Selasa, 05 Agustus 2014

cerpen galau



Rindu Untuk Erik

Erik, sebuah nama yang sangat berarti untukku. Nama itu akan tetap ada sampai kapanpun. Sekarang aku sudah punya calon suami, namanya Nugro dan besok kami akan melaksanakan akad nikah. Tapi tiba-tiba hari ini aku merindukan sosok perhatian, penyabar dan soleh. Ya, dia lah Erik.
Aku dan Erik pernah menjalin hubungan 5tahun lalu. Selama kami pacaran dia tak pernah sama sekali mengucap kata putus.
“ rik, malam minggu ini kita nonton ya. Di rumah aku, sama keluarga aku juga kok” isi pesan singkat ku pada Erik.
“ mau nonton film apa? Nanti ya, kalo aku sudah solat isya.” Selalu saja itu jawabannya kalo ku ajak nonton. Dia memang gak mau kalo kami hanya berdua dirumah, katanya takut ada orang ketiga. Dulu semasa kami masih bersama, dia selalu menyuruhkku untuk berhijab. Tapi dia tak memaksa ku, dia hanya mengingatkan ku.
Sampai lah malam minggu itu,  ku lihat Erik sangat pucat.
“ sayang, kamu sakit ya?” tanya ku heran.
“ ga kok, aku Cuma belom makan.”
“ ya udah, makan dulu sana, ada mama samap papa kok di dalam.”
“ iya makasih yang, nanti aja. Habis nonton.”
Orag tua kami sudah saling menyetujui hubungan kami, tinggal menunggu kami lulus kuliah dan bekerja, kami akan menikah. Wanita mana yang tak bahagia punya suami soleh, penyayang, setia, calon dokter lagi.
Beberapa hari kemudian Erik pamit pada ku. Dia mengajak ku makan siang di kafe.
“ ririn sayang ku, aku mau pergi ke lampung. Mungkin sebulan. Kamu jangan nakal ya.” Dia memegang tangan ku. Entah mengapa mendengar ucapan itu hatiku berkata tak rela.
“ lama banget perginya, ga usah aja deh. Kasian tau akunya.” Aku merengek manja padanya. Tak biasanya aku tak mengijinkan dia pergi untuk tugas kuliah.
“ Cuma sebulan aja kok sayang. Habis itu aku langsung pulang, terus kita liburan ke pantai sama keluarga”
“ tapi kalau aku kangen sama kamu gimana?”
“ kamu solat aja, terus minta sama Allah ketemuin kita di mimpi”. Dia tersenyum
“ kamu ni. Aku serius tau. Kamu jangan nakal disana, awas ya kalo centil.”
“ iya, aku bisa jaga diri ku. Kamu juga hati2 disini, jangan lupa solat, hijabnya juga. Sekarang aku harusin kamu pakek hijab. Nanti kalo aku udah pulang, aku mau liat kamu udah pake hijab. Bisa kan yang?” dia tersenyum, dan senyum itu tak pernah ku lupakan.
“ iya iya, aku janji. Kamu kenapa sih, bilang kayak gitu. Kayak mau mati aja.?” Kataku sambil tertawa
“ siapa tau besok aku udah ga ada lagi. Kan umur rahasia Tuhan yang. Yang, kamu jangan nakal ya. Kalo aku ga pulang-pulang kamu harus bisa cari pengganti aku, dia harus lebih rajin solatnya dari pada aku. Hahaha” dia tertawa melihatku.
“ kamu apaan sih” kami terus bercanda.

2 hari berlalu, aku dan keluarga mengantar Erik ke bandara. Di sana Erik berpesan, aku harus menjaga diriku baik2. Dan kalo dia udah ga ada aku harus kuat, katanya aku adalah Wonder woman nya dia. Aku tertawa mendengr ucapan nya.
“ Erik udah pergi, nonton sendiri aja deh” kata ku dalam hati. Saat aku ingin membuka DVD, aku melihat berita. Katanya ada kecelakaan pesawat, tapi aku tak melihat dimana kecelakaan nya. Ku lanjutkan niatku untuk menonton DVD. Teringat dalam benakku pesan dari Erik.
Tiitt.. tiiit... suara telpon membuyarkan lamunanku. Aku langsung mengangkatnya.
“kak Rin, kakak udah lihat berita di TV?” kata revi dengan nada panik
 Kata adiknya Erik di seberang sana. Aku kaget. Kenapa bertanya seperti itu.
“ belom dek, emangnya kenapa?
  oh, kalau begitu kakak liat sekarang”
Ttiiiitt..tiiitt.. telponnya mati.
Aku pun langsung membuka TV, ternyata di berita itu pesawat yang jatuh adalah pesawat yang di tumpangi oleh Erik. Reporter itu berkata kemungkinan tak ada korban yang selamat, di lihat dari puing2 pasawat yang terbakar dan hancur tak memungkinkan ada penumpang yang bisa menyelamatkan diri.
Aku shock dan pingsan seketika. Aku pun dilarikan kerumah sakit. Saat aku bangun aku tak melihat ada Eerik di samping ku. Aku pun menangis, ku tanya pada mamaku. Ternyata sekarang Erik telah tiada. Jasadnya tak ditemukan sampai sekarang. Hilangnya Erik dari kehidupanku membuatku tak semangat menjalani hidup.
Aku terpuruk selama 3 tahun, aku lebih banyak menyendiri di kamar. Namun kemudian Nugro datang sebagai guru spiritualku. Dia yang menasehati ku, dia mengajarkan ku tentang agama. Sampai hampir setahun aku belajar dengannya, aku merasa sosok erik Tumbuh dalam dirinya. Dia pun melamarku untuk menjadi istrinya. Aku ingat ucapan erik sebelum dia pergi, katanya aku harus mencari penggantinya dengan orang yang solat nya harus lebih rajin dari dia. Ku rasa ini jawabannya, aku pun mengiya kan lamaran Nugro. Sampai lah hari ini aku sudah memakai hijab dan siap menikah dengan Nugro. Walau tak bisa ku pungkiri terkadang aku masih sangat rindu pada Erik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar