Minggu, 28 Februari 2016

Obat Galau



Obat Galau Setelah Putus

Saat lo baru putus dari pacar lo, obat mujarab sakit hati karena putus cinta emang Cuma satu yaitu pacaran lagi. Lo butuh orang yang baru, suasana baru, orang yang bisa bikin lo lupa sama mantan lo. Tapi risikonya kalo abis putus lo langsung pacaran lagi lo masih teringat mantan, lo masih terbayang-bayang muka mantan, dan mungkin mantan lo masih suka ngubungin lo (atau sebaliknya).
Saat lo memutuskan untuk pacaran lagi, lo harus siap sama pacar baru lo. Dia pasti beda sama mantan lo, dan mereka ga akan pernah sama. Kalo lo berusaha buat ngelupain mantan lo, bahkan lebih keras lo pasti akan lebih ingat. Jadi biarkanlah waktu berjalan sesukanya, jangan pernah berpikir buat ngelupain si dia karena itu gak akan berhasil.
Yang namanya pacaran gak mungkin ga ngerasain bosan, jenuh, males, capek, semua pasti ada. Yang lo butuhin bukan putus terus pacaran lagi atau lebih parahnya lo cari selingkuhan, itu jangan. Kalian hanya perlu penyegaran, cobalah untuk saling memahami, belajar dari masa lalu dan sempatkan waktu untuk berdua saja untuk bercerita apa yang sudah kalian lewati bersama, apa yang sudah kalian korbankan, dan semua tentang kalian berdua.
Pacaran lagi bukan berarti gue nyaranin untuk kalian yang baru putus langsung nyari pacar, ga gitu juga. Kalo emang misalnya udah ada yang lebih baik, kenapa enggak. Iya kan? Tapi pengalaman gue, gue adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta dengan orang baru. karena itu pas putus gue selalu menyempatkan diri untuk diri gue sendiri dan temen-temen gue yang sempet hilang karena terlalu sibuk dengan sang pacar. Mantan emang gak akan mungkin pernah bisa dilupain, apa lagi kenangannya, ga akan pernah. Tapi hidup harus terus berjalan ke depan, masa lalu biarlah ia terlewati tapi masa depan harus lebih baik!

Late Post Nih. Ini Seharusnya di Post bulan April 2015 .

Senin, 04 Januari 2016

Late Post ( 17/08/2015 )



Entah kenapa udah dua hari ini rasanya uring-uringan. Pengen nangis terus, tapi gak tau nangisin apa. Rasanya kangen banget, tapi kangen sama hal apa. Kayaknya lagi kangen sama masa lalu. Iya, masa lalu. Kangen sama rumah lama, temen-temen dan sahabat-sahabat gue, sekolah juga, kelas juga, dan tak terkecuali mereka. iya, mereka itu maksudnya mantan-mantan gue. gue kangen sama semua hal yang dulu gue jalanin, gue kangen di bilang jones karena gue kelamaan jomblo, gue kangen digangguin temen-temen gue waktu lagi makan, gue kangen ributnya suasana kelas waktu lagi gak ada guru, dan gue kangen sama semua hal yang dulu gue gak suka dan sekarang malah gue cari-cari.
Gue pengen balik ke tempat gue di besarkan, tempat gue bermain waktu kecil, tempat gue dimarahin gara-gara gue bolos waktu masih SD, tempat gue dimarahin sama nyokap gara-gara gue males mandi kalo hari libur. Gue seneng disana walau pun kadang di sana banyak orang-orang aneh, banyak orang yang  bicaranya kasar, tapi gak ada tempat yang lebih indah di bandingkan tempat gue di lahirkan dan dibesarkan. Lo pasti bakal ngerasain apa yang gue rasain kalo lo udah pindah.
Awalnya gue berpikir, pindah ke tempat yang baru bisa bikin gue nyaman, bisa bikin gue tenang, pokoknya gitu-gitu deh. Tapi lama-lama malah jadi susah ngapa-ngapain, kesepian tiap hari. Sama juga kayak pacaran, lo pasti bahagia kalo punya pacar baru. kayaknya dia itu segalanya dan jauh lebih baik dari mantan lo, lo bilang gitu karena dia baru, lama-kelamaan semua bakal jadi sama aja. Sifat mereka akan jadi sama, hal yang dulu lo banggain dari dia malah jadi biasa aja. Semua hal akan terlihat biasa aja kalo kita udah sering melihat dan udah mengenalnya.
Tapi, satu hal yang harus lo tau. Setelah semua jadi biasa aja, lo gak harus cari yang lain, lo harus mempertahankan apa yang lo miliki. Kadang apa yang kita punya jauh lebih baik dari pada apa yang kita inginkan. Ih, gila, ternyata gue bijak juga ya.

Sabtu, 02 Januari 2016

Untukmu Kekasih Ku

Okay. this is last post on today. see ya...



Untukmu Kekasih Ku

Engkau yang kini menetap di hatiku, ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu lebih dari yang kau tau. Saat ini aku sangat bahagia karena mu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, aku tak tau harus mengucap apalagi  selain terima kasih. Cinta ini membuatku semakin dewasa, dan kau yang mengajariku kedewasaan itu. ku harap kau juga bahagia bersama dengan ku.
Terima kasih telah mewujudkan keinginanku untuk bisa menjadi makmummu walau hanya sekali. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk belajar sendiri-sendiri, dan sekarang belajarlah bersama ku, lengkapi jalan hidupku.
Untukmu kekasihku, berjanjilah bahwa kau akan tetap menjaga hatimu walau kita terpisahkan oleh jarak. Walau raga kita tak terlalu sering bertemu, ingatlah bahwa aku tetap menunggu kedatanganmu.
Aku tak ingin kisah indah kita akan berakhir, aku tak ingin cerita cinta kita dirusak oleh masa lalumu atau masa laluku. Seburuk apapun engkau dimasa lalu, aku tetap menerimamu, walau diluar sana banyak orang yang mungkin mentertawakan kisah kita, berjanjilah kau akau akan selalu setia bersama ku.

Benci Untuk Setia



Benci Untuk Setia

Kalian tau setia?
Gue rasa semua orang pasti tau setia. Dan semua orang pengen setia. Tapi ada beberapa hal yang membuat kesetian jadi terhambat. Misalnya, tiba-tiba mantan lo datang dan ngajak balikan, ato tiba-tiba ketemu orang yang pernah lo suka dulu dan sekarang dia jomblo, ato dalam kasus yang lebih sulit, lo ketemu orang baru dan dia bisa bikin lo nyaman.
Bicara tentang setia, gue rasa gue setia kok. buktinya gue masih bertahan sampe sekarang walaupum gue udah beberapa kali dibikin nangis, beberapa kali dibentak-bentak. Capek si iya, tapi ya gimana. Namanya juga sayang, ya gue berkorban perasaan lah biar hubungan ini bisa terus berjalan.
Kenapa kali ini gue bahas tentang setia. Karena beberapa minggu yang lalu hubungan gue sedang berada di ujung tanduk, sempet putus juga seminggu. Gara-garanya gue terlalu deket sama temen sekelas gue. yaiyalah, dia temen sekelas gitu, deket, sedangkan pacar gue nun jauh disana. Dia juga perhatian, baik, pokonya semua yang dia lakuin ke gue perfect lah, meski begitu dia selalu gue bentak-bentak,selalu gue salahin, selalu gue sakitin, tapi gak pernah tuh dia ngeluh. Malah dia berusaha yakinin gue kalo sayang nya dia gak bakal habis. Tapi gue lebih milih setia. Entah kenapa, rasa nyaman aja tuh gak cukup. Gue juga baru kenal. Jadi gue mutusin untuk jauhin dia dan bertahan sama pacar gue.
Awal-awal ngejauh sih emang feel something strange gitu. Tapi yaudahlah, harus tetep kuat. sekarang suasana masih tetep canggung, tapi gak secanggung waktu awal-awal. Yang jadi masalah sekarang adalah pacar gue jadi posesif banget, semua hal yang gue lakukan harus laporan dulu sama dia, harus punya alasan yang logis menurut dia kalo pengen ngejelasin sesuatu. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya, sekarang dia jadi monster posesif.
Pacar yang posesif itu lebih horor daripada pocong vs kuntilanak. Gak percaya, coba kalo mo cari pacar, cari yang posesif, rasanya sesuatu banget...

Sambas, 30 Desember 2015   18:41

Sehangat Coklat Sore

Belum rampung benar. tapi coba di post deh, nanti di perbaiki lagi.



Sehangat Coklat Sore

Disinilah aku berdiri, di tempat yang tak asing lagi. Di jalan setapak yang indah. Aku berjalan tanpa ragu. Ku lihat tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Langkahku terhenti di sebuah cafe kecil yang masih berdiri kokoh dihadapan ku. Bangunannya sudah tampak tua dan kusam. Susunan bangku di dalamnya tidak ada yang berubah sedikit pun. Ku lihat kakek tua sedang membuat secangkir coklat panas di pojok sebelah kanan. Pemandangan serupa pernah ku lihat lima tahun lalu. Ya, aku benar-benar ingat.
Ku seruput secangkir coklat hangat sambil mendengarkan celotehan seorang laki-laki di depanku. Sore itu, kami bercerita tentang pagi tadi, tentang cerita kami. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Aku dan dia tertawa bersama, kadang ngambek, kadang bertengkar, kadang cerita hal-hal seru. Disinilah kami, dua orang yang memakai seragam sekolah duduk di meja yang sama setiap hari. Tempat ini adalah tempat kami pertama bertemu, disinilah cinta kami bersatu, dan di tempat ini pula pertemuan terakhir kami terjadi, tepat lima tahun yang lalu. Namanya Gio, Gio Lesmana.
“Nik, besok minggu kan? Besok nonton yuk?” ajak Gio pada ku.
“kenapa harus nunggu besok kalau nanti malam juga bisa?” pintaku padanya.
“nanti malam aku ada futsal sama temen-temen”
“yaudah. Main futsal aja, gak usah nonton.”
“kok kamu gitu. Kamu kan tau, malam minggu itu jadwal aku main futsal sama temen-temen.” Dia berusaha meyakinkan ku.
“terus? Tiap malam minggu aku harus di rumah, nungguin kamu pulang main futsal, gitu?” aku memalingkan muka ku. “kenapa sih? Sekali aja ninggalin futsal buat aku. Sekali aja.”
“sayang. Bukannya gitu.” Gio memegang tanganku, “kamu kan tau aku suka banget main futsal. Kamu ngerti dong.”
“kapan sih aku gak ngerti kamu. bukannya kamu yang selalu gak ngerti aku.”
“loh. Kok makin dipanjangin, aku udah minta baik-baik ya. Kamu jangan mulai” jawabnya mulai marah.
Seperti itulah kebiasan kami setiap hari. Tapi aku selalu sabar menghadapi sikap dia yang tiap hari gak pernah bisa berubah yang suka cepet marah, lebih mentingin temennya, tapi dia selalu setia. Tiga tahun kita jalan sama-sama, hampir semua hal selama tiga tahun kita jalanin bareng-bareng. Semua indah dengan tertawaan dan tangisan yang kita lewati sama-sama. Tapi semua berubah ketika hampir menjelang Ujian SMA. Gio berubah.
Perubahan demi perubahan Gio tunjukan setiap hari. Biasanya tiap istirahat Gio selalu nyempetin buat nganterin makanan atau minuman ke kelas. Tapi beberapa hari terakhir Gio jadi susah di jumpain. Katanya dia sibuk nyiapin acara prome night dan acara turnament futsal. Yaudah, gue ngertiin dia. biasanya tiap pulang sekolah kita selalu nyempetin waktu buat mampir ke cafe tempat kita biasa santai. Tapi sekarang, sampai hampir malam pun aku nungguin dia, dia gak dateng-dateng. Katanya sibuk ini, sibuk itu, pokonya sibuklah.
“Gi, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Aku salah apa sama kamu?” kataku sambil menatap matanya lekat.
“gak papa kok. aku Cuma lagi sibuk aja nyiapain acara. Maafin aku ya.” Katanya sambil memegang tanganku.
“jujur ya gi. Kamu tuh udah beda, kamu udah gak kaya biasanya.” Aku memandanginya. “apa udah ada orang lain?” mata ku berkaca-kaca.
“gak ada Nik, gak ada orang lain. Cuma ada kamu.” dia menyeka air mataku yang hampir jatuh. “aku Cuma lagi sibuk aja, maafin aku ya sayang. Maafin aku.”
“aku tuh kesepian gak ada kamu disini. Aku gak biasa kemana-mana sendiri. Aku gak mau kehilangan kamu. aku takut ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu Gi.” Tangis ku semakin menjadi-jadi.
“sabar ya. Aku bentar lagi selesai kok. aku janji, selesai ujian dan selesai semua acara ini, nanti kita ketemu di cafe biasa. Tenang ya, aku ada kok buat kamu. aku sayang sama kamu, gak akan ada orang lain di hati aku Nik.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menghapus air mata yang sudah terlanjur membanjiri pipiku.
Aku tetap sabar untuk mengerti Gio dan kesibukannya. Hampir sebulan berlalu setelah kejadian itu, Ujian selesai, prome night selesai, dan turnament juga selesai. Gio mengajak ku ketemuan di cafe biasa.
Seperti biasa, kami duduk di bangku biasa dan pesan coklat panas seperti biasa. Perbincangan kami dimulai dengan percakapan tentang prome night, lalu merambah hingga kuliah. “Aku nanti mau kuliah di UI ah, mau kuliah sastra, kayanya seru tuh.” Aku berkata sambil tersenyum. Namun Gio terdiam. “kalo kamu mau kuliah dimana? Perasaan dari dulu kita gak pernah bicarain tentang kuliah ya?” Gio tetap diam. Tapi tiba-tiba Gio megang tanganku dan matanya berkaca-kaca. Aku lantas bertanya “kenapa?”
“Kamu sayang gak sama aku?” Gio bertanya dengan tatapan kosong.
“sayang lah Gi. Kenapa sih tiba-tiba nanya kaya gitu?” aku keheranan.
“apa suatu saat akan ada orang lain yang gantiin aku di hati kamu ya?”
“kenapa sih Gi?” aku mengguncang tangannya, “Gi, denger ya. Gak akan ada orang lain yang bisa gantiin kamu di hati aku. Bagi aku, kamu itu teman hidupku. Kamu itu sandaran buat aku.”
“ aku juga. Aku sayang sama kamu. sayang banget malah.” Matanya menjatuhkan butir bening, yang kemudian ia melihat ke atas untuk menghalau air matanya agar tidak jatuh ke meja. “tapi aku harus pergi Nik.”
“Loh pergi kemana? Kamu mau ninggalin aku?”
“aku mau kuliah di Adelaide, Australia. Aku ngambil Finance disana. Mama aku udah ngurus semua surat kepindahanku. Aku bakal take off lima hari lagi. Sambil nunggu kelulusan kita, aku bakal cari apartment dulu disana. Maafin aku Nik, maafin aku.” Gio menggenggam erat tangan ku dan menatap mataku dengan mata yang berbinar-binar.
“jadi kamu bakalan ninggalin aku?”
“aku gak akan ninggalin kamu, kamu juga gak bakalan hilang dari sini.” Dia menunjukkan hatinya. “kamu akan selalu disini Nik. Gak akan ada yang ninggalin kamu.”
“Aku gak bakalan rela kamu ninggalin aku. Aku akan datang kesini lima hari lagi, kalo aku datang dan kamu gak ada. Aku anggap kamu memang udah pergi ninggalin aku, dan kita udah selesai.” aku melepaskan tangan Gio dan mengambil tas yang berada di samping ku, lalu beranjak pergi.
Lima hari berlalu, aku datang ke cafe yang sama. Aku menunggu kedatangan Gio. Aku berharap dia benar-benar datang. Hingga hari mulai gelap, bayangan Gio tak kunjung sampai. Gerimis malam itu mengingatkan aku tentang kenangan kami. Suara tawanya terasa begitu jelas, senyum dibibirnya terasa begitu nyata, hanya saja raganya tak dapat ku lihat lagi.
Bertahun-tahun berlalu, kenangan itu seperti slide show yang diputar berulang-ulang. Kenangan kami disini, di tempat ini terasa masih sangat jelas, walau dinding di tembok ini sudah tak secerah dulu, dan bangku yang aku duduki ini sudah tak sekokoh dulu. tapi perasaan ku masih kokoh berdiri. Lima tahun tak bertemu, lima tahun tak saling menyapa, akhirnya hari ini ku temui dia yang pernah hilang. Dia mengirimi ku pesan singkat di akun media sosial pribadi ku tadi pagi.
Disinilah, aku menjemput cinta ku lagi. Sudah sangat lama rasanya penantian ku bertahan dalam ruang yang sepi. Lima tahun aku bertahan, tak seorang lelaki pun yang mampu membuat ku tertawa begitu keras selain Gio. Hanya Gio.
Dia duduk di bangku yang sama, memesan secangkir coklat panas seperti biasa. Dia mempersilakan ku duduk di depannya. Aku tak menyangka ini terjadi juga.
“Nik. Masih ingat tempat ini?” dia melirik ke atas dan sekeliling cafe,
“ingat lah.” Jawabku tersenyum.
“gak berubah ya. Lima tahun aku gak kesini, tapi semuanya masih sama seperti waktu kita masih SMA.”
“iyalah. Aku sering kok kesini.”
“aku tau, tadi aku nanya kakek-kakek itu.”
“masa sih? Jangan GR ya?” aku tersenyum malu.
“Nik, aku tau kok. perasaan itu masih ada. Sama, aku juga, bahkan masih utuh.” Gio tersenyum manis, senyum yang masih aku ingat hingga sekarang. “aku mau mulai dari awal lagi sama kamu. aku minta maaf, karena aku udah ninggalin kamu. lima tahun aku di Australi, lima tahun juga aku menyimpan cinta untuk kamu yang suatu saat akan aku berikan lagi untuk mu, dan sekarang saat itu.”
“Aku juga Gi, tidak ku temukan lagi cinta yang lain selain kamu. Cuma kamu.” kata ku sambil tersenyum.
Gio mengambil tangan ku, dan menciumnya. aku bahagia karena penantian ku tidak sia-sia.
Cinta sejati tau kemana ia harus pulang. Walau sejauh apapun ia pergi, tapi cinta akan membawanya kembali.