Perasaan yang sulit untuk dijelaskan ini semakin hari semakin
berkembang. Terlebih lagi jika dia bersikap manis, maka rasa ini semakin
berkecamuk di hati. Entah apa yang membuat ku begitu menggilainya, sampai aku
enggan untuk menyerah. Aku merasa kehilangan jati diriku yang sebenarnya.
Perasaan yang sulit dijelaskan ini membuatku seperti menjadi
orang lain. Orang yang bahkan tidak aku kenal. Jangan tanya kenapa, karena aku
sendiri tidak tahu jawabannya.
Dia, dia yang dulu tidak pernah membuatku menangis. Sekarang
dia berubah, aku juga tidak mengenalnya yang sekarang. Tapi betapapun dia sudah
membuatku meneteskan air mata karena merindukan pesan-pesan singkatnya,
suaranya dari ujung telpon, bahkan wajahnya namun aku tidak pernah membencinya.
Sempat aku berpikir untuk mundur tapi ku akui aku tak bisa benar-benar
menjauhinya walau terkadang aku marah dan kesal.
Jujur, ini memang sakit tapi lebih sakit lagi untuk menjauh
dan membuang perasaan yang sudah ku perjuangkan sejauh ini. Aku hanya bisa
berharap bahwa Allah dapat menjamah doa-doaku agar penantian ku tak jadi
sia-sia.
Untuk saat ini, aku hanya berpikir apakah dia juga merasakan
hal yang sama sepertiku? Atau hanya aku yang berjuang sendiri? Aku tak punya
keberanian untuk mengatakan apa yang ada dalam hatiku, aku hanya mampu membuat
isyarat yang mudah untuk dipahaminya agar dia tahu sedikit isi hatiku. Aku tak
menuntut dia selalu berkata “I LOVE YOU” padaku, tapi tahukah dia namanya
selalu ku sebut disela pembicaraanku bersama teman-temanku, aku bahkan selalu
berkata kepada mereka “AKU SAYANG DIA, AKU SAYANG .....(namanya)”.
Suatu saat, aku pasti akan meninggalkanya. Ya, dia pun tahu
itu. Aku hanya ingin dia menjaga perasaannya, menjaga hatinya, menjaga dirinya
dan menjaga sholatnya jika memang dia masih mempunyai perasaan yang sama
seperti ku. Jikapun tidak, aku juga tidak akan memaksanya untuk membalas
perasaanku, cukuplah aku pergi dan benar-benar pergi saat dia berkata dia tak
mempunyai perasaan apa-apa padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar