Selasa, 13 November 2018

Hilang yang Ditemukan




Pagi ini cerah. Minggu yang paling cerah setelah 4 tahun aku belum pernah olahraga pagi. Biasanya Cuma tiduran di kamar sambil dengerin lagu Sheila On 7. Mungkin karena biasa yang ku pandang adalah langit-langit kamar, tapi hari ini ku pandang langit biru, juga kamu.
Ga kerasa ya, 4 tahun sudah ga ketemu, 4 tahun sudah ku hidup dengan kerjaan yang menumpuk, atau mungkin kerasa. Cuma akunya aja yang memilih cara lain untuk melupakan kehilangan. Hari ini ingin ku tanya apa kabar kamu? Kok kurusan sekarang? Tapi ga jadi, soalnya kata orang kalau nanyain itu tandanya belum move on, padahal kan iya.
Aku ini manusia kuno yang belum menerapkan kesetaraan gender, sama kayak dulu, waktu kamu hilang sebelum sempat kumiliki. Aku ini masih seperti dulu, temenmu yang masih sering berharap tanpa berucap. Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu masih seperti yang dulu, dingin dan suka menghilang. Bodohnya aku, bertanya tanpa bersuara. Cuma berani menulis, yang ku tau kamu tidak akan pernah membacanya.
Sepanjang jalan aku hanya berpikir, apa kita akan berjalan dengan berdiam-diaman seperti ini. Aku yang malu memulai, kamu yang malas memulai, lalu bagaimana?
Dua ratus meter sudah kita berjalan bersama, tapi belum ada satu suarapun diantara kita. Memasuki meter ke 300 aku masih diam dengan aneka ragam pertanyaan di kepala ku. “gimana kerjaan kamu?” katamu memecah kesunyian kita diantara keramaian orang-orang yang sedang berolahraga. Dengan banyak berdebar aku Cuma bisa “ha?”. Aku kaget juga senang secara bersamaan.
“kerjaan kamu yang disini gimana? Lancar?” tanyamu memperjelas.
“oh. Lancar. Biasa aja aku mah.” Maksudnya seperti biasa.
“kamu sering kesini?”
“baru pertama kalinya ini setelah 4 tahun. Kamu ngapain disini?”
“lagi ada proyek sampe 3 bulan ke depan, sekalian mau nostalgia masa muda” katamu tersenyum enteng.
“ooohh”. Aku jadi berpikir apa maksudnya kamu ngomong nostalgia selama 3 bulan? Apa maksudnya kamu mau aku nemenin kamu selama 3 bulan disini? Apa aku Cuma mau dijadikan tempat sandaran sementara? Maaf aku selalu berpikir negatif. Ini Cuma sebagai pertahanan diriku agar tidak luka untuk yang kebanyak kalinya. Ku pikir kamu mengerti maksudku.
Masih berjalan bersama, aku memandangi mereka yang berjalan berpasangan, sama seperti kita, bedanya mungkin mereka pasangan yang punya ikatan, kita adalah pasangan berstatus teman lama yang baru saja ketemu setelah 4 tahun berpisah. Masih dalam suasana canggung dan masih dalam rindu yang belum tersalurkan. Iya, aku kok yang rindu, enggak tau kalo kamu.
Entah karena jodoh, entah karena sugesti diri ku yang berlebihan, kamu tiba-tiba muncul di grup chatting yang saat itu aku sedang bersenda gurau dengan teman-teman yang lain. 2 tahun grup itu terbentuk, aku belum pernah melihatmu lintas, dan melihat namamu di daftar, entah siapa yang memasukkan namamu seakan sengaja membuat ku bahagia sekaligus membuka luka lama. Aku yang terlihat kuat dan sibuk setiap hari adalah aku yang menyembunyikan luka lama yang kadang masih berdarah setiap kali mengingat kehilangan.
Masih jelas terakhir kalinya ku lihat punggungmu menjauh dengan baju merah menyala seperti luka yang menganga di hatiku saat itu. Dengan sadar kamu bilang bahwa kita tidak berjodoh, aku lebih baik mencari laki-laki yang lebih dewasa. Dan kamu akan mencari wanita yang lebih mudah mengerti. Lalu kenapa semalam kau menelpon mengajak ketemu? Apa sekarang jodohmu sudah pergi dan menyuruhmu mencari jodoh lain? Bodohnya kenapa aku mau-maunya menemui luka?
Ku harap kamu tau tanpa perlu ku jelaskan, kenapa aku ada disini untuk bertemu kamu setelah sekian lama kau tinggalkan. Jujur aku senang bertemu kamu lagi, aku senang kamu masih mengingatku, aku senang diajak olahraga pagi olehmu. Tapi aku juga takut. Bukan, bukan takut kehilanganmu. Tapi takut jatuh hati lagi padamu, jatuh sejatuh-jatuhnya seperti tempo hari. Pagi ini saja, aku merasa terlampau senang, belum apa-apa aku sudah berkhayal bahwa kau esok akan mengajak ku bersenang-senang, bahwa kau akan membawa ku ke tempat-tempat indah, bahwa kau akan membahagiakanku. Kita bahkan belum satu jam berjalan berdua. Aku dengan tidak malunya berkhayal demikian, bahkan dengan keadaan aku tidak tau statusmu, aku tidak tau kenapa kau tiba-tiba disini, aku tidak tau apa kau akan membuat luka baru. Aku terlampau lancang merindukanmu hingga lupa diri. Maaf.
Ingin ku desak mulutmu, berbicaralah sesuatu agar pertanyaan-pertanyaan ini sedikit hilang di kepala ku!
“duduk disana yuk, aku capek.” Ajak ku menunjuk tribun yang dekat dengan penjual jajanan.
“oke”.
Ku harap dibangku itu aku bisa mendapat jawaban atas pertanyaanku 4 tahun lalu. Semoga. Aku sudah gak peduli malu, biar saja.
“aku beli minuman dulu ya, kamu duduk aja” katamu langsung meninggalkan.
Aku mengangguk tanda iya.
Aku menunggumu dengan perasaan cemas sekaligus berdebar. Setelah ku tanyakan, aku ga peduli reaksimu akan seperti apa, biar saja kau akan meninggalkan ku lagi. Kepalang tanggung, aku sudah terluka. Aku hanya ingin sedikit menyembuhkannya.
“ini” katamu menyodorkan sebotol susu coklat dingin. “ku harap aku masih benar, kamu masih suka coklatkan?”
“iya” jawabku dengan senyum.
“Gis, aku tau ini mungkin aneh bagi kamu, atau apapun yang ada dipikiran kamu, tapi aku gabisa boong, aku kangen banget sama kamu”. Kamu memandangku, pandangan yang selalu saja langsung menancap ke mata ku. Pandangan ini yang selalu membuat ku tak bisa mengelak, walau sudah 4 tahun berlalu.
“mmmm?” aku bagai terkejut. Dan aku memang benar-benar terkejut.  Apa yang bisa membuatmu mengatakan itu. Dulu, sulit sekali ku dengar kata itu keluar dari mulutmu, apa sekarang kamu sudah belajar menghangatkan hatimu untuk seorang perempuan, atau bagaimana?
“kamu kaget ya? Iya, aku tau ini mungkin terlambat. 4 tahun aku pergi, hari ini aku balik lagi dengan tiba-tiba. Tapi gak tau kenapa, setelah aku mendapat tugas kesini yang ku ingat pertama kali Cuma kamu”. Aku merasa ini bukan kamu, kau yang aku kenal bukan laki-laki yang mudah berkata manis. Aku senang dan bingung, apa 4 tahun bisa mengubah orang menjadi orang lain, kok aku enggak? Apa 4 tahun bisa melunakkan hati orang lain, kok aku enggak?
“gini, gini. Apa ya?” aku bagai nanya ke diriku sendiri. Mencoba mencari kata-kata yang pas untuk ku ucapkan pada teman lamaku ini.
“aku gak tau ya kamu ini datang dari mana, ada keperluan apa datang lagi kesini, dan tiba-tiba ngajak ketemuan. Oke, aku senang ketemu lagi, sebagai teman lamamu atau sebagai orang yang pernah berharap sama kamu dulu. Aku tau, kamu pasti udah tau kalau aku dulu sayang sama kamu, sayang yang lebih dari temen. Mungkin kamu Cuma menghargai aku sebagai teman mu, but, It’s OK. Tunggu, tunggu dulu, kamu jangan ngomong dulu”  kataku yang melihat mulutmu terbuka seperti akan memotong omonganku. “kata-kata kamu terakhir kali itu, cukup menyakitkan. Sampai sekarang aku berpikir, kalau memang kamu tau aku ini bukan jodohmu, bukan orang yang bisa mengerti kamu, lalu untuk apa kamu bersikap berlebihan dari seorang teman ke aku. Jika memang maumu hanya sebatas teman, katakan sedari awal, jangan pernah melarangku mendekati laki-laki lain. Kamu tidak mau menjadi pacarku, tapi kamu melarangku dekat dengan laki-laki lain, kamu selalu memintaku untuk menemanimu main futsal, menemanimu nongkrong bersama kawan-kawanmu, menemanimu keluar malam minggu. Untuk apa semua itu?! Maaf hari ini aku banyak bicara, aku sudah memendamnya cukup lama”. Mungkin pagi itu cuaca cerah, tapi mataku redup, menahan yang memang harusnya ditahan.
Kamu tiba-tiba mendekapkan kepala ku di dadamu, tanpa aku bisa menolaknya. Tidak, aku tidak menangis, mataku hanya berkaca-kaca.
“sudah. Aku minta maaf ya. Aku salah. Aku terlambat minta maaf.”
Masih mendekap di dadamu, aku merasa ingin memberontak, tapi tertahan pada perasaan yang entah apa namanya.
“aku ingin menebus kesalahan-kesalahan ku Gis.” Sambung mu sambil melepas peluk dan kembali menghadapkan wajahmu kepadaku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mulutku seakan malas berbicara. Dalam hatiku merengut, “kita lihat saja, sampai sejauh apa kau membuktikan omongan mu”. Aku ini pendendam yang handal. Kamu harus tahu!

Senin, 12 Maret 2018

Berkarirlah!

Pergilah jauh.
Aku tidak apa kau tinggalkan, jangan pedulikan aku. Aku sudah biasa merindu.
Berkarirlah! 
Sampai kau tau mengapa kita berjauhan?
Sekali lagi. Abaikan saja rinduku, ada banyak yang lebih berat dari sekadar rindu, tanggung jawabmu.
Aku mungkin akan menangis saat kau tinggalkan, tapi aku ingin kau segera sukses.
Berkarirlah! 
Karena orang tuamu inginkan itu.
Mereka jauh lebih banyak berkorban dari pada aku.
Aku hanya mampu menyumbangkan semangat untukmu, selain rinduku yang meluap-luap.
Tapi mereka menyumbang semua kebutuhanmu. Bahagiakan dulu mereka.
Setelah itu, datangi rumah aku, bicara pada orang tuaku.
Berkarirlah!
Sampai kau dapat apa yang kau mau. Aku selalu disini untukmu.
Aku mungkin akan merengek karena terlalu rindu, tapi sudahlah abaikan saja. Aku akan mencoba mengerti.
Dan aku saat ini sedang rindu, kau tak harus tau. Biar aku saja.

Kamis, 08 Maret 2018

Pemimpi Masa Depan, Penikmat Masa Lalu (2)

Lagi rajin ngeblog nih, 2 hari berturut-turut update terus. Bukan gak ada kerjaan, sebenarnya banyak. Tapi aku lagi malas, aku masih ingin bercerita tentang kita, aku masih ingin membahas rindu dan masa lalu.

Akhir-akhir ini aku sering berdebat denganmu. Padahal itu tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan. Tapi jujur saja, aku selalu dibuat geli oleh mu ketika kau mulai marah dan mengalah. Aku selalu menikmati perdebatan itu dengan tersenyum, yah walaupun kadang nangis juga sedikit. Aku hanya mencari pembicaraan yang tidak itu-itu saja. Harusnya kau mengerti. Tapi kenapa kau tak mengerti-mengerti?

Terkadang disaat-saat seperti itu aku jadi kepikiran untuk mencari teman yang lebih asyik, chat mantan misalnya?

Kamu tau gak, mantan ku itu suka datang di waktu yang tepat. Maaf ya soal ini aku gak pernah cerita, maaf hihi. Kali ini aku beneran merasa salah. Tapi kamu jangan nyalahin aku doang, mungkin dia rindu dan pengen ngobrol aja sama aku. Aku yakin kamu pasti juga gitu, pasti suka rindu juga ke mantan kamu. Soalnya aku juga gitu. Kadang tiba-tiba aja rindu sama dia, padahal gak lagi ngapa-ngapain. Tiba-tiba aja pengen ngobrol dan becanda sama dia.
Aku udah move on loh ya. Udah dari lama.

Rindu sama mantan yang kita sendiri udah move on itu kayak rindu ke teman lama yang udah lama gak ketemu. Rindu tapi bukan pengen balikan, atau masih ada rasa, ini cuma rindu yang sekedar pengen bertemu, ngobrol lalu bercerita apa-apa yang udah terjadi setelah kita tidak bersama lagi, bernostalgia dengan masa lalu yang kadang masih suka teringat ketika lewat jalan yang pernah dilewatin dulu. Ya gitu aja sih.

Aku kadang kalau lagi rindu mantan itu ya ngayal aja, soalnya kenangan aku sama dia jarang diabadikan lewat foto. Aku ini pemalu, kamu harus tau. Kalau kemana-kemana kamu harus foto aku diam-diam biar hasilnya bagus. Ini serius yang. Etcie yang.

Aku kalau sama kamu suka bilang "yang" walau di depan orang lain. Waktu sama mantan gak pernah, boro-boro bilang "yang", bilang aku sayang kamu secara langsung juga kayakya gak pernah. Aku pemalu, dia pemalu. Aku gengsi, dia lebih gengsi. Sumpah ini perpaduan yang sebenarnya sangat dipaksakan untuk cocok.
Tapi aku bersyukur pernah dikenalkan dengan orang seperti dia. Aku banyak belajar tentang kedewasaan dari dia. Setahun lebih sama dia aku tau gimana sakitnya dikekang, gimana susahnya menjaga jarak dengan teman, bersama dia juga aku banyak belajar kesederhanaan dalam hubungan. Perjuangan aku sama dia bisa diliat di Dear Mantan . Iya emang perjuangan banget.

Makanya aku selalu bersyukur dipertemukan dengan mu. Terima kasih untuk 3 tahun ini. Terima kasih telah bersabar menghadapi ku yang masih kekanak-kanakan ini. Terima kasih.

Pemimpi Masa Depan, Penikmat Masa Lalu

Tadinya aku mau bercerita tentang masa depan, eh lupa kalau masa laluku tidak terlalu buruk juga untuk ku banggakan.

Sekarang adalah tahun ketiga aku menjalani hidup sebagai kekasihmu. Itu bukan waktu yang sebentar. Dan cukuplah untuk membuat ku bosan pada pesan-pesan singkatmu yang membuatku ingin mengabaikannya saja. Namun tak kulakukan, tidak enak saja rasanya mengabaikan. Kita setiap hari membahas hal yang bagiku sangat tidak penting.

Kamu sibuk dengan pekerjaanmu, sedang aku sibuk dengan kuliahku. Sebenarnya tidak, aku hanya mencari alasan.

Bukan aku sudah tidak sayang, bukan rasaku sudah punah, tidak! Kau harus tau bahwa itu tidak benar! Aku masih untukmu. Jangan lagi kau tanyakan, aku malas menjawabnya. Yang ku mau cuma 1. Jadilah asyik. Seperti kau dulu, seperti pertama kau menyapaku di Februai 2015.

Sejak awal aku tau ini akan terjadi. Sama seperti yang lainnya. Makanya aku tak terlalu menaruh harapan ingin dibahagiakan setiap hari olehmu. Jujur saja, dari semua hubungan yang pernah ku jalani, denganmu aku lebih tenang, denganmu aku lebih bisa jujur.

Aku suka bercerita masa lalu ku dengan mu, semata-mata aku ingin tau reaksimu. Terkadang aku juga ingin membanggakan, "dulu, ada loh yang sayang sama aku". Yang lalu diakhiri dengan kita bertengkar.

Aku suka caramu mengalah lalu bilang "maaf ya, yaudah iya aku yang salah", walau aku tau arti dari maafmu itu bukan mengaku salah, kau hanya menyindirku.
Aku suka caramu marah tanpa memaki dan tidak berkata "udahan aja kalo gitu".

Membahasmu membuat ku rindu.
Nanti lagi ku lanjutkan. Aku sedang rindu dan ingin tidur. Sekarang sudah pukul 00.47

Senin, 24 Oktober 2016

ingatkah?

Haihai…
Lama gak ngeblog ni. Kemarin ada yang ngechat subuh-subuh. Katanya doi abis baca blog ini. Dan kalo gak salah itu tanggal 8 Oktober. Iya 8. Sebelum tanggal 8 itu tanggal 7, Oktober.
Oktober itu masih bulan yang bersejarah sampai sekarang, apalagi 7. Masih ingat dengan jelas. Hai buat kamu kalo lagi baca tulisan ini. Komen juga boleh hihi…
Btw kalo mau nanya aku apa kabar, aku baik-baik aja kok, yaaa masih tetep kurus si, masih sama kayak dulu (kalo ga nanya juga gak apa-apa). Kamu gimana? Btw lagi ni, kok sekarang rambutnya dimerahin gitu, kayak kesetrum listrik. Kamu kekinian ya sekarang. Haha becanda kok.
Oh ya Tan, gimana sama yang sekarang? Udah bisa bikin kamu nangis belom? :D. jangan sering-sering buat anak orang nangis ya Tan, jangan egois juga, jangan suka cemburuan gak jelas. Sekadar saran ni, kurang-kurangin emosi kamu yang gak terkontrol itu, takutnya dia ragu untuk mempertahankan kamu. Cobalah sekali-kali ngalah, kalo ada masalah jangan langsung ngomong putus, kebiasaan tau gak. Aku tau kok kamu itu orangnya setia. Dari sekian banyak cowok yang aku kenal, kamu salah satu orang yang menurut aku paling setia. Walau dengan emosi kamu yang begitu rusak dan meledak-ledak, tapi semua itu bisa ketutup sama setia kamu, yaa walau kadang ucapan kamu itu susah juga untuk dipegang. Sama juga sih sama aku hihi…
Hari ini aku mau sedikit nostalgia cerita kita. Kamu ingat gak aku pernah bilang gini, “kapan-kapan kita buka puasa bareng ya berdua?” yang kamu jawab “iya”. Tapi sampe sekarang gak kesampean. Coba deh kamu ingat-ingat, 2 tahun kita pacaran kita gak pernah diner berdua. Ya aku tau sih alasannya, karena kita gak punya uang :D dan masih bocah juga. Terus kamu ingat gak waktu kamu abis kerja sama papa kamu terus digaji, weekend-nya kita langsung ke pantai. Terus kamu beliin aku es krim cornetto blueberry. Njiiir, senengnya waktu itu. Sampe sekarang aku masih nyimpen foto waktu di pantai itu. Ingat juga gak waktu kamu beli es krim magnum, kamu beli 3 dan ketiga-tiga nya aku yang makan, haha. Kayaknya Cuma kamu deh yang tau kalo aku suka banget sama es krim, apalagi es krim coklat. Dan aku juga tau banget kalo kamu gak suka bawang, apalagi masak telor goreng pake bawang. Aku juga tau kalo kamu gak terlalu suka pedas. Kamu tuh kalah kalo lomba makan pedes sama aku :p
Kamu tau gak? Kemarin sebelum aku nemu yang sekarang, aku tuh jomblo ngenes. Selalu ngikutin sahabat aku pacaran, kayak obat nyamuk. Setelah putus dari aku, aku liat kamu dekat sama cewek banyak banget. Aku tau kok alasannya, karena kamu tuh gak bisa hidup tanpa cewek, karena kamu gak bisa sendirian. Kamu udah pernah bilang gitu. Beda sama aku. Aku emang deket sama si A, si B, si C, itulah pokoknya. Tapi gak sampai jadian, karena aku mau bener-bener move on dulu baru nyari yang bener-bener pas. Takutnya pas udah nyaman, eh ditinggal (nyindir nie). Akhirnya nemu yang sekarang. Alhamdulillah.

Pesan dari aku ni Tan. Jaga diri baik-baik. Jangan begadang ampe subuh, apalagi ngestalk mantan nanti ketauan pacar, hihi. Oh ya, salam sama keluarga. Kangen juga sama akbar, sama nesa. See yaa…

Minggu, 24 Juli 2016

Sepenggal Masa Lalu part 3

Malam ini hujan turun lagi dan aku masih di halte menunggu bus yang lewat, tapi sudah lama menunggu satu pun tidak ada, mungkin karena hujan. Ku lihat ada sebuah motor yang mendekat ke arah ku, sepertinya ia juga berteduh disini. Dari kejauhan ku lihat ia sudah basah kuyup. Ia berhenti tepat di depanku.
“oh hey Din.” sapanya.
Ternyata itu kak Abdi. Mau apa dia disini, tanyaku dalam hati.
“eh iya kak, kirain siapa.”
“iya nih, abis pulang kerja tadi eh kehujanan, yaudah berteduh disini dulu, taunya ketemu bidadari”
“apaan sih kakak. Gombal aja.”
“emang bener kok, kamu cantiknya melebihi bidadari Din. Oh iya, jadi gimana keputusannya? Mau jalan bareng kakak besok?”
Dipikir-pikir aku memang kurang jalan-jalan, sibuk ngurusin skripsi mulu, kalau gak skripsi ya urusan organisasi. “yaudah deh, aku mau kak.” Ucapku ku pada kak Abdi.
“nah gitu dong, aku jemput di rumah ya besok?” bibirnya sedikit bergetar tanda kedinginan, aku hanya mengangguk tanda setuju. “kamu kedinginan ya? Nih pakai jaket kakak aja, belum dipake kok, nih.” Dia memberikan jaket yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Aku kasian, kak Abdi sampai segitunya padahal dia sendiri kedinginan.
“gak usah kak, aku gak kedinginan kok, kan kakak yang basah-basahan tuh.”
“aku mah sakit juga gak apa-apa, kamu tuh kalo sakit nanti malah gak selesai skripsinya. Nih pake aja.” Dia memakaikan jaketnya ke aku.
“eh, makasih kak. Kakak kok ngomongnya gitu, lagian aku suka hujan kok, mungkin kalo aku gak bawa laptop ini aku udah pulang sambil ujan-ujanan.” Sambil menunjukkan tas kecilku tempat menyimpan laptop.
“kalo gitu ayo kita pulang sambil ujan-ujanan, tas kakak anti air kok.” Jawabnya antusias.
“ayo kak, nih laptopnya masukin dulu.”
Kak Abdi langsung menghidupkan motornya dan kami pulang dengan kondisi hujan deras. Rasanya lega banget. Kami bercanda sambil ketawa-ketawa, padahal kak Abdi sudah bergetar kedinginan tapi dia masih saja mencoba mengajakku bercanda dan aku hanya meledeknya. Aku baru sadar, selama ini kak Abdi sudah sangat peduli dengan ku. Setiap kesepian dia selalu ada, tapi aku selalu mengabaikan dia. Bodohnya aku , hanya karena masa lalu, aku membunuh hatiku dan menguburnya dalam-dalam, tak menyisakan hati lain untuk menyembuhkannya.
Malam ini ku rasakan sangat indah, hati ku tenang. Semua beban, lelah hati dan fikiran terasa hilang. Momen ini tidak mungkin kudapatkan dua kali. Sesekali aku berfikir bahwa jika aku menerima kak Abdi, aku takut dia akan seperti Dimas. Aku terlalu takut menerima risiko kalau suatu saat kak Abdi meninggalkanku disaat aku sedang sayang-sayangnya.


Senin, 27 Juni 2016

Sepenggal Masa Lalu part 2

Setelah aku pulang kemalaman karena rapat di kampus kemarin, aku sedikit kelelahan. Aku tidak sakit. Aku tidak suka sakit. Sejujurnya, semenjak kejadian kemarin malam aku jadi berpikir, apakah setiap laki-laki seperti itu? Dia datang memberi harapan, setelah dia puas bermain-main dia pergi dengan wanita lain tanpa dia tahu kalau yang dia lakukan membuat wanitanya patah hati. Entahlah, apakah itu masih pantas disebut patah hati? Atau lebih parah dari sekedar patah hati.
Aku sudah bosan dengan cerita cinta yang segitu-gitu aja, selalu sama. Berawal dari pendekatan yang membuat seseorang menjadi orang lain, jadian, selingkuh, lalu putus dan menghilang. Aku teringat tentang apa yang diucapkan Dimas kemarin, “”aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudahlah anggap saja ini permintaan maafku…””. Seenak itu dia tiba-tiba datang dan meminta maaf setelah dia pergi begitu saja memutuskan hubungan kami. Sebenarnya aku bisa melupakan Dimas dengan mudah sejak dulu, yang aku tidak bisa lupakan bahwa dia selingkuh dengan Aurel, sahabatku sejak SMP. Tidak ada kecurigaanku terhadap mereka, tiba-tiba saja ku lihat mereka jalan berdua seperti tidak merasa bersalah. Hah! Sudah lah. Aku sudah berjanji untuk tidak mengingat hal ini lagi, teriakku dalam hati. Aku lalu beranjak dari tempat tidur dan langsung mandi.
Hari ini rasanya sangat melelahkan, apalagi cuaca hari ini sangat terik. Hampir saja aku lupa bahwa aku ada janji dengan dosen untuk bimbingan skripsi. Aku bergegas menuju ruang dosen. Sesampainya disana aku tak melihat ada dosen pembimbing ku.
“maaf pak, pak Edi Darmawannya ada?” kata ku pada salah satu dosen yang sedang duduk dihadapanku.
“sepertinya dia sudah pergi, katanya tadi ada seminar.”
“oh begitu. Terima kasih pak.” Sudah beberapa kali pak Edi menelantarkan aku seperti ini. Rasanya ingin cepat-cepat lulus. Mengejar dosen pembimbing itu lebih susah daripada mengejar gebetan.
Aku berjalan menuju kantin yang berada di lantai dasar.
“hai Din!” seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“hai kak.” Aku tersenyum padanya.
“kok lesu gitu? Kenapa?”
“beginilah kak, tadi janjian sama pak Edi mau bimbingan, pas udah nyamperin, eh malah dianya gak ada. Di PHP-in terus sama pak Edi. Oh, ya. Kak Abdi ngapain disini? Gak kerja?” kak Abdi lalu mengusap kepala ku. Senyumnya sangat manis, tapi sayang senyum itu tak pernah bisa meluluhkan hatiku.
“kakak lagi ada kerjaan disini. Besok kan libur ya, gimana kalo kita jalan?”. Aku hanya mengernyitkan dahiku. “ayolah. Daripada kamu suntuk. Gabaik loh nolak rezeki.” Kak Abdi lalu menyenggolku pelan.
“oke deh. Nanti aku kabarin lagi ya kak. Kakak lagi ada kerjaan kan? Yaudah kerja lagi kak, aku mau ke bawah dulu ya, daaa” jawabku sambil berlalu meninggalkan kak Abdi.
Kak Abdi ini orangnya baik banget, tanggung jawab dan sangat dewasa, beda banget sama Dimas. Tapi kebaikan dan tanggung jawab kak Abdi tidak cukup untuk meluluhkan hatiku yang sudah terlanjur tertutup oleh sakit hatiku terhadap masa lalu. Aku sudah malas dengan siklus pacaran yang seperti ini.
Walau kak Abdi sudah beberapa kali menyatakan perasaan sayangnya padaku, tapi aku belum bisa membalasnya. Kak Abdi tidak pernah marah setiap kali mendengar jawabanku, dia hanya berkata “oh, sepertinya kakak kurang keras ya berjuangnya. Ya sudah, lain kali kakak coba lagi.” Lalu tidak lupa dibubuhi dengan senyum manisnya. Banyak yang berkata aku ini bodoh karena menyia-nyiakan lelaki seperti kak Abdi, tapi andai mereka tahu alasanku mengapa aku seperti itu pada kak Abdi, mereka pasti mengerti. Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Dahulu, sebelum kami menjalin cinta, Dimas juga seperti itu. Dia sangat baik, dia selalu menepati janjinya, dia tidak pernah membuat ku kecewa. Dia selalu jadi seperti apa yang aku inginkan, tapi setelah berbulan-bulan kemudian apa yang terjadi? Dia berubah, dia tidak pernah peduli lagi terhadapku. Bahkan, saat kami janjian untuk makan malam merayakan hari ulang tahunku, dia melupakannya. Dia membiarkan aku menunggunya sendirian, pulang sendiri, dan besoknya dia bukannya minta maaf malah dia bersikap seolah-olah aku yang salah.

Aku tidak membenci laki-laki, hanya saja aku benci pada sikap mereka selalu manis di awal tapi berujung pahit di akhir. Bodohnya lagi, wanita selalu saja menangis walau ia sudah pernah merasakan sakit yang sama.

Sepenggal Masa Lalu Part 1

Malam itu terasa sangat dingin karena hujan baru saja reda. Kulihat layar ponselku, jam sudah menunjukkan pukul 23.37. “ah sudah larut ternyata. Ini pasti karena anak-anak terlalu asik berdebat” tuturku dalam hati. Aku salah satu aktivis kampus yang sering rapat sampai larut malam seperti ini. Tapi siang tadi aku tidak membawa kendaraan ke kampus, aku menaiki kendaraan umum. Jadi malam ini aku harus pulang menaiki kendaraan umum, jika tidak ada ya harus rela berjalan kaki.
“Din!!” kudengar seseorang meneriaki ku dari kejauhan. Ku lihat ke belakang dan ternyata seseorang yang tidak ingin kulihat. Aku melengus berjalan tak menghiraukannya. Aku semakin mempercepat jalanku.
“Din, tunggu!” ku dengar lagi suara itu. Kampret! Gerutu ku pelan. Kenapa sih harus ada dia. Aku sudah lama tak ingin melihat wajahnya. Ku  dengar suara sepatu seseorang berlari ke arahku. Dengan berusaha tenang, aku tetap melanjutkan perjalananku berharap sebuah taksi lewat agar segera berakhir drama bodoh ini.
“buang saja gengsimu itu, ayo ku antar pulang.” Dia menarik tanganku, hingga ku rasakan ada sesuatu yang bergetar hebat di dadaku. Tak terasa kasar, hanya saja aku tak ingin mengingat tentang ini. “sebentar lagi ada taksi lewat, aku akan naik taksi jadi tolong lepaskan tanganmu!” ku hempaskan tangan itu hingga terlepas.
Sebenarnya aku benci mengingat ini. Sudah sejak lama aku berusaha lari, dan setelah aku berhasil dia malah datang seenak jidatnya memberi pertolongan yang entah apa maksudnya. “aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudahlah anggap saja ini permintaan maafku. Hei,  berhenti dulu.” Aku menghentikan langkahku. Seketika darahku naik mendengar ucapan yang seakan aku adalah pihak yang bersalah.
“apa yang barusan kamu katakan? Permintaan maaf? Permintaan maaf seperti apa yang kamu maksudkan? Hei! Dengar ya Dim, kamu pergi ninggalin aku tanpa aku tau salahku apa sama kamu! Aku pergi ke rumah kamu, dan kulihat kamu masuk ke dalam mobil bersama seorang gadis yang sangat aku kenal. Lalu setelah itu kamu hilang bagai ditelan bumi! Dan… dan…” aku menghentikan ucapanku, menarik nafas dalam-dalam takut air mataku jatuh hanya karena orang yang tidak mengerti arti ketulusan.
“Din, itu sudah berlalu sangat lama. Aku minta maaf karena aku pergi tanpa pamit. Tapi malam ini aku hanya ingin menolongmu, ini sudah sangat larut dan kamu itu perempuan, aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian seperti ini.”
“bukankah dulu aku sudah sering seperti ini? dan kau sudah sering membiarkan ku pulang sendiri. Sudahlah, aku sudah memaafkan mu. Sekarang pergi saja seperti kau dulu menghilang tanpa kabar dan jangan pernah menoleh pada ku lagi.” Aku beranjak pergi meninggalkan Dimas. Ku hempaskan kakiku menginjak kubangan lumpur sisa hujan tadi. Aku tak mendengar langkah kakinya mendekat, berarti dia memang tidak lagi mengejarku. Aku berharap hujan segera turun agar tak ada yang melihat air mataku luruh karena laki-laki yang tidak pernah menepati janji.

Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Setelah bertahun-tahun dia menghilang, tiba-tiba dia datang menawarkan bantuan  dan meminta maaf. Berharap semuanya baik-baik saja, memang dia pikir dia siapa. Anak jendral? Anak presiden? Dasar laki-laki!

Rabu, 11 Mei 2016

Tentang LDR'ers

Hai gaes. udah lama gak nyapa nih, soalnya lagi sibuk-sibuknya kuliah.
malam ini gue mau berbagi cerita tentang LDR lagi nih. Baydewey, kalian udah berapa lama LDR? gue? gue udah setahunan ini LDR sama do'i. Gue akuin gue dulu juga pernah LDR, tapi dulu banget. Jaman Setia Ben masih pake nama ST12. Iya, jaman-jaman kebodohan dulu. tapi rasanya beda, mungkin karena dulu gue masih bocah kali ya, pacaran juga cuma sekedar status biar dianggap gaul.
sekarang LDR gue lebih ketat, kayak diawasin polisi 24 jam gue, kemana-mana selalu laporan dulu. Capek si. tapi ya gimana? namanya juga sayang. Asal dia disana juga jaga hatinya buat gue, gue si gak masalah. Lagian gue juga setia kok disini. gue udah insaf, udah gak kayak kemaren-kemaren lagi, gue udah "move on" men.
Oh ya gaes, gini ya, kata orang 98% LDR di dunia ini gak berhasil. tapi gue yakin, kita masih bisa nembus angka 2% itu untuk mengalahkan 98% tadi. Kunci utama memang harus saling percaya gaes antara lo sama do'i. Terus kalo bertengkar? ya salah satu diantara kalian harus mengalah, jangan pernah gengsi buat bilang "maaf sayang, aku yang salah". Emang si gak selamanya kita harus ngalah, tapi kalo udah berjam-jam kalian bertengkar dan nyaris berakhir tapi kamu masih pengen hubungan kalian dipertahanin, apa salahnya buat bilang maaf. kata maaf bukan berarti kalian kalah gaes, hanya saja untuk mempertahankan kita harus sedikit berkorban. Dan jangan lupa, kejutan-kejutan kecil. walau itu hanya sepotong cupcake yang kalian berikan ke do'i, namun dengan cara yang spesial, do'i akan selalu kangen gaes, beneran deh (soalnya pacar gue suka gitu, dulu). atau mungkin dengan cara kalian tiba-tiba dateng ke kotanya tanpa sepengetahuan dia, dia akan terkejut dan terkesan, terlebih lagi jika itu hari ulang tahunnya. Do'i gak akan bisa lupa loh gaes, percaya sama gue.
Gue berani bilang gini ke kalian, karena gue juga gini gaes. Yah, walaupun sebernanya gue orangnya gengsian. tapi sebisa mungkin gue hilangin rasa gengsi itu demi keutuhan rumah tangga LDR kami (cielah bahasanya).
jadi gitu ya gaes penggalan cerita gue di edisi "Tentang LDR'ers" ini. See you next time gaes ( kalo lagi ada kuota).

Dear Mantan (late post)

Hai Tan, apa kabar sekarang?
Oh ya. Malam ini aku tiba-tiba keinget sama kamu loh.
Masih inget gak, dulu kita sering melakukan hal gila? Hal yang gak pernah pasangan lain lakukan?
Kita pernah keluar kota gak bawa uang sama sekali. kita pernah jalan-jalan Cuma bawa uang sepuluh ribu. Kita pernah ke pantai bareng, sambil makan es krim, kita pernah keluar kota tapi gak pake helm. Kita pernah konfoy ujan-ujan. Kamu pernah ngebiarin aku jogging sendiri subuh-subuh terus tiba-tiba kamu dateng dari belakang yang aku pikir orang jahat. Kita sering joging sore-sore. Kita pernah pergi dan pulang sekolah jalan kaki. Kita gak pernah dinner berdua. Tapi aku bahagia pernah berjuang bersama mu. Dan aku bersyukur pernah merasakan hal sulit bersama mu, meski sekarang jalan kita udah beda. Makasih Tan udah  ngajarin aku apa artinya kuat.
Makasih juga Tan udah pernah jadi bagian terindah dalam hidupku, kamu pernah menemani aku dimasa sulit ku, kamu dulu yang selalu ada saat aku mulai lelah dan menyerah. Terima kasih Tan kamu udah bilang kalo aku kuat. Dan sekarang aku sudah bisa kuat walaupun kamu gak bilang “icha kan kuat” lagi ke aku kayak yang dulu-dulu.
Aku gak pernah menyesal pernah memiliki mu Tan.
Pernah gak si kamu ngerasain kangen dan pengen ngulang kisah kita, melakukan hal gila bareng, kayak kamu panggil aku aneh karna aku beda dari semua cewek yang pernah kamu kenal, pernah gak si Tan?
Ya ampun Tan, udah lebih dari setahun kita pisah. Tapi kok cerita-cerita lama kita masih inget banget di otakku.

Kalo kamu nanya gimana aku sama pacarku yang sekarang, Aku sayang kok sama dia, dia baik, dia pengertian, dia setia, dia juga lebih bisa membahagiakan aku dengan kejutan-kejutan kecil yang sebelumnya gak pernah aku dapetin dari kamu. Tapi tetep aja kalian dua orang yang berbeda dan punya cara sendiri-sendiri yang gak pernah bisa aku lupain. Semoga kita tetap bisa berteman ya Tan. Bahagia ya sama dia yang sekarang ada di samping kamu. Kisah kita mungkin udah lewat, tapi kenangan kita akan selalu ada Tan.

06/05/2016, 23:20

Minggu, 28 Februari 2016

Obat Galau



Obat Galau Setelah Putus

Saat lo baru putus dari pacar lo, obat mujarab sakit hati karena putus cinta emang Cuma satu yaitu pacaran lagi. Lo butuh orang yang baru, suasana baru, orang yang bisa bikin lo lupa sama mantan lo. Tapi risikonya kalo abis putus lo langsung pacaran lagi lo masih teringat mantan, lo masih terbayang-bayang muka mantan, dan mungkin mantan lo masih suka ngubungin lo (atau sebaliknya).
Saat lo memutuskan untuk pacaran lagi, lo harus siap sama pacar baru lo. Dia pasti beda sama mantan lo, dan mereka ga akan pernah sama. Kalo lo berusaha buat ngelupain mantan lo, bahkan lebih keras lo pasti akan lebih ingat. Jadi biarkanlah waktu berjalan sesukanya, jangan pernah berpikir buat ngelupain si dia karena itu gak akan berhasil.
Yang namanya pacaran gak mungkin ga ngerasain bosan, jenuh, males, capek, semua pasti ada. Yang lo butuhin bukan putus terus pacaran lagi atau lebih parahnya lo cari selingkuhan, itu jangan. Kalian hanya perlu penyegaran, cobalah untuk saling memahami, belajar dari masa lalu dan sempatkan waktu untuk berdua saja untuk bercerita apa yang sudah kalian lewati bersama, apa yang sudah kalian korbankan, dan semua tentang kalian berdua.
Pacaran lagi bukan berarti gue nyaranin untuk kalian yang baru putus langsung nyari pacar, ga gitu juga. Kalo emang misalnya udah ada yang lebih baik, kenapa enggak. Iya kan? Tapi pengalaman gue, gue adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta dengan orang baru. karena itu pas putus gue selalu menyempatkan diri untuk diri gue sendiri dan temen-temen gue yang sempet hilang karena terlalu sibuk dengan sang pacar. Mantan emang gak akan mungkin pernah bisa dilupain, apa lagi kenangannya, ga akan pernah. Tapi hidup harus terus berjalan ke depan, masa lalu biarlah ia terlewati tapi masa depan harus lebih baik!

Late Post Nih. Ini Seharusnya di Post bulan April 2015 .

Senin, 04 Januari 2016

Late Post ( 17/08/2015 )



Entah kenapa udah dua hari ini rasanya uring-uringan. Pengen nangis terus, tapi gak tau nangisin apa. Rasanya kangen banget, tapi kangen sama hal apa. Kayaknya lagi kangen sama masa lalu. Iya, masa lalu. Kangen sama rumah lama, temen-temen dan sahabat-sahabat gue, sekolah juga, kelas juga, dan tak terkecuali mereka. iya, mereka itu maksudnya mantan-mantan gue. gue kangen sama semua hal yang dulu gue jalanin, gue kangen di bilang jones karena gue kelamaan jomblo, gue kangen digangguin temen-temen gue waktu lagi makan, gue kangen ributnya suasana kelas waktu lagi gak ada guru, dan gue kangen sama semua hal yang dulu gue gak suka dan sekarang malah gue cari-cari.
Gue pengen balik ke tempat gue di besarkan, tempat gue bermain waktu kecil, tempat gue dimarahin gara-gara gue bolos waktu masih SD, tempat gue dimarahin sama nyokap gara-gara gue males mandi kalo hari libur. Gue seneng disana walau pun kadang di sana banyak orang-orang aneh, banyak orang yang  bicaranya kasar, tapi gak ada tempat yang lebih indah di bandingkan tempat gue di lahirkan dan dibesarkan. Lo pasti bakal ngerasain apa yang gue rasain kalo lo udah pindah.
Awalnya gue berpikir, pindah ke tempat yang baru bisa bikin gue nyaman, bisa bikin gue tenang, pokoknya gitu-gitu deh. Tapi lama-lama malah jadi susah ngapa-ngapain, kesepian tiap hari. Sama juga kayak pacaran, lo pasti bahagia kalo punya pacar baru. kayaknya dia itu segalanya dan jauh lebih baik dari mantan lo, lo bilang gitu karena dia baru, lama-kelamaan semua bakal jadi sama aja. Sifat mereka akan jadi sama, hal yang dulu lo banggain dari dia malah jadi biasa aja. Semua hal akan terlihat biasa aja kalo kita udah sering melihat dan udah mengenalnya.
Tapi, satu hal yang harus lo tau. Setelah semua jadi biasa aja, lo gak harus cari yang lain, lo harus mempertahankan apa yang lo miliki. Kadang apa yang kita punya jauh lebih baik dari pada apa yang kita inginkan. Ih, gila, ternyata gue bijak juga ya.