“Engkau yang aku pikir jodohku sekarang telah pergi tanpa
sebab yang pasti. Setelah bertahun-tahun kita lalui hari bersama-sama lalu kau
hancurkan semua. Ya, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Terutama
untukmu.”
Mungkin bagi remaja berusia 17 tahun, pacaran itu adalah
mainan. Tapi itu tak berlaku untukku. Aku mulai serius pacaran sejak aku masuk
SMA, dan sampai kelas XII. Hubungan kami bertahan 22 bulan. Entah apa sebabnya,
biarlah ia yang menyesali itu.
Sakit memang sakit, tapi mau bagaimana lagi. Aku gak mungkin
memaksakan kehendak ku agar dia tetap di samping ku. Itu ga mungkin dan terlalu
jahat untuk orang yang pernah menemaniku hari-hariku. Move on. Aku bukan tipe
cewek yang mudah pindah ke lain hati dalam waktu cepat, bagiku butuh waktu
untuk menyembuhkan luka ini.
Ada seseorang yang sangat dekat dengan ku, dia adalah
mantanku. Bagiiku dia adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab, dulu aku
pernah menyia-nyiakannya bahkan sering. Tapi dia gak pernah bosan-bosan untuk
tetap menghubungi dan mencari-cari ku. Aku terkadang kasian melihatnya walau
itu semua gara-gara aku. Tapi akhir-akhir ini aku sering memikirkannya walau
pun belum lupa sama yang lama, mungkin ini yang dinamakan cinta datang
terlambat.
Dia itu laki-laki yang selalu peduli padaku, meski aku sering
marah-marah tapi dia satu kali pun tak marah apalagi membentakku. Dia ga pernah
buat aku nangis. Sebenarnya dia jauh lebih baik dari semua mantan-mantan ku.
Tapi entah kenapa aku tak bisa melupakan mantan ku. Mungkin ini yang di namakan
cinta buta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar