Rindu Untuk Erik
Erik, sebuah nama yang sangat berarti untukku. Nama itu akan
tetap ada sampai kapanpun. Sekarang aku sudah punya calon suami, namanya Nugro
dan besok kami akan melaksanakan akad nikah. Tapi tiba-tiba hari ini aku
merindukan sosok perhatian, penyabar dan soleh. Ya, dia lah Erik.
Aku dan Erik pernah menjalin hubungan 5tahun lalu. Selama
kami pacaran dia tak pernah sama sekali mengucap kata putus.
“ rik, malam minggu ini kita nonton ya. Di rumah aku, sama
keluarga aku juga kok” isi pesan singkat ku pada Erik.
“ mau nonton film apa? Nanti ya, kalo aku sudah solat isya.”
Selalu saja itu jawabannya kalo ku ajak nonton. Dia memang gak mau kalo kami
hanya berdua dirumah, katanya takut ada orang ketiga. Dulu semasa kami masih
bersama, dia selalu menyuruhkku untuk berhijab. Tapi dia tak memaksa ku, dia
hanya mengingatkan ku.
Sampai lah malam minggu itu,
ku lihat Erik sangat pucat.
“ sayang, kamu sakit ya?” tanya ku heran.
“ ga kok, aku Cuma belom makan.”
“ ya udah, makan dulu sana, ada mama samap papa kok di
dalam.”
“ iya makasih yang, nanti aja. Habis nonton.”
Orag tua kami sudah saling menyetujui hubungan kami, tinggal
menunggu kami lulus kuliah dan bekerja, kami akan menikah. Wanita mana yang tak
bahagia punya suami soleh, penyayang, setia, calon dokter lagi.
Beberapa hari kemudian Erik pamit pada ku. Dia mengajak ku
makan siang di kafe.
“ ririn sayang ku, aku mau pergi ke lampung. Mungkin sebulan.
Kamu jangan nakal ya.” Dia memegang tangan ku. Entah mengapa mendengar ucapan
itu hatiku berkata tak rela.
“ lama banget perginya, ga usah aja deh. Kasian tau akunya.”
Aku merengek manja padanya. Tak biasanya aku tak mengijinkan dia pergi untuk
tugas kuliah.
“ Cuma sebulan aja kok sayang. Habis itu aku langsung pulang,
terus kita liburan ke pantai sama keluarga”
“ tapi kalau aku kangen sama kamu gimana?”
“ kamu solat aja, terus minta sama Allah ketemuin kita di
mimpi”. Dia tersenyum
“ kamu ni. Aku serius tau. Kamu jangan nakal disana, awas ya
kalo centil.”
“ iya, aku bisa jaga diri ku. Kamu juga hati2 disini, jangan
lupa solat, hijabnya juga. Sekarang aku harusin kamu pakek hijab. Nanti kalo
aku udah pulang, aku mau liat kamu udah pake hijab. Bisa kan yang?” dia
tersenyum, dan senyum itu tak pernah ku lupakan.
“ iya iya, aku janji. Kamu kenapa sih, bilang kayak gitu.
Kayak mau mati aja.?” Kataku sambil tertawa
“ siapa tau besok aku udah ga ada lagi. Kan umur rahasia
Tuhan yang. Yang, kamu jangan nakal ya. Kalo aku ga pulang-pulang kamu harus
bisa cari pengganti aku, dia harus lebih rajin solatnya dari pada aku. Hahaha”
dia tertawa melihatku.
“ kamu apaan sih” kami terus bercanda.
2 hari berlalu, aku dan keluarga mengantar Erik ke bandara.
Di sana Erik berpesan, aku harus menjaga diriku baik2. Dan kalo dia udah ga ada
aku harus kuat, katanya aku adalah Wonder woman nya dia. Aku tertawa mendengr
ucapan nya.
“ Erik udah pergi, nonton sendiri aja deh” kata ku dalam
hati. Saat aku ingin membuka DVD, aku melihat berita. Katanya ada kecelakaan
pesawat, tapi aku tak melihat dimana kecelakaan nya. Ku lanjutkan niatku untuk
menonton DVD. Teringat dalam benakku pesan dari Erik.
Tiitt.. tiiit... suara telpon membuyarkan lamunanku. Aku
langsung mengangkatnya.
“kak Rin, kakak udah lihat berita di TV?” kata revi dengan
nada panik
Kata adiknya Erik di
seberang sana. Aku kaget. Kenapa bertanya seperti itu.
“ belom dek, emangnya kenapa?
“ oh, kalau begitu
kakak liat sekarang”
Ttiiiitt..tiiitt.. telponnya mati.
Aku pun langsung membuka TV, ternyata di berita itu pesawat
yang jatuh adalah pesawat yang di tumpangi oleh Erik. Reporter itu berkata
kemungkinan tak ada korban yang selamat, di lihat dari puing2 pasawat yang
terbakar dan hancur tak memungkinkan ada penumpang yang bisa menyelamatkan diri.
Aku shock dan pingsan seketika. Aku pun dilarikan kerumah
sakit. Saat aku bangun aku tak melihat ada Eerik di samping ku. Aku pun
menangis, ku tanya pada mamaku. Ternyata sekarang Erik telah tiada. Jasadnya
tak ditemukan sampai sekarang. Hilangnya Erik dari kehidupanku membuatku tak
semangat menjalani hidup.
Aku terpuruk selama 3 tahun, aku lebih banyak menyendiri di
kamar. Namun kemudian Nugro datang sebagai guru spiritualku. Dia yang
menasehati ku, dia mengajarkan ku tentang agama. Sampai hampir setahun aku
belajar dengannya, aku merasa sosok erik Tumbuh dalam dirinya. Dia pun
melamarku untuk menjadi istrinya. Aku ingat ucapan erik sebelum dia pergi,
katanya aku harus mencari penggantinya dengan orang yang solat nya harus lebih
rajin dari dia. Ku rasa ini jawabannya, aku pun mengiya kan lamaran Nugro.
Sampai lah hari ini aku sudah memakai hijab dan siap menikah dengan Nugro.
Walau tak bisa ku pungkiri terkadang aku masih sangat rindu pada Erik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar