan atau sudah jenuh dengan kesepian dan kesendirian?
LDR atau hubungan jarak jauh itu emang sulit gaes, bahkan tak jarang ada rasa bosan dan jenuh jalanin semuanya sendirian. Kadang suka ngiri juga liat orang lain nge-date dan dinner sama pacarnya. Apalah daya kita yang jauh dari pujaan hati. Tapi gaes, sejenuh apapun LDR kita harus kuat, mungkin yang dekat emang lebih banyak yang menarik, lebih banyak yang perhatian, dan lebih bisa bikin kita nyaman tapi ada dia yang jauh disana yang selalu menunggu kita, menanti pertemuan, dan menjaga hatinya untuk kita.
Gue punya cerita nih. Selama kuliah, gue dan indegeng waktu SMA masing-masing milih tempat perkuliahan yang kita mau. Dan 3 pasangan dari 5 pasangan di indegeng kami menjalani LDR, 2 lainnya gak LDR. Tapi hanya 2 pasangan yang masih tersisa, yang satu LDR yang satu enggak. Dan yang masih bertahan LDR Cuma gue, 2 teman LDR gue lainnya udah putus masalah utama dalam hubungannya adalah kecurigaan. LDR emang Cuma meningkatkan kecemburuan. Terbukti, pasangan LDR hancur karena tidak bisa menahan cemburu.
Sama kayak hubungan gue sekarang, dia juga lebih posesif sekarang. Yang dulunya kalo gue kemana-mana gak pernah dilarang berlebihan, sekarang kok gue ngerasa tertekan, dan bahkan kalo gue lagi ngumpul sama temen-temen gue, dia malah minta gue untuk fotoin temen-temen gue. semua ini emang salah gue juga sih. Gue ketahuan deket sama temen sekelas gue. iya yang gue ceritain di postingan sebelumnya. Abisnya gimana, dia perhatian sama gue, dia juga sayang sama gue, banget malah. Lo pikir aja, dia gak mau ngelepasin gue. dia mau nunggu gue sampai kapanpun. Yang kata dia sebelum ada ikatan pasti dia gak akan pernah mundur dan dia gak bisa jauh-jauh dari gue. kebayang kan seserem apa tikungan dalam hubungan gue.
Tapi gue masih bertahan sama hubungan jarak jauh ini, meski berat sih jalaninnya. Semua ini juga berkat dukungan dari nyokap yang dukung gue sama dia sepenuhnya. Nyokap udah percaya sama dia dan yang paling penting dia itu orangnya gak neko-neko, gak ngerokok, dari keluarga baik-baik, juga setia (keliatannya sih).
Gue sayang kok sama dia, tapi g dipungkirin juga gue juga udah mulai punya perassaan beda sama temen sekelas gue itu. mungkin karna tiap hari ketemu, karna dia dekat juga, dan dia selalu ada buat gue. gue tau kok, gue salah, gue tau kalo pacar gue dekat mungkin dia akan lebih dari iitu, tapi dia jauh. Itu yang jadi problem kita sekarang. Sempet kepikir buat akhirin semuanya, tapi pas inget dia udah sejauh ini berjuang untuk hubungan kita kok kaya gak tega ngelepasinnya. Yaudah deh, bertahan aja. Jalanin aja kedepannya gimana. Akan selalu ada cara untuk bertahan kalo kita emang udah ditakdirin bersatu.
Maaf gaes, gue masih belum bisa bikin cerita, masih dalam tahap menulis sih, tapi belum kepikiran jalan ceritanya bakal kaya apa. masih belum ada inspirasi nulis nih.