Laptop Galau.com
Kisah ini mirip sama film-nya Dimas Anggara yang judulnya
Radio Galau FM tapi ini versi gue. Nama gue Rahmi, panggil aja Rahmi. Gue juga
anak SMA, sama kayak di film itu. Tapi cerita gue lebih bikin galau lagi. Gue
suka nulis sama kayak Bara, dan hobi gue main laptop berjam-jam di kamar.
Beberapa bulan yang lalu pacar gue pergi, padahal udah hampir
6 tahun kita sama-sama. Dia kaka kelas gue, namanya Syahli. Mungkin bagi cewek
lain yang Cuma mandang fisik dia ga akan tahan selama itu, tapi itu bukan gue.
Pacar gue ini ga ganteng, ga tajir, juga ga pinter.
Sebelum dia pergi gue sering banget berantem sama dia,
akhirnya kita sampai break, ga tau berapa lama yang pasti lama banget menurut
gue, selama itu pula dia ga pernah ngabarin gue. Gue pesimis akan hubungan
kita, bagi gue dia adalah orang terakhir yang singgah di hati gue. Gue ingat
kata-kata dari dia saat dia bilang mau break, dan rasanya itu sakiiit banget.
“ kamu harus bisa hidup tanpa aku, karena ga selamanya kita
bisa bersama. Mungkin Tuhan berkata lain. “
“ maksud kamu apa? Kamu mau kita udahan? “
“ mungkin ini jalan yang paling baik, kamu cantik, kamu baik,
kamu punya segalanya, kalo kamu sama aku, kamu ga akan bahagia. “
“ dari mana kamu tau aku bahagia atau ga? Yang ngerasain aku.
Apa yang kamu sembunyiin dari aku? Apa udah ada yang lain? “. Saat itu juga air
mata gue pecah depan dia, udah ga kebendung lagi.
Tapi dia ga jawab sampai akhirnya dia mutusin buat break,
sampai kapan? Ga tau, dia ga pernah bilang sampai kapan. Saat itu gue ngerasa
ga ada gunanya, apa artinya hubungan ini sampai 6 tahun tapi putus gitu aja
karena masalah yang ga tau apa judulnya. Terakhir gue buat status di FB, “
mungkin saat aku udah terbaring di rumah sakit, dengan penuh alat bermacam-macam
bentuk yang menempel di tubuh ini. Kau baru sadar betapa berartinya hadirku. “
Tak lama setelah itu ada sms masuk, isinya seperti ini, “
kamu ga tau sakitnya di pasang alat rumah sakit dengan tusukan jarum
dimana-mana, jadi sayangi diri kamu, jangan pernah bicara kayak gitu lagi,
Tuhan udah kasih kamu kesehatan jadi jangan pernah minta sakit.”
Gue ga tau makna dari pesan itu apa, tapi yang pasti gue
seneng banget dia sms gue, gue bales berkali-kali ga pernah di bales. Seperti
kata velin di film radio galau, “ aku ga tau lebih sakit mana, di gantungin
sama kamu atau di putusin sama kamu “. Kata-kata itu cocok banget buat gue yang
lagi di gantungin, ga tau nasib kedepannya gimana. Tapi gue berusaha mengembalikan hubungan kami
seperti semula, tapi gue terlambat.
Siang itu, seminggu setelah kita ketemu gue dapet kabar dari
salah sorang temannya. Gue di suruh ke RS, gue ga mau, terus gue di jemput dan
di paksa. Sampai di ruang ICU, terlihat jelas di pandangan gue, seseorang yang
sangat dan amat gue sayangi terbaring dengan bantuan alat medis terpasang
lengkap di dadanya dan detak jantungnya dapat dihitung oleh komputer yang duduk
di meja tepat di sampingnya. Air apa yang mengalir di pipi gue, menetes hingga
bibir lalu jatuh ke lantai.
Apa ini? Apa ini sinetron atau drama? Peran apa yang sedang gue
mainkan? Ya Tuhan, siapa yang harus di persalahkan atas semua ini. 6 tahun gue melukis
di atas buku yang dulunya bersih bersama seseorang yang menjadi warna dalam
buku itu, 6 tahun juga gue ga tau rahasia sebesar ini dan 6 tahun juga gue di
bohongi. Entah perasaan apa yang telah berkecamuk saat itu.
Seketika itu gue pergi pada seseorang di depan gue dengan
isak tangis dan penuh kekecewaan. Gue peluk dia, entah berapa lama gue berada
di sampingnya, akhirnya dia bangun dengan senyum indah di bibirnya. Tak jelas
yang di ucapkannya, tapi gue tau kata terakhir dari ucapannya. “ jangan nakal
dan jaga kesehatan, aku sayang sama kamu “, dengan terbata-bata dia
mengucapkannya, tatapan mata yang kosong itu membuat gue tak berhenti
meneteskan benda putih seperti embun yang keluar dari mata gue.
Jam 21.23, dia tertidur dengan tangannya masih di dalam
genggaman tangan gue. Tidurnya itu nyenyak banget, seperti ga pernah ngerasa
sakit, beberapa menit kemudian alat seperti komputer yang berada di sampingnya
berbunyi *ttiiiiiiiiiiitt*, saat itu senyum gue berasa hambar. Gue tau ini akan
terjadi, tapi gue belum siap. Gue ga mampu hidup tanpa dia di sisi gue, gue
terpuruk. Bantuan dari dokter udah ga berarti apa-apa lagi.
Jam 21. 32, detik itu
juga gue kehilangan sosok laki-laki yang gue anggap abang, yang gue anggap
sahabat, dan pacar gue yang paling berarti dalam hidup gue, yang mewarnai hidup
gue 6 tahun tarakhir. Tinta yang dulu punya banyak warna sekarang tinggal warna
hitam. Gue lemah, sekolah pun seakan terasa penuh kabut hitam yang menyesakkan dan
penuh akan kenangan yang dulu biasa gue
jalanin waktu masih ada dia di samping gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar